Bisnis.com, PEKANBARU - Kinerja investasi Provinsi Riau pada Triwulan I (Januari-Maret) 2026 menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika ekonomi global.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Riau mencatat total realisasi investasi mencapai Rp12,85 triliun.
Kepala DPMPTSP Riau Vera Angelika mengatakan capaian tersebut menempatkan Riau di peringkat ke-15 secara nasional. Untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Riau berada di posisi ke-10 dengan nilai Rp9,6 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai US$197,01 juta atau setara Rp3,25 triliun.
"Realisasi investasi Triwulan I 2026 sebesar Rp12,85 triliun ini menunjukkan bahwa Riau tetap menjadi daerah yang menarik bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama di wilayah Sumatra," kata Vera Angelika, Kamis (30/4/2026).
Di regional Sumatera, Riau mencatat posisi lebih kuat dengan menempati peringkat ke-3 untuk PMDN maupun PMA. Kontribusi investasi masih didominasi sejumlah wilayah strategis.
Dumai menjadi penyumbang terbesar dengan Rp3,05 triliun atau 23,70%, diikuti Pekanbaru sebesar Rp2,55 triliun atau 19,88%.
Selanjutnya Kabupaten Indragiri Hilir Rp1,74 triliun atau 13,56%, Kabupaten Rokan Hilir Rp1,13 triliun atau 8,82%, dan Kabupaten Pelalawan Rp1,04 triliun atau 8,14%.
Dari sisi investor asing, Singapura masih menjadi mitra utama dengan kontribusi 70,77% atau sekitar Rp2,3 triliun. Disusul Malaysia, serta Bermuda, Seychelles, dan Kepulauan Virgin Inggris.
Sektor usaha yang menopang investasi mencerminkan kekuatan struktur ekonomi Riau, yakni industri makanan sebesar Rp2,82 triliun atau 21,98%, sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan Rp2,24 triliun atau 17,46%, industri kimia dan farmasi Rp1,83 triliun atau 14,21%, perumahan dan kawasan industri Rp1,12 triliun atau 8,75%, serta pertambangan Rp1,05 triliun atau 8,17%. Kelima sektor tersebut menyumbang lebih dari 70% total investasi.
Menurut Vera, arah kebijakan ke depan akan difokuskan pada penguatan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
"Kami terus mendorong pengembangan industri hilir. Saat ini DPMPTSP bersama perangkat daerah tengah mengidentifikasi produk-produk hilir dari perusahaan PMA dan PMDN, agar Riau semakin kuat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah dan ekonomi hijau," jelasnya.
Optimisme juga diperkuat dengan sejumlah proyek strategis yang tengah berjalan, seperti pembangunan Tol Lingkar Pekanbaru ruas Rengat-Pekanbaru, pengembangan Kawasan Industri Buruk Bakul, serta proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 gigawatt di Pulau Rangsang.
"Proyek-proyek ini akan menjadi pengungkit investasi ke depan, memperkuat konektivitas, menarik industri pengolahan, serta mendukung transisi energi bersih di Riau," tambahnya.
Pemprov Riau juga terus meningkatkan kualitas layanan publik melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia guna menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif.
"Dengan pelayanan yang semakin prima, kami optimistis dunia usaha akan terus berkembang dan peluang kerja bagi masyarakat semakin terbuka," tutupnya.