Bisnis.com, JAKARTA— Pemerintah Norwegia melarang siswa sekolah dasar (SD) menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam kegiatan belajar di sekolah mulai tahun ajaran baru mendatang.
Kebijakan tersebut diambil di tengah kekhawatiran penggunaan AI generatif yang semakin luas dapat mengganggu proses pembelajaran dasar siswa, terutama dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre mengatakan pemerintah tidak menutup peluang pemanfaatan AI di sektor pendidikan. Namun, menurutnya, penggunaan teknologi tersebut harus dilakukan secara terukur agar tidak menghambat proses belajar siswa.
“Hal yang paling penting di sekolah adalah memastikan anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pemerintah memiliki ambisi besar terhadap peluang yang ditawarkan kecerdasan buatan, tetapi penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif secara tidak kritis di sekolah meningkatkan risiko siswa melewatkan tahapan-tahapan penting dalam proses belajar,” katanya dalam keterangan resmi dikutip dari laman Regjeringen.no pada Minggu (21/6/2026).
Pemerintah Norwegia menyoroti hasil sejumlah survei pendidikan internasional, seperti PISA dan PIRLS, yang menunjukkan penurunan kemampuan dasar siswa dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, satu dari empat siswa Norwegia tercatat memiliki kemampuan membaca di bawah standar minimum OECD untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. Di saat yang sama, penggunaan AI generatif di lingkungan sekolah terus meningkat.
Menteri Pendidikan Norwegia Kari Nessa Nordtun mengatakan pemerintah ingin memastikan siswa menguasai keterampilan dasar terlebih dahulu sebelum memanfaatkan AI dalam proses pembelajaran.
“Kita harus memprioritaskan hal yang paling penting terlebih dahulu: siswa harus belajar membaca, menulis, dan berhitung sebelum menggunakan AI,” katanya.
Berdasarkan rekomendasi nasional yang akan diterbitkan sebelum tahun ajaran baru dimulai, siswa kelas 1 hingga kelas 7 pada umumnya tidak akan diberikan akses untuk menggunakan AI dalam tugas maupun kegiatan belajar di sekolah.
Sementara itu, penggunaan AI di tingkat sekolah menengah pertama atau kelas 8 hingga 10 akan dilakukan secara bertahap dan terbatas. Penerapannya hanya dapat dilakukan apabila guru telah memiliki pemahaman dan kompetensi yang memadai terkait penggunaan AI dalam pembelajaran.
Adapun di jenjang sekolah menengah atas, siswa akan mulai diperkenalkan pada penggunaan AI secara tepat sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Meski membatasi penggunaan AI bagi siswa usia dini, pemerintah tetap membuka ruang bagi pemanfaatan teknologi tersebut untuk kebutuhan tertentu. Misalnya, untuk mendukung pembelajaran bahasa atau membantu siswa yang membutuhkan metode pembelajaran khusus.
“AI yang digunakan dengan baik dapat mendukung proses belajar dalam situasi tertentu, misalnya dalam pembelajaran bahasa dan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu,” ujar Nordtun.
Selain mengatur penggunaan AI oleh siswa, pemerintah juga meminta Direktorat Pendidikan Norwegia memperkuat program pelatihan bagi guru. Langkah ini dilakukan karena sejumlah penelitian menunjukkan penggunaan AI dalam pembelajaran tidak selalu berdampak positif apabila tidak disertai metode dan pendampingan yang tepat. Menurut Nordtun, siswa tetap perlu memahami teknologi AI.
“Namun, penggunaan AI secara langsung dalam kegiatan belajar belum menjadi prioritas hingga kemampuan dasar yang menjadi fondasi pendidikan benar-benar dikuasai,” ungkapnya.