Bisnis.com, JAKARTA — Revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel yang berlaku pada Rabu (15/4/2026) diprediksi akan mengubah peta pendapatan emiten pertambangan di sisi hulu atau upstream.
Perubahan variabel perhitungan itu berpeluang mengerek harga jual rata-rata (average selling price/ASP) meski dampaknya akan berbeda di setiap segmen.
Berdasarkan laporan Stockbit, produsen bijih nikel kadar rendah atau limonit (kadar kurang dari atau sama dengan 1,5%) berpotensi meraup kenaikan harga yang paling signifikan. Hal tersebut didorong oleh estimasi kenaikan HPM limonit kadar 1,2% hingga 131% menjadi US$40,13 per wet metric ton (wmt).
Selama ini, transaksi bijih limonit ke pihak ketiga tergolong minim sehingga belum terbentuk harga premium di pasar. Dengan formula baru yang kini memperhitungkan kandungan mineral penyerta seperti besi, kobalt, dan kromium, produsen limonit diproyeksikan memiliki ruang pertumbuhan margin.
“Dari sisi industri, dampak revisi formula HPM bijih nikel kemungkinan cenderung positif bagi industri upstream nikel, khususnya pada produsen bijih limonit,” tulis laporan Stockbit, dikutip Kamis (16/4/2026).
Namun, realisasi keuntungan itu masih dibayangi tantangan logistik. Pasalnya, mayoritas penjualan limonit saat ini bersifat terintegrasi ke smelter HPAL dalam satu kawasan karena biaya pengiriman jarak jauh yang belum ekonomis.
Alhasil, emiten yang memiliki tambang terintegrasi cenderung hanya akan merasakan dampak secara administratif pada pelaporan konsolidasi.
Di sisi lain, untuk segmen bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, potensi kenaikan harga diperkirakan akan lebih terbatas. Selama ini, harga jual aktual saprolit di pasar sudah sering berada di atas nilai HPM atau cenderung premium.
Dengan kenaikan HPM nominal yang signifikan, premi ini kemungkinan akan menyusut sebagai penyeimbang pasar. Kenaikan ASP efektif untuk produsen saprolit pun diprediksi akan bergerak lebih moderat dari lonjakan nilai HPM.
“Akibatnya, kenaikan harga jual rata–rata efektif akan lebih moderat dibanding lonjakan HPM nominalnya. Upside tambahan berasal dari harga jual yang lebih tinggi karena memperhitungkan unsur lainnya,” tulis Stockbit.
Di tengah prospek kenaikan harga di hulu, pemerintah tetap memberikan proteksi bagi rantai pasok kendaraan listrik (electric vehicle/EV) domestik. Adapun bijih nikel kadar ≤1,5% yang dialokasikan sebagai feedstock baterai EV tetap dikenakan tarif istimewa 2% sesuai PP No. 19/2025.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.