Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong aksi initial public offering (IPO) pada tahun ini untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan nasional yang kian meningkat.
Airlangga mengungkapkan bahwa investasi di sektor riil telah menunjukkan tren positif dengan realisasi mencapai Rp498,79 triliun pada kuartal I/2026, tumbuh 7,22% secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan tersebut juga diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang mencapai 706.000 orang.
Sejalan dengan ekspansi itu, Airlangga memproyeksikan kebutuhan pembiayaan nasional akan meningkat menjadi Rp7.400 triliun pada 2026 dan melonjak hingga Rp9.200 triliun pada 2029. Menurutnya, pasar modal memegang peran krusial sebagai mesin penarik dana dari sektor swasta dan masyarakat.
“Capital market fungsinya untuk menarik dana untuk IPO yang mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehingga ini masih dalam pipeline. Pipeline-nya belum muncul, nah mungkin perlu dikejar ke depan karena ini salah satu sektor juga yang penting,” ujarnya di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 17 April 2026, tercatat masih ada 16 perusahaan yang mengantre dalam pipeline pencatatan saham. Namun, realisasi IPO di awal tahun ini tergolong masih lesu.
Berdasarkan dokumen pipeline BEI 2026, mayoritas calon emiten didominasi oleh perusahaan berskala aset besar di atas Rp250 miliar, yakni sebanyak 11 perusahaan. Sementara itu, 5 perusahaan lainnya masuk dalam kategori aset skala menengah dengan rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
Dari sisi sektoral, kesehatan menjadi yang paling banyak dengan 4 perusahaan. Disusul sektor consumer cyclicals (3 perusahaan), consumer non-cyclicals (3 perusahaan), infrastruktur (2 perusahaan), serta teknologi (2 perusahaan). Adapun sektor energi dan finansial masing-masing menyumbang 1 calon emiten.
Sejauh ini, realisasi penawaran umum perdana saham sepanjang tahun berjalan 2026 baru mencatatkan satu emiten, yakni PT BSA Logistic Indonesia Tbk. (WBSA) yang berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp300 miliar.
Sebelumnya, Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna menjelaskan perusahaan-perusahaan yang berada dalam antrean sebagian besar telah mengajukan IPO dengan laporan keuangan tahun buku 2025, sehingga diharapkan realisasi bisa terlaksana paling lambat Juni 2026.
“Maksimal bulan Juni 2026, nanti tergantung kecepatan mereka memberikan tanggapan kepada kita. Jika mereka segera menyampaikan tanggapan, tentu proses di kita akan lebih cepat," ujar di Kantor BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.