Bisnis.com, PASURUAN – PT Satoria Aneka Industri (Satoria Pharma) resmi mengoperasikan mesin produksi (line) ke-4 di pabriknya, jalan Raya Kejayan-Purwosari Km 16, Kabupaten Pasuruan, JawaTimur. Dengan begitu perusahaan mencatatkan diri sebagai produsen cairan infus terbesar di Indonesia.
Peresmian yang dilaksanakan pada Selasa (28/4/2026) tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) William Adi Teja, Bupati Pasuruan H. M. Rusdi Sutejo, serta jajaran pejabat pemerintah daerah.
CEO & Founder Satoria Group, Alim Satria dalam sambutannya menyampaikan dengan beroperasinya Line ke-4 tersebut kapasitas produksi perusahaan mencapai 230 juta botol per tahun.
"Dengan kapasitas tersebut, kami menjadi pabrikan infus terbesar di Indonesia. Ini sejalan dengan pertumbuhan bisnis kami yang konsisten di kisaran 25 persen per tahun, serta meningkatnya kebutuhan pasar infus nasional," ujarnya.
Alim Satria menegaskan ekspansi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi kemandirian industri farmasi nasional sekaligus memastikan ketersediaan produk yang berkualitas dan terjangkau.
Satoria Pharma juga telah menyiapkan rencana pembangunan Line ke-5 dengan kapasitas tambahan 170 juta botol per tahun. Jika terealisasi pada 2028, total kapasitas produksi akan mencapai 400 juta botol per tahun.
"Peresmian ini bukan hanya soal peningkatan kapasitas, tetapi juga kemajuan dalam manufaktur cerdas dan pengendalian kualitas. Ke depan, kami akan mengembangkan infus terapeutik tingkat tinggi dan infus nutrisi," papar Alim Satria.
Satoria Pharma juga menargetkan penawaran saham perdana (IPO) pada 2027 guna memperkuat struktur permodalan dan memperluas penetrasi ke pasar ethical serta sektor alat kesehatan.
Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, menyambut positif langkah ekspansi Satoria Pharma. "Kebutuhan cairan infus di Indonesia cukup besar. Dengan populasi sekitar 280 hingga 300 juta jiwa, kebutuhan mencapai 388 juta botol per tahun. Ini peluang besar sekaligus tantangan untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi," jelasnya.
William mengungkapkan meskipun 70-80 persen bahan baku obat masih bergantung pada impor, cairan infus menjadi salah satu produk yang memiliki potensi bahan baku lokal, seperti garam farmasi. Saat ini terdapat empat industri garam farmasi nasional, dimana tiga di antaranya berada di Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut ekspansi Satoria Pharma tersebut sebagai bagian dari upaya substitusi impor dan penguatan ekonomi daerah.
"Satoria merupakan kekuatan ekonomi bagi Pasuruan. Kami berharap ekspansi ini terus berkembang dan mampu mendukung kebutuhan rumah sakit, khususnya milik Pemprov Jawa Timur," ujarnya.
Khofifah menambahkan, Pemprov Jawa Timur saat ini mengelola 14 rumah sakit, termasuk RSUD Dr. Soetomo, yang memiliki kapasitas tempat tidur terbesar di Indonesia. Untuk itu ia mendorong adanya kerja sama strategis dalam pemenuhan kebutuhan infus bagi fasilitas kesehatan tersebut.
Managing Director Satoria Pharma, Adi Pranoto Alim menyebut saat ini perusahaan telah memasok sekitar 50 persen kebutuhan infus nasional dan menjangkau sekitar 2.700 dari total 3.400 rumah sakit di Indonesia.
"Jika kapasitas sudah optimal dan kebutuhan dalam negeri terpenuhi, kami akan memperluas pasar ekspor ke Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Permintaan dari luar negeri sebenarnya sudah cukup tinggi," jelasnya.
Keunggulan produk Satoria adalah penggunaan teknologi ESBM (Extrusion Stretch Blow Molding) memungkinkan efisiensi biaya produksi hingga 40-50 persen dibandingkan teknologi konvensional, sehingga meningkatkan daya saing produk di pasar global.