Bisnis.com, SURABAYA – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah Jawa Timur melaporkan ketersediaan minyak goreng rakyat atau Minyakita di wilayah setempat saat ini dalam kondisi menipis. Saat ini, stok yang dikuasai Bulog Jatim tercatat hanya mampu mencukupi sekitar 10% dari total kebutuhan bulanan masyarakat.
Pimpinan Wilayah (Pinwil) Bulog Jawa Timur Langgeng Wisnu mengungkapkan bahwa stok Minyakita yang dimiliki pihaknya saat ini tercatat hanya sekitar 400 ribu liter. Jumlah tersebut tampak tak ideal mengingat tingkat konsumsi masyarakat di Jawa Timur mencapai jutaan liter per bulan.
"Kebutuhan itu sekitar 4,5 juta liter per bulan. Jadi, dengan stok [400 ribu liter], saat ini memang sangat minim. Mudah-mudahan awal Mei nanti kita dapat pasokan lagi," ujar Langgeng saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2026).
Ia menyebut terbatasnya pasokan komoditas tersebut diduga disebabkan oleh suplai dari pihak produsen.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 43/2025, alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita diatur dengan proporsi 65% dikelola swasta dan 35% BUMN Pangan, yang dibagi antara Perum Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma.
Dari jatah yang diatur bagi BUMN pangan tersebut, Langgeng membeberkan bahwa secara nasional Perum Bulog hanya mendapatkan jatah Minyakita sekitar 50% yang kemudian didistribusikan ke seluruh penjuru Tanah Air. Ia menyatakan kuota yang diterima Bulog tersebut sangat bergantung pada realisasi kuota ekspor para produsen tersebut.
"Suplai dari produsen memang terbatas. Kita tidak tahu pasti kuota masing-masing produsen karena itu terkait dengan kuota ekspor mereka. Bulog hanya menerima alokasi yang ditentukan dari pusat," jelasnya.
Guna menyiasati keterbatasan stok itu, Bulog Jatim pun telah menerapkan strategi prioritas penyaluran. Untuk sementara, pasokan Minyakita difokuskan hanya untuk pasar-pasar tradisional yang terpantau dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) di seluruh Provinsi Jawa Timur.
"Strategi kami saat ini adalah mengutamakan pasar-pasar SP2KP. Nanti jika pasokan sudah kembali banyak, kemungkinan awal Mei, baru kami akan mendistribusikan lagi ke pasar non-SP2KP," tegasnya.
Meski stok terbatas dan harga minyak goreng kemasan premium cenderung naik imbas melonjaknya biaya kemasan plastik, Langgeng memastikan bahwa harga Minyakita di tingkat konsumen tetap dijaga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp15.700 per liter.
Selain masalah pasokan, Langgeng menyebut pihaknya juga terus mendorong para pengecer untuk sesegera mungkin melengkapi syarat perizinan yang diwajibkan berupa Nomor Induk Berusaha (NIB). Kepemilikan NIB menjadi krusial agar para pedagang dapat mengakses pasokan Minyakita secara resmi.
"Yang bisa dapat Minyakita itu yang sudah punya NIB. Kami terus melakukan sosialisasi dan berkoordinasi secara lanjut dengan Dinas Perdagangan untuk membantu proses perizinan para pengecer ini," pungkasnya.