Bisnis.com, JAKARTA — Penampilan Incognito menjadi salah satu suguhan paling meriah pada hari pertama myBCA International Java Jazz Festival 2026. Tampil di myBCA Hall mulai pukul 21.45 WIB, grup asal Inggris Raya itu sukses menghidupkan suasana selama kurang lebih 1 jam 15 menit lewat sentuhan acid jazz yang telah menjadi ciri khasnya.
Acid Jazz atau lebih dikenal juga sebagai club jazz atau groove jazz adalah genre musik yang memadukan ritme dansa elektronik/DJ dengan unsur-unsur musik jazz, soul, funk, dan hip-hop. Aliran ini lahir di Inggris pada akhir 1980-an, mengutamakan alur (groove) yang rancak, serta sering kali menampilkan instrumen musik langsung seperti organ Hammond dan alat musik tiup
Di Java Jazz 2026, warna musik yang telah diusungnya sejak berdiri pada 1979 itu pun ditunjukkan begitu kentara. Namun, ada pendekatan yang sedikit berbeda di awal penampilan mereka di Java Jazz, yang langsung menarik perhatian penonton.
Jean-Paul 'Bluey' Maunick, selaku penggerak utama musik Incognito, memilih membuka pertunjukan dengan memperkenalkan satu per satu para musisi yang mengisi berbagai instrumen. Ia juga sempat bernostalgia dengan masa kecilnya di Kepulauan Mauritius, yang ia gambarkan sebagai wilayah penghasil tebu.
Di sana, tak sedikit orang yang menderita dan sakit, termasuk neneknya. Namun, dia ingat, ketika para musisi datang ke wilayahnya dan mulai bermain, orang-orang yang sebelumnya terbaring dan tak mampu bergerak perlahan bangkit, lalu ikut menari. Pengalaman itu begitu membekas, hingga terlintas keinginan untuk bisa melakukan hal yang sama.
"Itulah alasan saya terus bermain musik sampai sekarang, karena yang saya inginkan adalah membuat nenek saya merasa lebih baik," katanya.
Dentuman bass yang dalam kemudian mulai terdengar, disusul oleh masuknya brass section dengan karakter yang energik. Suasana yang tadinya penuh nostalgia, kini seperti sebuah pesta dansa.
Incognito membuka penampilan mereka dengan tiga nomor yang sudah cukup dikenal penonton, yakni “Don’t You Worry,” “Running Away,” dan “Can't Be a Fool.” Ketiganya langsung membangun suasana hangat dan membuat penonton larut dalam ritme yang disajikan.
Incognito kemudian melanjutkan penampilan mereka dengan membawakan lagu “Reasons to Love,” yang kembali menghadirkan nuansa hangat khas mereka di atas panggung. Suasana semakin menarik saat memasuki lagu “Still a Friend,” ketika Bluey memanggil Salwa Aristotle, seorang pemain saksofon dengan disabilitas fisik, untuk ikut tampil bersama.
Bluey kemudian membuat suasana konser menjadi lebih interaktif dengan melibatkan penonton secara langsung. Ia mengajak sisi “A” dan “B” untuk bernyanyi bersama, lalu meminta keduanya saling memberikan penilaian terhadap satu sama lain.
Namun, alih-alih memberikan apresiasi, masing-masing kelompok justru menjawab dengan seruan “boo” ketika menilai kelompok lainnya. Dia pun memberikan wejangan, perpecahan tak boleh terjadi di konsernya.
Saat dia mengajukan pertanyaan yang sama sekali lagi, suasana berubah, kali ini penonton saling merespons dengan sorakan semangat dan energi positif.
"Inilah dunia yang ingin saya tinggali, yang tak dirusak perbedaan, politik, atau apa pun. Jadi mari kita bernyanyi bersama," imbuhnya.
Beberapa lagu menarik juga dibawakan Incognito, dari "1993" hingga "Everyday", yang secara keseluruhan menghadirkan nuansa perjalanan panjang melintasi era keemasan acid jazz. Sepanjang penampilan tersebut, penonton beberapa kali ikut bernyanyi dan bergerak mengikuti groove yang mengalir tanpa putus, menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh energi di dalam venue.
Konser ini menjadi bukti bahwa Incognito bukan hanya sekadar nama besar dari era 1970-an. Mereka tetap relevan, enerjik, dan mampu menghadirkan pertunjukan yang terasa hidup di depan penonton lintas generasi. Penampilan mereka di Java Jazz Festival 2026 juga memperlihatkan mengapa grup ini masih dianggap sebagai salah satu ikon penting dalam musik acid jazz dan soul dunia