Bisnis.com, JAKARTA — Impor minyak sawit India pada April 2026 anjlok 26% ke level terendah dalam empat bulan akibat lemahnya permintaan dan kenaikan harga yang membuat minyak sawit kehilangan daya saing dibanding minyak nabati pesaing. Kondisi ini berpotensi menekan ekspor sawit Indonesia mengingat India sebagai salah satu pasar utama.
Dilansir The Edge, Jumat (15/5/2026) India tercatat mengimpor 513.403 metrik ton minyak sawit pada April 2026, turun dari 689.462 ton pada Maret 2026, menurut data Solvent Extractors' Association of India.
Penurunan impor terjadi ketika penyuling di India menahan pembelian karena margin pengolahan negatif. Kenaikan harga minyak sawit juga membuat selisih harga dengan minyak kedelai dan minyak bunga matahari semakin sempit sehingga pembeli beralih ke komoditas alternatif.
Sebaliknya, impor minyak kedelai India justru naik 25% menjadi 360.350 ton, sedangkan impor minyak bunga matahari melonjak sekitar 121% menjadi 434.240 ton, tertinggi dalam 22 bulan.
Secara total, impor minyak nabati India naik 10% menjadi 1,31 juta ton karena lonjakan pembelian minyak kedelai dan bunga matahari.
India selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Karena itu, penurunan impor berpotensi meningkatkan stok di negara produsen dan memberi tekanan terhadap harga minyak sawit mentah global.
Pelaku perdagangan di Mumbai menyebut para penyuling menunggu harga minyak sawit turun sebelum kembali melakukan pembelian besar-besaran.
Selain faktor harga, permintaan minyak sawit di India juga tertekan akibat krisis gas memasak yang memukul sektor restoran dan warung makan. Kondisi tersebut mengurangi konsumsi pangan gorengan yang selama ini menjadi salah satu penyerap utama minyak sawit.
India saat ini menghadapi salah satu krisis gas terburuk dalam beberapa dekade. Pemerintah setempat memangkas pasokan gas industri dan menaikkan harga tabung gas komersial demi menjaga pasokan rumah tangga.
Tekanan terhadap impor sawit India muncul di tengah posisi negara tersebut sebagai salah satu pasar ekspor terbesar Indonesia.
Masih Jadi Tujuan Ekspor Utama RI
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan India masih menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar ketiga Indonesia pada Januari—Maret 2026 dengan nilai mencapai US$4,5 miliar atau naik 5,15% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke India meningkat US$220,5 juta secara tahunan. Sementara pada Maret 2026 saja, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke India mencapai US$1,39 miliar.
Meski demikian, perlambatan impor minyak sawit India berpotensi menjadi sinyal awal tekanan permintaan di pasar utama ekspor Indonesia, terutama jika harga global tetap tinggi dan krisis energi India berkepanjangan.