Bisnis.com, JAKARTA - Tahun ini, 15 profesional muda dari berbagai latar belakang, mulai dari agensi independen hingga perusahaan global masuk daftar 30 Under 30 Indonesia dari Campaign Asia-Pacific karena kontribusi mereka yang melampaui deskripsi pekerjaan formal.
Penghargaan ini merayakan profesional muda yang tidak hanya menunjukkan potensi, tetapi sudah memberikan dampak nyata bagi industri marketing, media, teknologi, dan komunikasi di Asia-Pasifik.
Salah satunya adalah Dicky Ahmad Ghiffari, yang dikenal dengan pendekatan kreatif dan strategis dalam membangun kemitraan komunikasi berbasis nilai.
Ketika Visinema, salah satu rumah produksi film di Indonesia, mencari momentum untuk memperkenalkan film animasi Jumbo kepada publik, pendekatan yang diambil Dicky tidak dimulai dari spreadsheet anggaran. Ia justru memulai dari sebuah cerita.
Dicky melihat potensi pada kreator digital Abe Cekut dari akun @abe_Daily. Alih-alih menjalankan kampanye berbayar, ia memposisikan film tersebut sebagai pengalaman pertama Abe menonton di bioskop, cerita sederhana yang kemudian dibagikan kepada lebih dari delapan juta pengikutnya.
Hasilnya melampaui ekspektasi. Kolaborasi tersebut menjadi viral tanpa biaya promosi, dan turut membantu Jumbo melanjutkan perjalanannya menjadi film animasi Asia Tenggara dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa.
Pendekatan tersebut kemudian berkembang menjadi model Value-Based Partnership yang diterapkan Dicky di berbagai proyek komunikasi. Melalui model ini, ia berhasil menghasilkan lebih dari IDR 1,5 miliar PR Value dan 4,6 juta impresi dari 13 intellectual property berbeda.
Premisnya sederhana: ketika brand, kreator, dan cerita memiliki nilai yang selaras, dampak komunikasi dapat tercipta secara organik—bahkan tanpa bergantung pada belanja iklan yang besar. Pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah industri yang masih sering mengukur keberhasilan PR dari ukuran anggaran.
Di Gushcloud Indonesia, kontribusi Dicky juga terlihat pada sisi bisnis. Ia memimpin pitch yang menghasilkan retainer PR pertama perusahaan untuk klien teknologi global, sebuah langkah yang mengubah divisinya dari fungsi suportif menjadi unit penghasil revenue.
Momentum tersebut berlanjut pada 2025 ketika dua retainer tambahan berhasil diamankan. Pada tahun yang sama, Dicky juga meraih Bronze Medal PR Rookie of the Year 2025 serta peringkat ketiga di Digital PR Excellence Awards 2025.
Bagi Dicky, dampak tidak hanya diukur dari kampanye yang berhasil, tetapi juga dari bagaimana sebuah tim berkembang. Di dalam organisasi, ia secara aktif mengajak anggota tim junior terlibat langsung dalam negosiasi dan presentasi klien. Tujuannya bukan sekadar memberi tanggung jawab, tetapi membuka ruang belajar dari proses yang nyata.
Ia juga berkolaborasi dengan tim HR dan Legal untuk mendorong implementasi SOP anti-pelecehan seksual di perusahaan, memastikan kebijakan tersebut dipahami sebagai budaya kerja melalui workshop edukatif bersama organisasi eksternal.
VP of Operations di Gushcloud International, Oddie Randa, menyebut Dicky memiliki kualitas yang jarang ditemukan pada profesional muda. “Dicky memiliki kombinasi ketajaman kreatif, kedisiplinan strategis, serta kematangan interpersonal yang melampaui pengalaman profesionalnya,” ujarnya.
Masuknya Dicky Ahmad Ghiffari dalam daftar 30 Under 30 Indonesia dari Campaign Asia-Pacific menjadi pengakuan atas perjalanan tersebut—namun baginya, pencapaian ini bukanlah tujuan akhir.
“Saya bersyukur bisa memenangkan penghargaan ini bersama 14 talenta hebat lainnya. Bagi saya, pencapaian ini bukanlah akhir, tapi awal mula untuk berbagai proyek impian saya lainnya. Melakukan sesuatu dengan objektif yang jelas dan menciptakan impact yang positif adalah tujuan yang selalu saya tanamkan setiap sebelum melangkah,” ujar Dicky.
Di industri yang masih sering mengaitkan pengaruh dengan senioritas, Dicky ingin mencoba menunjukkan sesuatu yang berbeda: bahwa dampak bisa dimulai lebih awal dan terkadang, dari sebuah cerita sederhana yang dibagikan kepada dunia.