Bisnis.com, JAKARTA – PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) telah mengumumkan panduan kinerja operasional 2026. Sepanjang 2025, emiten migas milik keluarga Panigoro ini mencatat produksi minyak dan gas sebesar 156.000 barel setara minyak per hari (barrels of oil equivalent per day/boepd).
Melansir keterbukaan informasi, MEDC menargetkan produksi minyak dan gas sebesar 165.000-170.000 boepd pada 2026. Dengan kata lain, MEDC menargetkan produksi migas tumbuh 5,8% sampai 9% pada tahun ini.
Sementara itu, penjualan listrik tahun ini ditargetkan sebesar 4.550 giga watt hour (GWh), lebih tinggi dibanding realisasi 2025 sebesar 4.371 GWh.
Tahun lalu, MEDC merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$437 juta, terdiri dari US$402 juta untuk sektor migas dan US$35 juta untuk segmen listrik. Untuk tahun ini, MEDC mengalokasikan capex yang lebih rendah, sebesar US$400-US$430 juta. Alokasi belanja modal untuk sektor migas ditambah menjadi US$415 juta, sedangkan untuk segmen listrik alokasinya dipangkas menjadi US$15 juta.
Dari sisi efisiensi dan profitabilitas operasional, MEDC tahun ini menetapkan target biaya produksi migas kurang dari US$10 per barrel oil equivalent (boe), sementara realisasi tahun lalu ada di angka US$8,6 per boe.
Kemudian, MEDC juga menetapkan target net debt to EBITDA 2026 kurang dari 2,5 kali dengan asumsi mid-cycle (kondisi wajar) harga migas setara US$65 per boe. Tahun lalu, net debt to EBITDA MEDC berada di angka 2,0 kali, baik dalam kondisi mid cycle saat harga migas di level US$65 per boe maupun ketika harganya naik di angka US$67 per boe.
Terakhir, MEDC menetapkan target return on equity (ROE) tahun ini lebih dari 15%. Perseroan menargetkan peningkatan rasio profitabilitas, saat 2025 lalu realisasi ROE berada di level 5%.
Analis BRI Dana Reksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya menjelaskan bahwa target produksi migas yang ditetapkan MEDC lebih tinggi pada 2026 sejalan dengan bertambahnya hak participating interest di Corridor PSC menjadi 70%.
"Kami memperkirakan hal ini dapat menambah sekitar US$145 juta EBITDA pada harga mid-cycle, termasuk sekitar US$90 juta dari kontrak gas tetap. Kami memperkirakan Corridor PSC akan sepenuhnya tercermin di kinerja 2026 dan berkontribusi sekitar 30% terhadap total produksi MEDC dan menjadi tulang punggung portofolio migasnya," tulis riset tersebut, dikutip Selasa (7/4/2026).
Riset juga menyebut, akuisisi 45% participating interest di Sakakemang PSC juga memberikan opsi pertumbuhan tambahan, dengan produksi awal diperkirakan pada 2027 yang berpotensi menambah volume sekitar 15.000–20.000 boepd bagi MEDC.
Sementara di sektor kelistrikan, target penjualan listrik yang lebih tinggi pada 2026 didukung oleh dimulainya proyek Ijen dan Sumbawa Tahap 2 serta tambahan kapasitas dari Batam IPP sekitar 95 megawatt (MW).
Sejalan dengan peningkatan produksi migas, Audrey dan Naura memprediksi laba bersih MEDC pada 2026-2027 akan tumbuh sebesar 12%-37%. Tambahan produksi migas dinilai akan memberikan bantalan terhadap asumsi harga minyak yang diperkirakan akan lebih konservatif di level US$65 per barel, dibandingkan pada 2024 saat harga minyak menyentuh level sekitar US$70 per barel.
Dengan adanya ekspektasi pertumbuhan laba bersih tersebut, BRI Dana Reksa Sekuritas meningkatkan target harga saham MEDC dari Rp1.320 menjadi Rp2.000. Dalam intraday perdagangan Selasa (7/4/2026) pukul 10.53 WIB, saham MEDC naik 2,19% ke Rp1.635, mencerminkan kenaikan 21,19% secara year to date (YtD).
"Target harga ini mencerminkan rerating struktural bisnis inti migas MEDC pasca peningkatan kepemilikan Corridor PSC, serta peningkatan visibilitas laba dari pemulihan kinerja AMMN. Risiko utama meliputi harga minyak yang lebih lemah dari ekspektasi serta keterlambatan normalisasi operasi AMMN," tandas mereka.
Melansir laporan keuangan tahun buku 2025 diaudit, MEDC membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar US$100,82 juta atau sekitar Rp1,68 triliun (kurs Rp16.666 per dolar AS). Laba bersih ini terpangkas 73% secara year on year (YoY) dibanding US$368,86 juta pada periode 2024.
Sementara itu, analis CGS International Bob Setiadi dan Rut Yesika Simak dalam risetnya juga melakukan rerating MEDC dengan menaikkan target harga saham MEDC dari Rp1.380 ke Rp1.730.
Dalam pembaruan risetnya, sekuritas melakukan penyesuaian kecil pada proyeksi produksi migas tahun 2025–2027 yang diturunkan 0,7%–1,4%. Sekuritas juga menurunkan asumsi harga minyak Brent untuk 2026 dan 2027 menjadi US$65 dan US$68 per dolar, dari asumsi sebelumnya di US$68 dan US$70 per dolar.
Di sisi lain, perubahan estimasi terbesar dilakukan pada anak usaha MEDC, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang merupakan produsen tembaga dan emas utama di Indonesia. Seiring AMMN yang secara bertahap meningkatkan produksi smelternya sejak kuartal III/2025, sekuritas menaikkan proyeksi penjualan tembaga 2026–2027 sebesar 5%–10% dan penjualan emas sebesar 6%–13%.
"Kami juga menaikkan asumsi average selling price (ASP) tembaga AMMN 2026–2027 sebesar 12%–19% dan ASP emas sebesar 34%–44%, seiring meningkatnya ketidakpastian makroekonomi dan politik global. Secara keseluruhan, kami menurunkan proyeksi EBITDA MEDC 2026–2027 sebesar 1%–2%, namun menaikkan proyeksi laba bersihnya sebesar 37%–45%," tulis riset tersebut.