Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih berpeluang mengenakan tarif hingga 100% terhadap produk China mulai 1 November 2025, tergantung langkah Beijing dalam sengketa ekspor logam tanah jarang (rare earth) yang memicu ketegangan baru antara kedua negara.
“Banyak hal bergantung pada tindakan China. Mereka yang memilih melakukan eskalasi besar ini,” ujar Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer dikutip dari CNBC International Rabu (15/10/2025) waktu setempat.
Pernyataan tersebut muncul setelah China pekan lalu mengumumkan pembatasan besar-besaran terhadap ekspor rare earth, yang berpotensi mengganggu sektor pertahanan, teknologi, semikonduktor, dan otomotif AS jika diterapkan.
Sebagai respons, Trump mengancam akan mengenakan tarif besar-besaran yang dapat menghentikan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Meski begitu, Presiden AS itu sempat melunakkan retorikanya awal pekan ini dengan mengatakan bahwa hubungan dengan China akan baik-baik saja.
“Kami tidak bisa membiarkan situasi di mana China memiliki kekuasaan veto terhadap rantai pasok teknologi tinggi dunia,” tegas Greer.
Pertemuan Trump–Xi Masih Sesuai Jadwal
Langkah Beijing tersebut disebut mengejutkan Gedung Putih menjelang pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi APEC akhir bulan ini di Seoul, Korea Selatan.
Greer menegaskan pertemuan keduanya masih dijadwalkan berlangsung, meskipun rencana itu bisa berubah tergantung perkembangan situasi.
“Apakah akan terlaksana atau tidak, saya tidak ingin berkomitmen dulu, baik dari pihak kami maupun pihak China. Namun, saya pikir masuk akal untuk tetap membuka jalur komunikasi,” ujarnya.
Pejabat senior AS dan China disebut masih melakukan pembicaraan di Washington pada Senin lalu terkait sengketa rare earth. Greer juga optimistis masalah tersebut dapat diselesaikan.
Ancaman tarif Trump pekan lalu sempat menghapus nilai pasar saham AS sekitar US$2 triliun. Namun, Greer menekankan bahwa pemerintahan Trump fokus pada keberlanjutan ekonomi jangka panjang, termasuk mengembalikan rantai pasok strategis ke dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap China.
“Kami ingin memastikan pasar merespons informasi yang tepat. Anda bisa melihat pasar mulai stabil pekan ini karena memahami bahwa Presiden dan timnya tetap ingin bekerja sama dengan China,” jelasnya.
Logam tanah jarang merupakan mineral penting yang digunakan dalam produksi magnet untuk sistem senjata, kendaraan listrik, semikonduktor, dan berbagai teknologi canggih lainnya.
Menurut International Energy Agency (IEA), China menguasai sekitar 60% produksi tambang logam tanah jarang dan lebih dari 90% kapasitas pemurnian global. Data U.S. Geological Survey menunjukkan Amerika Serikat bergantung sekitar 70% pada impor logam tanah jarang dari China.