Bisnis.com, JAKARTA - Proses pemugaran rumah bersejarah milik maestro lukis Raden Saleh yang berlokasi di Cikini, Jakarta Pusat, telah berlangsung sejak 2023 lalu. Bangunan tersebut dipugar agar wujudnya kembali pada kondisi aslinya saat dibangun pada era 1860-an.
Hingga saat ini, proses pemugaran masih berlangsung. Menurut Arya Abieta selaku arsitek konservasi rumah Raden Saleh, jika tak ada aral melintang, pemugaran ditargetkan akan selesai pada akhir tahun nanti.
Saat selesai nanti, rumah yang kini asetnya dimiliki Yayasan Kesehatan PGI Cikini bakal kembali dihidupkan kembali dengan fungsi baru. Meski demikian, pemanfaatannya tetap berprinsip untuk melindungi nilai sejarah dan mempertahankan warisan cerita yang menjadi bagian dari perjalanan bangunan tersebut.
"Dulu Rumah Raden Saleh awalnya benar-benar digunakan sebagai rumah tinggal. Ada kamar tidur, hall utama, dan sebagainya. Nanti, dengan fungsi barunya akan jadi function hall, di depan dan dalamnya," kata Arya dalam diskusi "Resilience Rumah Raden Saleh" pada acara Jakarta Future Festival 2026, Sabtu (6/6/2026).
Arya mengatakan bahwa function hall yang tengah disiapkan akan mengusung standar internasional. Untuk memenuhi standar tersebut, berbagai aspek penunjang seperti sistem pencahayaan, tata suara, pendingin ruangan, hingga fasilitas pendukung lainnya akan dirancang dan dilengkapi secara optimal.
Sementara itu, sejumlah ruangan berukuran lebih kecil akan difungsikan sebagai ruang rapat. Di bagian belakang, tepatnya di bangunan dua lantainya akan dimanfaatkan untuk hal lain. Area atasnya akan difungsikan sebagai area F&B, sedangkan lantai bawah akan diisi berbagai fasilitas pendukung, termasuk toilet.
Dalam rencana pengembangan saat ini, salah satu ruangan di bagian depan akan difungsikan sebagai galeri. Ruang tersebut akan menampilkan kisah perjalanan bangunan, mulai dari sejarah awal berdirinya hingga proses pemugaran yang telah dilakukan.
Arya mengatakan galeri tersebut akan memuat beragam koleksi dan dokumentasi menarik, termasuk berbagai temuan yang terungkap selama proses pemugaran bangunan. Salah satu yang paling menonjol adalah jejak instalasi listrik pertama di bangunan tersebut, yang ditandai dengan penggunaan jenis keramik unik yang diduga didatangkan dari luar negeri pada waktu itu.
"Perubahan-perubahan seperti jendela yang tadinya satu lalu menjadi dua atau bagian-bagian yang pernah dipotong juga akan diceritakan. Jadi pengunjung dapat memahami perjalanan bangunan ini secara utuh," imbuhnya.
Seluruh temuan bernilai sejarah itu akan diarsipkan dan dipamerkan sebagai bagian dari narasi yang disajikan di galeri. Di luar itu, Arya juga menegaskan pihaknya masih membuka ruang diskusi dan masukan dari berbagai pihak terkait pemanfaatan bangunan tersebut setelah proses pemugaran rampung.
Tantangan Baru
Dalam memugar bangunan yang telah berdiri sejak 1862 ini, Arya mengaku mendapat banyak tantangan. Terlebih bangunan tersebut tidak hanya harus dipertahankan nilai historisnya, tetapi juga beradaptasi agar tetap relevan dan dapat berfungsi sesuai kebutuhan masyarakat masa kini.
"Memang ini salah satu tantangan paling sulit. Rumah-rumah seperti ini tidak dirancang untuk teknologi modern. Bagaimana memasukkan sistem AC dan utilitas lainnya menjadi pekerjaan yang cukup rumit," tuturnya.
Arya menjelaskan bahwa sejumlah penyesuaian modern, seperti pemasangan ducting AC, memang tidak dapat dihindari dalam proses adaptasi bangunan. Meski begitu, elemen tambahan tersebut dirancang secara khusus agar tetap terlihat berbeda dari struktur aslinya, sehingga pengunjung dapat dengan mudah mengenali bagian yang merupakan hasil intervensi baru.
Dia menegaskan, prinsip utama yang diterapkan dalam pemugaran ini adalah menjaga kejelasan antara elemen asli dan elemen tambahan. Selain itu, seluruh penambahan yang dilakukan harus bersifat reversible, yakni dapat dilepas atau dibongkar kembali di kemudian hari tanpa merusak bagian asli bangunan.
"Ini merupakan etika pemugaran. Sama seperti pada pemugaran candi. Batu baru selalu diberi penanda sehingga arkeolog dapat mengetahui mana batu asli dan mana yang merupakan hasil pemugaran," jelasnya.
Selain itu, setiap tahap perencanaan pemugaran didasarkan pada proses penelitian yang mendalam, dengan mengacu pada berbagai bukti serta data historis yang tersedia guna memastikan keaslian dan akurasi hasil restorasi bangunan.