Bisnis.com, JAKARTA — Intel Corporation menjalin kemitraan dengan perusahaan milik Elon Musk, yakni SpaceX, xAI, dan Tesla untuk mengembangkan fasilitas produksi chip kecerdasan artifisial (AI) di Texas, Amerika Serikat.
Proyek ambisius yang dinamakan Terafab ini menelan nilai investasi sebesar US$25 miliar atau setara Rp425 triliun. Fokus utama kerja sama ini adalah membangun perangkat keras khusus yang diperlukan untuk memproduksi semikonduktor secara massal secara domestik.
Dalam kesepakatan tersebut, Intel berperan dalam merancang, memfabrikasi, hingga melakukan pengemasan chip berperforma ultra-tinggi. Kontribusi ini dinilai krusial untuk mengejar target kapasitas produksi daya komputasi yang sangat besar bagi ekosistem AI milik Musk.
Manajemen Intel mengonfirmasi bahwa fasilitas ini ditargetkan mampu menghasilkan daya komputasi hingga 1 terawatt (TW) per tahun setelah beroperasi penuh. Angka ini sama dengan ambisi jangka panjang Musk untuk mendukung infrastruktur pusat data dan robotika masa depan.
Kemitraan ini memberikan sentimen positif bagi emiten semikonduktor asal AS tersebut. Saham Intel terpantau menguat sekitar 3% ke level US$52,28 pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) setelah rincian kerja sama ini terungkap ke publik.
CEO Intel Lip-Bu Tan menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak dalam industri manufaktur semikonduktor saat ini. Inovasi pada level fabrikasi sangat menentukan efisiensi teknologi di masa depan, tambahnya.
“Terafab merepresentasikan perubahan langkah dalam bagaimana logika silikon, memori, dan pengemasan akan dibangun di masa depan,” tulis Tan dalam unggahan resminya di platform X dilansir dari CNET, Rabu (8/4/2026).
Teknologi semikonduktor yang dihasilkan Terafab nantinya akan menjadi jantung dari berbagai lini produk Elon Musk. Hal ini mencakup pengembangan mobil otonom Tesla, robot humanoid, hingga infrastruktur pusat data AI berskala besar.
Kehadiran Terafab di Texas juga dipandang sebagai upaya strategis untuk mengurangi dominasi Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Hingga saat ini, TSMC masih menguasai 90% pangsa pasar produksi chip canggih secara global.
Bagi Intel, bergabungnya mereka sebagai mitra utama Terafab menjadi angin segar di tengah tantangan pembangunan fasilitas fabrikasi mandiri mereka. Intel dilaporkan mengalami kendala operasional pada proyek dua pabrik di Ohio One Campus.
Meskipun menerima subsidi pemerintah yang signifikan, pembangunan di Ohio mengalami penundaan jadwal. Fabrikasi pertama yang semula ditargetkan mulai beroperasi pada 2025 kini diperkirakan baru rampung pada 2030 dan mulai beroperasi pada 2031.
Sejauh ini, total belanja modal yang telah dikeluarkan Intel untuk fasilitas di Ohio telah mencapai Rp88,9 triliun. Selain di Ohio, Intel juga tengah berupaya membangun dua pabrik di Arizona untuk bersaing dengan 70 produsen semikonduktor lainnya di wilayah tersebut.
Kemitraan dengan Musk dipandang sebagai strategi Intel untuk mengamankan pelanggan utama bagi unit bisnis foundry mereka. Intel berusaha merebut kembali posisi pemimpin pasar setelah tertinggal dari rival seperti Nvidia dan AMD yang mengadopsi model bisnis fabless.
Kendati demikian, sejumlah analis pasar modal mengingatkan adanya risiko terkait realisasi target waktu proyek ini. Rekam jejak Elon Musk dalam mengumumkan proyek ambisius sering kali menghadapi tantangan pada tahap implementasi yang memerlukan waktu lebih lama dari jadwal semula.