Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) menilai industri kosmetik nasional masih menghadapi tantangan besar pada sisi bahan baku karena di tengah pertumbuhan merek lokal yang cukup pesat, sebagian besar bahan baku kosmetik di Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor.
Ketua PERKOSMI, Sancoyo Antarikso, mengatakan tingginya ketergantungan impor tidak lepas dari kompleksitas formulasi produk kosmetik.
Dalam satu SKU, kata dia, sebuah produk kosmetik bisa menggunakan 30 hingga 40 jenis bahan baku. Tidak semua komponen tersebut saat ini tersedia di dalam negeri, baik dari sisi jumlah maupun jenisnya.
Menurut Sancoyo, kondisi itu membuat produksi bahan baku lokal belum selalu layak secara ekonomi. Kebutuhan yang beragam dan volume produksi yang belum besar membuat sebagian bahan baku masih belum kompetitif jika diproduksi di pasar domestik.
Menjelaskan kondisi tersebut, Sancoyo mengatakan skala ekonomi masih menjadi tantangan utama bagi industri bahan baku kosmetik di Indonesia.
“Untuk produk kosmetik, satu SKU itu bahan bakunya bisa sampai 30 sampai 40 jenis. Karena banyak dan tidak semuanya tersedia di Indonesia, secara skala ekonomis sebagian masih belum commercially viable untuk diproduksi di sini,” ujarnya saat ditemui di pembukaan Indonesia Cosmetic Ingredients 2026, Rabu (6/5/2026).
Meski demikian, dia menegaskan industri tetap terbuka menggunakan bahan baku lokal. Syaratnya, bahan baku tersebut harus mampu memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan produsen.
Menurut dia, ada empat faktor yang selalu menjadi pertimbangan industri dalam membeli bahan baku. Empat faktor itu meliputi kualitas, inovasi, layanan, dan harga yang kompetitif.
Sancoyo menambahkan, pemerintah bersama pelaku usaha saat ini terus mendorong pemanfaatan bahan baku yang sebenarnya tersedia di Indonesia. Salah satu yang dinilai potensial ialah bahan baku berbasis palm oil.
Menekankan syarat utama agar bahan baku lokal bisa diterima industri, Sancoyo mengatakan harga tetap menjadi faktor penting selain kualitas.
“Kalau bahan baku itu kualitasnya bagus, inovatif, layanannya baik, dan harganya kompetitif, tentu industri akan memakai. Tapi jangan sampai dipaksa diproduksi di Indonesia kalau akhirnya harganya justru tidak bersaing,” katanya.
Berdasarkan catatan PERKOSMI, sekitar 80 persen bahan baku kosmetik nasional masih berasal dari impor.
Namun, angka tersebut tidak berlaku seragam pada semua jenis produk. Setiap produk memiliki kebutuhan formulasi yang berbeda, sehingga tingkat ketergantungan impornya pun tidak sama.
Sancoyo memberi contoh, untuk sabun mandi batangan, bahan utama seperti Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil pada dasarnya sudah bisa diproduksi di Indonesia.
Akan tetapi, bahan tambahan lain seperti komponen formula penunjang masih banyak yang harus didatangkan dari luar negeri.
Di sisi lain, persoalan keamanan produk kosmetik juga masih menjadi perhatian industri. Temuan produk yang mengandung bahan pewarna terlarang masih terus muncul setiap tahun di pasar.
Menanggapi hal itu, Sancoyo mengatakan PERKOSMI menempuh dua pendekatan sekaligus, yakni pembinaan kepada produsen dan edukasi kepada konsumen.
Menurut dia, pembinaan kepada produsen dilakukan secara berkelanjutan agar mutu produk tetap terjaga sejak proses produksi.
“Kami terus melakukan komunikasi, pelatihan, dan coaching clinic kepada produsen. Mulai dari pelatihan CPKB sampai pengisian Product Information File,” tegasnya.
Sancoyo menambahkan, edukasi kepada konsumen juga diperkuat melalui berbagai kanal komunikasi. Masyarakat diimbau lebih cermat memilih kosmetik yang aman, bermutu, dan tidak mudah tergiur klaim hasil instan.
Sementara itu, Corporate Director of Creative and Innovation Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, menilai pembenahan rantai pasok bahan baku menjadi pekerjaan besar industri kosmetik nasional.
Menurut dia, ketergantungan impor tidak hanya memengaruhi biaya produksi. Kondisi itu juga membuat industri rentan terhadap gejolak nilai tukar dan kenaikan harga bahan pendukung.
Menyoroti besarnya ketergantungan impor, Kilala mengatakan persoalan bahan baku perlu segera dibenahi jika industri ingin tumbuh lebih kuat.
“Sekitar 85 persen bahan baku kosmetik kita masih impor. Bukan hanya brand-nya yang harus tumbuh, tetapi rantai pasoknya juga harus dibenahi dengan benar,” kata Kilala.
Dalam kapasitasnya sebagai Technical Director Innovation Zone Award, Kilala menjelaskan ajang tersebut dibuat untuk mendorong lahirnya inovasi bahan baku baru.
Program itu menjadi ruang apresiasi bagi pelaku industri lokal maupun global yang mengembangkan inovasi bahan baku kosmetik.
Dia menyebut ada tiga kategori penilaian dalam ajang tersebut. Ketiganya meliputi active ingredients, functional ingredients, dan kategori local produce yang secara khusus menyoroti potensi bahan baku lokal Indonesia.
Menurut Kilala, perhatian terhadap bahan baku lokal menjadi penting karena Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar.
Dia menilai potensi tanaman obat, aromatik, dan bahan kosmetik di dalam negeri masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh industri nasional.
Menggambarkan besarnya potensi yang belum tergarap, Kilala menilai banyak bahan baku Indonesia justru memberi nilai tambah di negara lain.
“Indonesia punya ribuan tanaman obat, aromatik, dan kosmetik. Banyak yang justru keluar sebagai bahan mentah, diproses di luar negeri, lalu kembali lagi ke kita dengan harga jauh lebih mahal,” ujarnya.
Kilala mengatakan mimpi besar industri kosmetik nasional bukan hanya melahirkan merek lokal yang kuat. Industri, kata dia, juga ingin membangun identitas baru bernama I-Beauty atau Indonesian Beauty.
Menurut dia, cita-cita itu hanya bisa tercapai jika pengembangan bahan baku dilakukan dari hulu ke hilir. Mulai dari petani, riset perguruan tinggi, hingga proses hilirisasi industri.
Dia menambahkan, kolaborasi antara pelaku usaha, universitas, dan UMKM menjadi langkah penting agar inovasi bahan baku lokal dapat berkembang lebih cepat.
Dengan begitu, industri kosmetik Indonesia diharapkan tidak hanya kuat di sisi pemasaran, tetapi juga lebih mandiri dalam pasokan bahan baku.