Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa FMCG Tanah Air PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) tercatat rajin melepas lini usahanya dalam beberapa tahun terakhir. Teranyar, Unilever tengah dalam tahap melepas bisnis teh bermerek Sariwangi ke pelukan Grup Djarum.
Sederet aksi pelepasan bisnis itu diklaim oleh manajemen sebagai upaya Unilever untuk lebih berfokus pada lini bisnis utama perseroan. Dus, aksi pelepasan bisnis ini disebut tidak memberikan dampak negatif bagi kinerja perseroan ke depannya, melainkan justru memberikan nilai lebih bagi para pemegang saham dan kinerja UNVR.
Pada 2018 misalnya, Unilever memutuskan untuk menjual bisnis margarin danspreadsdengan nilai transaksi jumbo mencapai Rp2,65 triliun. Beberapa merek ternama seperti Blue Band Master dan Blue Band, Minyak Sarmin, Blue Band Gold, atau Frytol akhirnya tidak lagi dalam genggaman UNVR.
Aksi korporasi itu sebetulnya sejalan dengan keputusan Unilever global pada 2017 yang sepakat untuk menjual sejumlah merek ternamanya ke perusahaan asal AS, KKR & Co senilai US$8,04 miliar.
“Pada 15 Desember 2017, Unilever N.V. dan Unilever Plc menerima tawaran mengikat dari Sigma Bidco B.V. sehubungan dengan pembelian bisnis Spreads global milik Grup Unilever, termasuk aset kategorispreadsdi Indonesia yang dimiliki oleh Perseroan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis (24/5/2018).
Alhasil, Unilever Indonesia segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) saat itu untuk meminta restu pemegang saham dalam rencana serupa Unilever global.
Jual Bisnis Es Krim
Tidak berselang lama, Unilever Indonesia kembali berencana untuk melepas bisnis es krimnya kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia. Perjanjian pengalihan bisnis itu telah berlangsung pada 22 November 2024, tetapi baru terealisasi sepenuhnya pada Desember 2025.
Nilai transaksi dari perjanjian mencapai Rp7 triliun. Hal itu mencakup aset tetap dengan nilai pasar Rp2,55 triliun serta nilai buku bersih dan nilai persediaan hingga akhir September 2024 masing-masing Rp1,99 triliun dan Rp172,79 miliar.
Manajemenmenjelaskan penjualan ini sejalan dengan rencana Grup Unilever untuk memisahkan bisnis es krim global sehingga memungkinkan UNVR merealisasikan nilai investasinya dalam bisnis es krim di Indonesia.
“Dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang sahamnya dalam jangka pendek, serta berfokus kembali pada bisnis intinya yang tersisa untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” kata manajemen dalam keterbukaan informasi.
Direktur Keuangan Unilever Indonesia saat itu, Vivek Agarwal menjelaskan bahwa spin-off bisnis es krim di Indonesia berpeluang dilakukan lantaran memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan unit bisnis lainnya, mulai dari saluran distribusi hingga metode penyimpanan.
Oleh karena itu, dengan memisahkan unit bisnis tersebut secara mandiri, pelayanan dalam memenuhi kebutuhan es krim akan menjadi lebih baik ke depan.
“Jadi itu adalah maksud dari pemisahan yang sedang dilakukan di tingkat global. Juga luas operasi ini akan dilakukan dan kami mencoba melakukan inovasi,” kata Vivek.
Dalam catatan Bisnis, langkah pemisahan unit bisnis es krim menjadi salah satu manuver dari bos baru Unilever Plc Hein Schumacher yang ingin membalikkan kinerja buruk perusahaan.
Divisi bisnis bernilai US$18 miliar itu merupakan rumah bagi merek-merek seperti Cornetto, dan Magnum. Mantan pimpinan Unilever Paul Polman menjulukinya sebagai salah satu kisah sukses terbesar yang pernah ada di pasar barang konsumen.
Pemisahan bisnis es krim merupakan salah satu bagian dari rencana panjang Schumacher untuk mendorong pertumbuhan, meningkatkan keuntungan dan menghilangkan warisan ekspansi berlebihan, serta kegagalan merger dan akuisisi.
Saat itu, produk es krim milik Unilever Indonesia mencakup jenama Walls, Cornetto, Feast, Magnum, Paddle Pop, Vienetta, sampai dengan Populaire.
Lepas Teh Sariwangi ke Grup Djarum
Teranyar, Unilever secara resmi memberikan pengumuman terhadap aksi divestasi bisnis dengan merek Sariwangi. Aksi itu telah melalui penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (BTA) yang ditandatangani Unilever dengan PT Savoria Kreasi Rasa.
Kedua belah pihak telah menyepakati harga divestasi di level Rp1,5 triliun. Harga divestasi itu masih di luar pajak yang berlaku.
“Kami yakin transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis SariWangi untuk fase pertumbuhan berikutnya. Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Presiden Direktur Unilever Benjie Yap, Rabu (7/1/2026).
Merek teh Sariwangi sebetulnya telah menemani perjalanan Unilever Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Diakuisisi sejak 1989 dari tanganPT Sariwangi Agricultural Estate Agency, Sariwangi telah menjadi salah satu merek andalan Unilever di segmentasi minuman.
Adapun nilai transaksi ini disebut mencerminkan 45% dari ekuitas Unilever berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September 2025. Besaran aset Sariwangi juga mencerminkan 2,5% terhadap total aset perseroan.
Sementara itu, laba bersih Sariwangi disebut berkontribusi 3,1% terhadap laba bersih perseroan. Terhadaptop line, Sariwangi disebut memiliki pendapatan 2,7% dibandingkan pendapatan usaha UNVR.