Bisnis.com, SURABAYA — Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengungkapkan alasan partainya terus mendukung Prabowo Subianto dalam tiga ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) berturut-turut, meski dua di antaranya berakhir dengan kekalahan.
Menurut Zulhas, dukungan tersebut dilandasi kesamaan cita-cita, arah kebijakan, serta komitmen perjuangan yang sejalan dengan PAN.
"Kami tiga kali bersama Pak Prabowo karena kesamaan cita-cita, kesamaan kebijakan, kesamaan perjuangan. Karena modal Partai Amanat Nasional adalah kepercayaan dan loyalitas. Kita tidak bisa ngomong A pekerjaan B tidak bisa. Enggak punya wajah kami kalau kita melakukan itu," ujar Zulhas saat menghadiri Rakerwil dan Pelantikan DPW-DPD PAN di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (10/5/2026) malam.
Ia mengakui konsistensi sikap politik PAN tidak lepas dari berbagai tantangan, termasuk penurunan perolehan kursi legislatif serta kekalahan kandidat yang diusung dalam Pilpres.
"Partai kami dari nomor (posisi) lima turun ke nomor tujuh, tapi kami konsisten," tegasnya.
Zulhas yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan menyatakan PAN memilih berpihak pada kepentingan rakyat dibanding aktivitas yang merugikan masyarakat, seperti pertambangan ilegal dan penguasaan lahan secara berlebihan.
"Kita tanya kepada diri kita apa yang sudah kita lakukan. Apakah kita berpihak kepada merah-putih? Apakah kita berpihak kepada rakyat Indonesia? Atau kita berpihak kepada pelaku-pelaku ilegal mining? Perampok-perampok tanah rakyat atau kontraktor-kontraktor yang menyengsarakan rakyat? Kita tanya di mana kita berada? Kita dukung yang nyolong, yang maling, atau kita memilih berpihak kepada kepentingan rakyat? Kami memilih berpihak kepada kepentingan rakyat, walaupun tiga kali kalah dalam pilpres," ungkapnya.
Zulhas menilai Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah berupaya menjalankan reformasi agraria melalui penataan penguasaan lahan. Ia menyebut dalam waktu kurang dari setahun pemerintahan berjalan, sekitar 6 juta hektare lahan telah diambil kembali untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat.
"Tanah air harus sebesar-besarnya dipergunakan oleh rakyat Indonesia. Tidak boleh ada satu orang yang menguasai begitu luas lahan. Saya dulu minta maaf belum berhasil, tapi bahwa sekarang, tanah yang sudah diambil balik untuk rakyat, baru setengah tahun Pak Prabowo memimpin, sudah hampir 6 juta hektar yang akan dipergunakan," katanya.
Ia juga menyoroti kondisi petani yang banyak berubah status menjadi buruh tani akibat keterbatasan penguasaan lahan. Menurutnya, pemerintah berupaya mengembalikan pengelolaan sumber daya alam sesuai nilai Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945.
"Cek di Jawa Timur 70% petani berubah menjadi buruh tani karena sistem yang keliru, sistem pasar bebas. Nah, ini kita ingin memperbaiki. Kita ingin kembali kepada Pancasila, kembali kepada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, kembali kepada Pasal 33," ujarnya.
Zulhas juga mencontohkan penertiban tambang ilegal di Bangka Belitung yang menurutnya telah berlangsung puluhan tahun. Upaya tersebut, kata dia, berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara hingga ribuan triliun rupiah.
"Tambang berpuluh-puluh tahun ada tambang enggak ada izinnya. Saya dulu mau menertibkan Bangka Belitung satu minggu landing saja enggak bisa. Pesawat kami landing saja enggak bisa Bangka Belitung. Alhamdulillah dipimpin Pak Prabowo, dikepung. Perahu kecil pun tidak boleh keluar. Alhamdulillah kita menyelamatkan ribuan triliun di Bangka Belitung untuk rakyat Indonesia," pungkasnya.