Bisnis.com, JAKARTA — Rencana mogok kerja massal serikat pekerja terbesar Samsung Electronics memunculkan ancaman baru bagi rantai pasok semikonduktor global di tengah ledakan permintaan cip kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perselisihan terkait bonus kinerja membuat negosiasi antara pekerja dan manajemen kembali buntu, meski pemerintah Korea Selatan telah turun tangan sebagai mediator.
Mengutip kantor beritaYonhap, Jumat (15/5/2026), serikat pekerja terbesar Samsung Electronics memastikan tetap melanjutkan aksi mogok selama 18 hari mulai pekan depan, kendati manajemen telah mengajukan proposal baru untuk melanjutkan pembicaraan tanpa prasyarat.
Keputusan itu memperbesar risiko terganggunya produksi di perusahaan pembuat cip memori terbesar dunia tersebut.
Padahal industri semikonduktor global tengah mencatatkan lonjakan permintaan dari pembangunan pusat data AI.
Ketua serikat pekerja Samsung Electronics Choi Seung-ho mengatakan pihaknya tidak akan kembali berunding sebelum perusahaan memenuhi tuntutan utama terkait bonus berbasis kinerja.
“Kami bersedia berdiskusi setelah 7 Juni. Kami berniat menggunakan hak yang dijamin konstitusi,” katanya.
Sebelumnya, dua hari mediasi yang dipimpin pemerintah Korea Selatan berakhir tanpa kesepakatan pada Rabu (13/5/2026). Perbedaan posisi antara serikat pekerja dan manajemen menjadi pemicunya.
Perselisihan utama berkaitan dengan skema bonus berbasis laba dari bisnis semikonduktor AI Samsung Electronics yang tengah menikmati lonjakan keuntungan seiring berlanjutnya tren peningkatan permintaan global.
Serikat pekerja sebelumnya mengklaim sekitar 41.000 pekerja telah menyatakan siap mengikuti aksi mogok. Jumlah itu disebut berpotensi meningkat menjadi lebih dari 50.000 pekerja.
Risiko Mogok Buruh Samsung bagi Ekonomi Korea Selatan
Pemerintah Korea Selatan ikut menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi aksi mogok tersebut. Pemerintah memperingatkan bahwa gangguan produksi di Samsung Electronics dapat menimbulkan risiko serius terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengamat memperkirakan kerugian ekonomi Korea Selatan dapat mencapai hingga 100 triliun won atau sekitar US$66,7 miliar apabila mogok massal benar-benar terjadi.
Kekhawatiran itu muncul karena industri semikonduktor menjadi tulang punggung ekspor Korea Selatan. Pada kuartal I/2026, ekspor negara tersebut mencetak rekor US$219,9 miliar, didorong tingginya permintaan pusat data AI global.
Ekspor semikonduktor bahkan melonjak 139% secara tahunan menjadi US$78,5 miliar.
Di sisi lain, Samsung Electronics juga tengah menikmati lonjakan profitabilitas dari booming AI tersebut. Perusahaan mencatat laba operasi kuartal I/2026 mencapai rekor 57 triliun won. Sepanjang tahun ini, laba operasi Samsung diproyeksikan menembus sekitar 300 triliun won.
Dalam catatan Bisnis, cip AI menjadi salah satu lini bisnis andalan konglomerasi usaha global asal Korea Selatan tersebut. Samsung Electronics bahkan berencana mengalokasikan dana investasi lebih dari 110 triliun won atau Rp1.247 triliun untuk ekspansi kapasitas dan riset cip AI pada 2026.
Alokasi ini menjadi komitmen modal tahunan terbesar dalam sejarah perusahaan untuk mengamankan posisi terdepan di tengah ledakan permintaan teknologi global.
Keterbukaan informasi Samsung Electronics menunjukkan nilai investasi tersebut meningkat 21,7% dibandingkan realisasi belanja tahun lalu sebesar Rp1.024 triliun.
Angka ini juga menandai pertama kalinya pengeluaran tahunan raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut melampaui ambang batas 100 triliun won atau sekitar Rp1.134 triliun.
Strategi ekspansi Samsung melampaui perkiraan belanja modal Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) yang menetapkan dana sekitar US$50 miliar untuk tujuan serupa. Keputusan tersebut menandakan pergeseran fokus perusahaan dalam merespons permintaan yang didorong oleh evolusi AI.
CEO Samsung Electronics Jun Young-hyun mengatakan kemunculan agentic AI telah memicu ledakan pesanan yang sangat besar untuk memori dan penyimpanan kelas server. Perusahaan kini memprioritaskan pengembangan cip AI generasi berikutnya serta proses foundry yang lebih canggih.
"Munculnya agentic AI memicu lonjakan pesanan eksplosif, tidak hanya untuk memori bandwidth tinggi (HBM), tetapi juga penyimpanan kelas server," kata Jun sebagaimana dilaporkan The Business Times, Jumat (20/3/2026).