Bisnis.com, JAKARTA — BP BUMN dan Danantara resmi merombak PT Danareksa (Persero) untuk kembali ke khitahnya sebagai entitas pengelola aset (asset management) murni melalui skema integrasi manajer investasi (MI) Himbara.
Langkah transformasi itu diproyeksikan melambungkan posisi Danareksa sebagai perusahaan manajemen aset terbesar kedua di Indonesia dengan total dana kelolaan (asset under management/AUM) mencapai Rp185 triliun.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa proses pelepasan anak usaha Danareksa dijadwalkan rampung sepenuhnya pada pertengahan bulan depan. Adapun pengumuman resmi terkait dengan hasil konsolidasi tersebut ditargetkan pada 10 Mei 2026.
“Jadi nanti Danareksa itu akan menjadi asset management. Kembali ke khitahnya. Dari hasil merger empat asset management BUMN, itu akan menjadi Danareksa,” pungkas Dony dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).
Pasca-konsolidasi, Danareksa diprediksi akan mengelola dana yang sangat signifikan seiring dengan rencana penggabungan Manajer Investasi (MI) milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ke bawah payung Danareksa.
Dengan integrasi MI Himbara, Danareksa diproyeksikan mencapai Rp185 triliun. Transformasi ini bakal melambungkan posisi Danareksa sebagai perusahaan manajemen aset terbesar nomor dua di Indonesia.
“Dia tidak holding lagi, tapi merger menjadi satu perusahaan yang kuat dan akan menjadi asset management nomor dua terbesar. Sebagai gambaran, dana kelolaan MI Himbara saat ini mencapai Rp185 triliun,” tutur Dony.
Pemerintah berharap dengan peralihan model bisnis dari holding multi-sektor menjadi perusahaan pengelola aset yang terfokus, Danareksa dapat beroperasi dengan lebih fokus dan efisien. Langkah strategis ini juga ditujukan untuk mengoptimalkan nilai aset negara secara lebih profesional.
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, tiga Himbara telah menyetujui peleburan manajer investasi ke tubuh Danantara Asset Management (DAM).
PELEBURAN
Danantara disebut akan menggabungkan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) di bidang manajer investasi.
BRI sendiri dikabarkan melepas dua anak usahanya di bidang manajemen aset, yaitu PT PNM Investment Management (IM) dan PT BRI Manajemen Investasi (MI). Dua aksi pengalihan saham tersebut telah berlangsung pada 1 April 2026.
PT Permodalan Nasional Madani (PNM) juga telah meneken rencana pembelian 109.999 saham PNM IM yang sebelumnya berada dalam kepemilikannya.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan perpindahan kendali PNM IM dari BRI, seiring dengan pengalihan 99,99% saham perusahaan tersebut dengan nilai transaksi tercatat sebesar Rp345 miliar.
Adapun pada BRI MI, Danantara memboyong 65% dari total modal ditempatkan dan disetor, setara 19,5 juta lembar saham, dengan nilai mencapai Rp975 miliar. Aksi ini mengindikasikan harga pembelian sebesar Rp1.000 per saham.
“Pada tanggal 1 April 2026, BRI dengan PT Danantara Asset Management telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat dalam rangka rencana pembelian sebanyak 19.500.000 saham PT BRI Manajemen Investasi yang dimiliki perseroan,” kata manajemen dalam keterbukaan informasi.
Sejalan dengan itu, manajemen BNI menyampaikan bahwa perseroan juga telah melepas kepemilikan PT BNI Asset Management (BNI AM) kepada PT Danantara AM. Transaksi afiliasi tersebut turut terealisasi pada 1 April 2026.
Dalam transaksi tersebut, porsi saham yang dialihkan BNI kepada Danantara AM mencapai 99,90% dari total modal ditempatkan dan disetor di BNI AM. Dengan harga Rp1.000 per saham, nilai transaksi mencapai Rp359,64 miliar.
Di sisi lain, Bank Mandiri menyepakati pengalihan Mandiri Manajemen Investasi (MI) kepada Danantara AM senilai Rp1,02 triliun melalui penandatanganan PJBB pada 1 April 2026. Transaksi ini mencakup pengalihan saham milik Mandiri Sekuritas dan Koperasi Konsumen Pegawai Bank Mandiri.