Bisnis.com, SURABAYA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan hingga menyentuh angka Rp17.360 per dolar AS pada Jumat (8/5/2026) pukul 13.36 WIB. Kondisi ini dinilai sebagai dampak dari dinamika geopolitik global hingga penerapan sistem nilai tukar yang dianut pada masa lampau.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rudi Purwono menjelaskan bahwa fluktuasi tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan nilai tukar mengambang bebas atau free floating exchange rate yang diterapkan pemerintah RI sejak badai krisis moneter yang melanda negara-negara di kawasan Asia pada penghujung 1990-an.
"Kita ini menganut rezim nilai tukar bebas, free floating exchange rate ya. Artinya bahwa nilai tukar kita, kurs kita, rupiah terhadap US dolar yang menjadi acuan, salah satu acuannya adalah bisa terjadi mata uang itu mengalami penurunan mata uang kita yaitu depresiasi, atau mengalami penguatan apresiasi karena sudah dilepaskan sejak tahun 1998," ujar Rudi, Jumat (8/5/2026).
Tak hanya itu, Rudi juga memaparkan bahwa kondisi yang terjadi saat ini tidak terlepas dari berbagai dinamika yang mengguncang kondisi geopolitik global, mulai dari konflik di Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah.
Menurutnya, serentetan peristiwa tersebut berdampak nyata dan signifikan terhadap pasokan sumber daya energi yang krusial terhadap roda perekonomian nasional.
"Tetapi pada saat kondisi saat ini, pada saat kita berbicara tentang kondisi di Ukraina ya, kemudian di Timur Tengah ya, dan dampaknya ternyata kaitan dengan masalah keterkaitan dengan salah satu komponen yang besar di dalam kegiatan ekonomi yaitu oil atau minyak," tuturnya.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa posisi rupiah terhadap dolar AS yang berstatus sebagai mata uang cadangan dan acuan utama dunia saat ini dapat dipastikan berada pada status depresiasi karena telah melewati ambang batas dari asumsi makro yang sebelumnya telah dikalkulasikan oleh pemerintah.
"Nah, sekarang kita mengalami kondisi yang memang kalau kita hitung dari asumsi normal APBN ya, asumsi di APBN, kurs kita adalah sekitar Rp16.500, tapi sekarang sudah Rp17.000 sekian ya, [rupiah] mengalami depresiasi," ungkapnya.
Meski depresiasi rupiah kerap disangkutpautkan dengan keadaan pesimistis karena risiko inflasi dan beban impor yang tinggi, Rudi menilai ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan, terutama dalam mendorong lebih lagi kinerja ekspor terhadap komoditas unggulan dan penguatan industri dalam negeri.
"Visi yang bisa kita gali yaitu terkait dengan bahwa satu, pada saat terjadi depresiasi nilai mata uang rupiah, lebih rendah daripada mata uang dunia atau mata asing yaitu dolar, maka peluang yang pertama adalah berkaitan dengan potensi ekspor. Ya, potensi ekspor. Mungkin pengusaha banyak melihat potensi itu sebagai peluang bisnis yang ada," jelasnya.
Lebih lanjut, Rudi juga mendorong diversifikasi pasar ekspor oleh pemerintah ke negara-negara non-tradisional di kawasan Asia, Eropa, bahkan hingga Amerika Latin.
Di sisi lain, terkereknya harga barang impor akibat penguatan dolar AS seharusnya menjadi momentum bagi para pengusaha lokal untuk masuk ke dalam bursa pasar substitusi impor.
"Bila dolar menguat, maka mata uang ini berdampak kepada barang-barang luar negeri juga akan mengalami kemahalan. Harganya lebih mahal. Inilah menjadi potensi kita untuk menjadikan barang-barang yang sebelumnya kita impor, itu bisa menjadi potensi kita untuk melakukan bisnis di sana," pungkasnya.