Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) mengungkapkan sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa seperti Batam hingga Makassar berpotensi berkembang menjadi hub data center baru di Indonesia.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki keunggulan strategis, baik dari sisi konektivitas, posisi geografis, hingga potensi pengembangan ekonomi digital ke depan.
Menurutnya, Batam menjadi salah satu wilayah yang paling menarik bagi investor karena memiliki kedekatan dengan Singapura, konektivitas internasional, dan posisi strategis sebagai hub digital regional.
Dia menyebut terdapat lebih dari 32 kabel bawah laut atau subsea cable yang mendarat di Batam. Selain itu, keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park juga dinilai mampu menarik minat investor data center.
“Kami melihat Batam memiliki keunggulan dari sisi konektivitas internasional dan posisinya sangat strategis untuk menjadi hub digital regional,” kata Hendra kepada Bisnis, Senin (11/5/2026).
Selain Batam, Hendra mengatakan Kalimantan juga memiliki potensi besar seiring pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kebutuhan infrastruktur pemerintahan digital di masa mendatang. Sementara itu, Makassar disebut berpotensi menjadi hub data center di kawasan Indonesia Timur karena posisinya strategis untuk distribusi trafik dan konektivitas ke wilayah timur Indonesia.
“Sementara Makassar dapat menjadi hub Indonesia Timur karena posisi geografisnya yang strategis untuk distribusi trafik dan konektivitas ke kawasan timur Indonesia,” kata Hendra.
Hendra menambahkan pelaku industri pada dasarnya menyambut positif dorongan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) agar pembangunan data center diperluas ke luar Pulau Jawa. Menurutnya, pemerataan infrastruktur digital menjadi kebutuhan strategis nasional untuk mendukung transformasi digital, layanan publik, industri berbasis data, hingga kebutuhan artificial intelligence (AI) dan cloud yang pertumbuhannya semakin pesat.
Meski demikian, dia menilai pembangunan data center tidak hanya bergantung pada lokasi strategis, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung di suatu wilayah.
“Operator dan investor tentu mempertimbangkan aspek reliability, connectivity, availability of power, serta kepastian bisnis sebelum memutuskan investasi jangka panjang di suatu wilayah,” ujarnya.
Dia menjelaskan terdapat empat tantangan utama yang masih dihadapi pelaku industri ketika ingin membangun data center di luar Jawa, khususnya di Indonesia Timur. Pertama, terkait supply energy atau ketersediaan listrik. Menurut Hendra, data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil, scalable, dan memiliki reliability tinggi. Namun, di sejumlah wilayah kapasitas daya masih terbatas dan belum memenuhi kebutuhan industri hyperscale.
Kedua, fiber connectivity atau konektivitas jaringan serat optik. Dia mengatakan kualitas dan redundansi jaringan fiber optic masih menjadi tantangan karena data center modern membutuhkan konektivitas multi-route dengan latency rendah dan availability tinggi. Di sejumlah wilayah non-Jawa, opsi carrier dan jalur redundansi juga masih terbatas.
Ketiga, talent availability atau ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Hendra mengatakan tenaga kerja dengan kompetensi spesifik di bidang data center, mulai dari facility engineering, network, cloud, hingga operations management, masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa.
Keempat, terkait kemudahan berbisnis dan kepastian regulasi. Menurutnya, investor membutuhkan proses perizinan yang efisien, kepastian lahan, insentif investasi, serta dukungan pemerintah daerah yang konsisten agar investasi dapat berjalan lebih cepat dan kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan.
Karena itu, IDPRO menilai pengembangan data center di luar Jawa perlu dilakukan secara bertahap dengan pendekatan pembangunan ekosistem, bukan hanya pembangunan gedung semata.
Hendra menambahkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PT PLN (Persero), operator telekomunikasi, dan pelaku industri menjadi kunci agar pemerataan infrastruktur digital dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.