Bisnis.com, JAKARTA — Emiten telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tengah mendesain AdyaCakra, sebuah infrastruktur awan berdaulat (sovereign cloud) berbasis kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber nasional, untuk menangkap potensi pasar teknologi domestik yang bernilai ratusan triliun rupiah. AdyaCakra rencananya akan diperkenalkan pada 17 Agustus 2026.
Direktur Group Business Development Telkom Seno Soemadji menjelaskan perusahaan saat ini berada pada fase pematangan cetak biru dan diskusi intensif terkait pengembangan perangkat lunak tersebut.
Mengingat kompleksitas dan skala proyek, realisasi AdyaCakra dipastikan bakal menyerap alokasi modal operasional yang signifikan.
“Kita sedang dalam tahapan desain dan kami harapkan tentunya ada peranan juga dari daerah antara, baik dari pemerintah ataupun dari ekosistemnya,” ujar Seno di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Seno menambahkan keterlibatan aktif pemangku kepentingan daerah dan ekosistem digital lokal menjadi prasyarat mutlak guna menghindari tumpang tindih pengembangan teknologi.
Integrasi pendanaan dan komitmen operasional dari berbagai pihak diperlukan agar platform ini mampu mencapai skala ekonomi yang optimal sejak tahap awal peluncuran.
Dalam arsitekturnya, AdyaCakra diposisikan sebagai platform AI lokal yang mampu mengadopsi karakteristik lokal (localities) dan identitas etnis Indonesia melalui pengembangan large language model (LLM) mandiri.
Target awal implementasi komersial infrastruktur ini akan difokuskan untuk membidik pasar korporasi domestik, sebelum nantinya dieksplorasi lebih luas ke sektor instansi pemerintahan.
Telkom menargetkan proyek percontohan (showcase) AdyaCakra dapat diperkenalkan kepada publik bertepatan dengan momentum perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Setelah fase pengenalan tersebut, perseroan baru akan memulai proses konstruksi serta implementasi infrastruktur riil di lapangan.
“Harapannya mudah-mudahan kita bisa membangun showcase itu di tanggal 17 Agustus,” kata Seno.
Terkait nilai pendanaan, manajemen belum bersedia merinci angka pasti pagu anggaran yang akan dialokasikan pada tahun ini. Seno memberikan sinyal nilai investasi tersebut akan berada pada level yang sangat material bagi fundamental perseroan.
Telkom juga bersikap terbuka terhadap opsi pemanfaatan teknologi global penyerta, selama seluruh operasional, yurisdiksi hukum, manajemen enkripsi data keamanan, dan pusat data berada penuh di bawah kontrol Indonesia (Indonesian terms).
Langkah agresif BUMN telekomunikasi ini sekaligus menjadi upaya penyediaan fondasi konektivitas dasar untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% yang dicanangkan dalam program Asta Cita pemerintah. Kehadiran ekosistem digital yang berdaulat dipercaya mampu menciptakan proses demokratisasi digitalisasi yang aman di dalam negeri.
Guna mengatasi tantangan fragmentasi industri digital di mana masing-masing sektor cenderung membangun sistem sendiri, Telkom memposisikan diri sebagai penyangga utama (anchor) ekosistem berkedaulatan tinggi.
Selain mengandalkan kekuatan infrastruktur fisik, perseroan turut mengintegrasikan lembaga akademis internal di bawah grup perusahaan untuk menyuplai kebutuhan talenta digital masa depan. Melalui konsolidasi talenta, riset universitas, serta pengembang lokal, investasi material pada AdyaCakra diharapkan mampu mengembalikan kemaslahatan ekonomi digital secara proporsional kepada masyarakat.