Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja manufaktur yang tercermin lewat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada periode Maret 2026 meski masih berada dalam tren ekspansi.
Laporan S&P Global menunjukkan indeks PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 50,1 pada Maret 2026 dari 53,8 pada Februari. S&P Global menyebut penurunan tersebut menandai perubahan kondisi operasional yang hampir stagnan di sektor manufaktur.
Sebagai informasi, PMI manufaktur dengan nilai di atas 50 menunjukkan ekspansi atau pertumbuhan, sementara data di bawah 50 menandakan kontraksi.
"Data survei bulan Maret menunjukkan penurunan output dan penerimaan pesanan baru di sektor manufaktur Indonesia kembali terjadi, dengan penurunan output tercatat paling tajam dalam sembilan bulan," ujar Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Data S&P pada Maret menunjukkan penurunan baru pada tingkat produksi setelah empat bulan bertumbuh dan kenaikan besar pada Februari lalu. Tingkat penurunan tergolong sedang namun tajam sejak Juni 2025.
Panelis melaporkan bahwa penurunan tersebut umumnya mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak perekonomian global.
Pada saat yang sama, volume permintaan baru melambat untuk pertama kali dalam delapan bulan pada bulan Maret. Penurunan hanya pada kisaran marginal, namun menggambarkan perubahan besar dari ekspansi besar-besaran pada periode survei sebelumnya.
Selain itu, produsen menyebutkan penurunan permintaan dan peningkatan kompetisi membebani arus bisnis baru. Pesanan ekspor baru juga turun setelah naik pada bulan Februari.
Adapun, penurunan permintaan mengurangi tekanan kapasitas sehingga perusahaan dapat menyelesaikan pekerjaan yang ada. Penumpukan pekerjaan turun untuk pertama kalinya sejak Oktober lalu. Sementara itu, penurunan penjualan menyebabkan kenaikan inventaris pasca produksi karena produk yang tidak terjual tertahan sebagai stok.
Sejalan dengan tren produksi dan permintaan, perusahaan menurunkan tingkat tenaga kerja dua kali dalam tiga bulan meski dalam jumlah sedikit. Pada saat yang sama, produsen mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025,
"Bukti anekdotal juga menunjukkan kenaikan harga material dan kelangkaan pasokan menjadi faktor utama di balik penurunan tersebut," lanjutnya.
Ke depannya, S&P menyebut produsen Indonesia menunjukkan optimisme terhadap perkiraan tahun mendatang. Tingkat optimisme tercatat kuat dan naik dibandingkan dengan periode Februari.
Optimisme tersebut didukung oleh harapan bahwa permintaan akan kembali membaik, serta tidak terjadi eskalasi lebih lanjut dari konflik di Timur Tengah. Meski demikian, S&P juga menyebut tingkat sentimen berada di bawah rata-rata.
"Perusahaan manufaktur tetap percaya diri bahwa output akan naik pada tahun ini. Meski demikian, data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan," pungkas Bhatti.