IHSG anjlok memaksa manajer investasi mengatur ulang portofolio reksa dana. Fokus pada saham defensif dan fundamental kuat untuk mengatasi volatilitas pasar. [1,060] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Koreksi dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) belakangan ini memaksa kalangan manajer investasi untuk memutar otak dalam menyesuaikan portofolio reksa dana saham maupun campuran.
Siasat saat pasar bergejolak tentunya diharapkan mampu membuat daya tarik reksa dana kian berpendar saat indeks acuan luluh lantak beberapa hari belakangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 6,84% menjadi 8.329 pekan lalu pada periode 23-30 Januari 2026. Pelemahan IHSG tersebut sudah mulai melambat, dengan IHSG ditutup menguat 0,30% atau 24,11 poin menjadi 8.146,71 pada perdagangan Rabu (4/2/2026).
Adapun, penekan utama IHSG berasal dari pengumuman MSCI yang membekukan rebalancing indeks untuk saham-saham asal Indonesia. Kejatuhan IHSG bahkan memicu trading halt selama dua hari berturut-turut.
Alhasil, reksa dana saham yang sempat tercatat memberikanreturntertinggi, kompak lesu pada 28 Januari 2026 atau saat MSCI menyampaikan penangguhanrebalancingindeks kepada BEI.
Sucorinvest Maxi Fund misalnya, yang sepanjang satu tahun belakangan mengalami kenaikan harga hingga 70,10%, turut mengalami koreksi hingga 7,34% pada periode 28 Januari–2 Februari 2026. Tidak heran, saham-saham yang tergabung dalam reksa dana ini antara lain ANTM, himbara, BUMI, ICBP, atau TINS, yang sebagian besar mengalami koreksi dalam.
Begitu juga dengan kinerja reksa dana saham TRIM Syariah, yang sepanjang satu tahun belakangan telah naik 31,20%, kini terkoreksi 15,59% pada periode yang sama. Saham-saham yang tergabung dalam reksa dana ini antara lain BUMI, BRMS, INCO, atau ANTM.
Kini, segenap upaya disiapkan manajer investasi untuk dapat mengungguli kinerja indeks acuan. Presiden Direktur Korea Investment Management (KIM) Indonesia Arfan Fasri Karniody, menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya menjaga kinerja reksa dana saham melalui pengelolaan portofolio yang disiplin, adaptif, dan berbasis fundamental.
Di tengah tekanan terhadap indeks acuan, Arfan menegaskan bahwa KIM akan terus menerapkan pendekatan yang aktif dengan fokus pada pembobotan saham yang memiliki fundamental kuat danundervalued.
“Rebalancing portofolio merupakan salah satu strategi untuk menjaga kinerja portofolio dengan mengurangi bobot pada saham yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap aliran dana asing dan indeks global,” katanya kepadaBisnis, dikutip Rabu (4/2/2026).
Dalam memilih saham, KIM cenderung konsisten untuk menghindari sektor komoditas. Dalam wawancaraBisnisterhadap Arfan pada awal tahun ini, Direktur Utama KIM itu menegaskan bahwa pihaknya memang cenderung memasang sikap yang berhati-hati terhadap saham dari sektor komoditas.
Kini, selepas amblesnya indeks, sektor komoditas masih belum berada dalam daftar pantauan manajer investasi asal Korea itu. Beberapa sektor yang menarik perhatian KIM antara lain perbankan, konsumer, infrastruktur, hingga telekomunikasi.
“Melihat peningkatan volatilitas pasar saham yang cukup ekstrim dalam beberapa waktu terakhir, kami menilai bahwa saham-saham yang bersifat defensif seperti sektor perbankan, konsumer, dan infrastruktur/telekomunikasi menjadi pilihan yang lebih menarik saat ini,” katanya.
Dalam wawancaranya kepadaBisnispada 9 Januari 2026, kecenderungan KIM untuk memilih sektor telekomunikasi didasarkan pada sifat defensif saham-saham di dalamnya dan berorientasi pada permintaan domestik.
Sementara terhadap sektor konsumer, kendati masih dibayangi pelemahan daya beli masyarakat, KIM menilai sektor ini cukup prospektif seiring dengan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai relatif ekspansif.
“Sebaliknya, kami cenderung lebih berhati-hati terhadap sektor berbasis komoditas yang sangat sensitif terhadap dinamika global dan berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi dalam kondisi ketidakpastian,” katanya saat itu.
Di satu sisi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi, menerangkan bahwa di tengah kondisi saat ini, pihaknya akan lebih fokus memberikan eksposur yang lebih besar terhadap emiten dengan fundamental yang baik. Namun, dia menegaskan bahwarebalancingsecara khusus terhadap kasus ini tidak dilakukan Batavia.
Upaya pengelolaan portofolio hanya dilakukan dengan pembobotan saham dalam reksa dana mereka sesuai dengan analisis fundamental dan teknikal yang dilakukan Batavia.
“Jadi kami rasa melewati IHSG bukan lagi target utama kami. Fokus kami lebih ke pemilihan emiten berkualitas, secara profit, secara pertumbuhan, secaraasset quality, secara prinsip-prinsip investasi yang memang sudah menjadi filosofi di tempat kami. Rebalancing besar-besaran atau rebalancing secara khusus nggak ada,” tegas Eri kepadaBisnis, Rabu (4/2/2026).
Terhadap sektor-sektor yang menarik perhatian Batavia dalam meracik reksa dana antara lain komoditas, telekomunikasi, hingga konsumer. Eri memprediksi, ketiga sektor itu memiliki pertumbuhan yang baik, resilien, hingga berkelanjutan.
Dengan strategi tersebut, Batavia cukuppedemenorehkan AUM yang bertumbuh di akhir tahun, meskipun tantangan serius menghantui kinerja industri reksa dana awal tahun ini.
Hal itu sesuai dengan reksa dana Batavia Dana Saham yang memiliki eksposur yang cukup besar terhadap saham-saham himbara, ASII, CMRY, KLBF, MAPI, TINS, atau TLKM.
“Ya itu tiga sektor yang kami rasa pertumbuhannya cukup bagus,resilient, dan mungkin kalau telekomunikasi, sedikit lebihsustainatau lebih kestabilityyang kami coba lihat,” katanya.
Prospek Reksa Dana Campuran
Sementara itu, kalangan manajer investasi cukup pede terhadap pertumbuhan reksa dana campuran. Kendati kondisi pasar saham tengah lesu, tetapi komposisi surat utang yang stabil dinilai tetap mampu memberikan imbal hasil yang signifikan terhadap laju reksa dana.
Batavia Prosperindo misalnya, tidak berencana melakukan rebalancing terhadap reksa dana campuran mereka. Menurutnya, pasar surat utang tengah masuk dalam fase reverse dari sisi biaya lantaran siklus suku bunga telah berada di ujung masa penurunan.
“Jadi kami rasa, bonds lebih ke arah netral. Jadi kami juga tidak rebalancing secara signifikan ke obligasi, lebih ke market dynamics saja antara bonds dan equity,” tegasnya.
KIM Indonesia, menilai komposisi surat utang dan saham dalam reksa dana campuran mereka telah cukup optimal untuk menjaga stabilitas nilai aktiva bersih atau NAB.
Dari sisi pasar obligasi, ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan pada tahun ini masih menjadi katalis penting bagi kenaikan harga obligasi, yang dinilai dapat mengompensasi penurunan di sisi saham.
“Sementara di sisi ekuitas, kami masih mencermati perkembangan serta keputusan MSCI yang dijadwalkan pada Mei, mengingat keputusan tersebut berpotensi memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto turut menerangkan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk memperbesar eksposur terhadap obligasi di tengah lesunya pasar saham.
Rudiyanto menilai, terdapat potensi tekanan harga karena pada awal tahun terdapat penerbitan obligasi pemerintah yang cukup signifikan.
Selain itu, terhadap pemilihan saham, Rudiyanto menerangkan bahwa pihaknya juga akan mengelola portofolio dengan fokus pada value investing dan melihat story perusahaan. Di tengah kondisi lesunya pasar saham, Panin justru menambah eksposur terhadap saham blue chip.
“Saat ini kami melihat ada potensi tekanan harga karena awal tahun ada front loading penerbitan obligasi pemerintah. Di level yield yang wajar, murah, baru kami akan menambah [obligasi],” katanya, dikutip Rabu (4/2/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.