Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Bisnis-27 ditutup berada di zona merah dalam perdagangan Selasa (21/4/2026). Meski begitu, mayoritas saham konstituen ditutup menguat, seperti AMRT hingga BMRI yang tetap cuan meski indeks terkoreksi.
Melansir IDX Mobile, indeks hasil kerja sama harian Bisnis Indonesia ini koreksi 0,33% atau 1,65 poin ke 496,58. Sebanyak 11 saham konstituen ditutup melemah, 15 saham ditutup naik dan 1 saham stagnan.
Indeks melalui perdagangan hari ini dengan transaksi 3,96 miliar saham senilai Rp6,09 triliun. Kapitalisasi indeks Bisnis-27 kini menjadi Rp3.727 triliun.
Sejumlah saham konstituen yang hari ini ditutup menguat antara lain seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang naik 2,05% ke Rp1.490, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) naik 0,50% ke Rp4.030, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 0,39% ke Rp6.500, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 1,63% ke Rp3.730.
Berikutnya, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menguat 7,48% ke Rp2.300, saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) naik 2,39% ke Rp1.715, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menguat 1,84% ke Rp6.925, dan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) naik 1,08% ke Rp7.000, serta saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) ditutup menguat 0,53% ke Rp940.
Adapun, kondisi indeks Bisnis-27 mencerminkan pasar secara keseluruhan. Hari ini indeks harga saham gabungan (IHSG) juga ditutup koreksi 0,46% ke 7.559. Pelemahan indeks komposit bertepatan dengan pengumuman review MSCI yang menyatakan akan mengeluarkan saham Indonesia yang masuk dalam daftar high shareholder concentration (HSC). Hal ini menambah sentimen konflik Timur Tengah yang menyertai pasar sejak awal tahun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan dalam pekan ini, 20-24 April 2026, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways volatile di tengah dominasi sentimen geopolitik. Kembalinya aliran dana asing juga diperkirakan belum terlalu kencang.
Secara teknikal, dia menjelaskan area 7.773 menjadi resistance terdekat yang cukup krusial, di mana jika berhasil ditembus bisa membuka ruang kenaikan lanjutan. Namun, selama masih tertahan potensi pullback tetap perlu diwaspadai. Sementara itu, level 7.308 menjadi support penting yang akan menjadi penopang apabila terjadi tekanan, terutama jika ada sentimen negatif dari global.
"Secara keseluruhan, pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal," ujarnya dalam riset mingguan, dikutip Selasa (21/4/2026).
Adapun, IHSG pekan lalu menguat signifikan ke level 7.634 atau naik 2,35%. Meski begitu, foreign flow menunjukkan adanya distribusi dari asing sebesar Rp2,4 triliun yang didominasi sektor perbankan.
Imam melihat sentimen utamanya masih didorong oleh dinamika geopolitik, khususnya konflik antara AS vs Iran. Situasinya cenderung tidak stabil, bahkan dalam waktu yang sangat dekat terjadi perubahan narasi yang cepat, sempat ada pernyataan bahwa Selat Hormuz dibuka, tapi kemudian muncul lagi laporan gangguan hingga adanya tembakan terhadap kapal.
"Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur bagi 20% distribusi minyak dunia telah memicu sensitivitas tinggi pada pasar energi global. Tekanan pasokan ini bukan sekadar sentimen, melainkan fakta nyata yang mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak tajam ke level US$102 per barel pada Maret lalu," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.