Bisnis.com, JAKARTA — Produsen minyak terbesar kelima di OPEC, Kuwait, memangkas produksi minyak dan operasional kilangnya menyusul hampir terhentinya lalu lintas kapal di Selat Hormuz akibat konflik yang memanas di Timur Tengah.
Perusahaan minyak nasional Kuwait Petroleum Corp. menyatakan langkah tersebut diambil setelah meningkatnya ketegangan dengan Iran, termasuk ancaman terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Pemangkasan ini dilakukan menyusul agresi berkelanjutan oleh Republik Islam Iran terhadap Kuwait, termasuk ancaman terhadap jalur aman kapal yang melintasi Selat Hormuz,” tulis perusahaan itu dalam pernyataan resminya, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (7/3/2026).
Seorang sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan pengurangan produksi dimulai sekitar 100.000 barel per hari sejak Sabtu (7/3/2026). Pemangkasan diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat pada Minggu (8/3/2026), dengan penyesuaian lanjutan bergantung pada kapasitas penyimpanan serta kondisi Selat Hormuz.
Konflik di Timur Tengah membuat lalu lintas maritim di Selat Hormuz hampir terhenti, sehingga menghambat ekspor minyak global. Kondisi ini turut mendorong harga minyak di pasar London naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, yakni mendekati US$93 per barel.
Sejumlah produsen energi besar di kawasan Teluk juga mulai menurunkan produksi. Irak dilaporkan menahan sebagian produksi sejak awal pekan ini karena tangki penyimpanan mulai penuh.
Sementara itu, Arab Saudi menutup kilang minyak terbesar mereka dan Qatar menghentikan operasi fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia setelah serangan drone.
Kuwait Petroleum juga menetapkan status kahar (force majeure) terhadap penjualan minyak mentah dan produk kilang. Klausul hukum tersebut memungkinkan perusahaan tidak memenuhi kewajiban kontrak akibat kondisi di luar kendali.
Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, Kuwait memproduksi sekitar 2,57 juta barel minyak per hari pada Januari 2026. Seluruh pasokan tersebut mengandalkan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.
Sebagai perbandingan, Arab Saudi yang merupakan produsen minyak terbesar di kawasan mulai mengalihkan sebagian ekspor minyaknya ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menghindari jalur tersebut.
Kuwait sebelumnya juga telah menurunkan tingkat pengolahan di kilang domestik karena kapasitas penyimpanan yang makin penuh. Negara itu mengoperasikan tiga kilang utama, yakni Al-Zour, Mina Al-Ahmadi, dan Mina Abdullah, dengan total kapasitas sekitar 1,4 juta barel per hari. Kilang Al-Zour merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di Timur Tengah.
Seperti negara-negara Teluk lainnya, Kuwait juga menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran yang menyasar fasilitas militer dan strategis Amerika Serikat. Kedutaan Besar Amerika Serikat dilaporkan beberapa kali terkena serangan, begitu pula pangkalan udara Ali Al-Salem yang menampung pasukan AS serta bandara utama negara tersebut.