Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (Maybank Indonesia) membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp397 miliar pada kuartal I/2026, sementara laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (PATAMI) tercatat Rp299 miliar.
Pada periode tersebut, pendapatan bunga bersih (NII) mencapai Rp1,81 triliun atau meningkat 2,1%, didukung penurunan beban bunga serta komposisi pendanaan yang membaik. Net Interest Margin (NIM) tetap stabil pada level 4,3%.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan kinerja Bank pada kuartal pertama 2026 dipengaruhi tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar. Dalam kondisi tersebut, Bank menyesuaikan ekspektasi serta fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel, non-ritel, korporasi, dan Perbankan Syariah. "Ke depan, kami akan terus berupaya menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank sekaligus memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group," ujarnya.
Volatilitas pasar keuangan juga berdampak pada aktivitas trading surat berharga dan valuta asing Global Markets (GM), serta pendapatan fee non-GM turut mengalami penurunan meskipun pendapatan fee Premier Wealth tumbuh 20,0%, sehingga pendapatan non-bunga (NOII) turun 29,6% menjadi Rp402 miliar. Gross Operating Income tercatat Rp2,22 triliun dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato’ Sri Khairussaleh Ramli menyatakan bahwa di tengah volatilitas pasar, Bank tetap berfokus memperkuat fundamental UKM sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan yang sejalan dengan arah Maybank Group.
Pada kuartal I/2026, beban operasional meningkat 4,5% seiring aktivitas bisnis Bank. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar. Namun, beban pencadangan turun 47,9% menjadi Rp123 miliar, mencerminkan kualitas aset yang membaik dan penerapan manajemen risiko yang pruden.
Fundamental bisnis inti Bank tetap kuat. Rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 2,3% (gross) dan 1,4% (net) pada Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,5% (net) pada Maret 2025.
Kredit dan Simpanan
Kredit non-ritel Community Financial Services (CFS) tumbuh 7,1% menjadi Rp39,89 triliun, ditopang pertumbuhan kredit Business Banking sebesar 15,6% dan SME+ sebesar 12,3%. Kredit ritel CFS meningkat 4,1%, didukung pembiayaan otomotif dan kredit konsumer. Secara keseluruhan, kredit CFS tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun.
Sementara itu, portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) turun 12,4%. Namun, kredit segmen Large Local Corporate (LLC) dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) menunjukkan peningkatan dan dibukukan pada kuartal berikutnya.
Hingga Maret 2026, total kredit yang disalurkan relatif stabil sebesar Rp121,99 triliun. Total aset mencapai Rp192,17 triliun atau naik 1,2%.
Simpanan nasabah meningkat 6,1% menjadi Rp118,35 triliun, didorong pertumbuhan giro sebesar 37,5%. Rasio CASA meningkat menjadi 61,2% dari 53,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya, sejalan dengan strategi optimalisasi biaya dana.
Permodalan dan Likuiditas
Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,3% dan Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2%.
Likuiditas juga terjaga sehat dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 85,5%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 112,4%.
Perbankan Syariah
Total pembiayaan Syariah tumbuh 10,4% menjadi Rp32,23 triliun, didukung pertumbuhan pembiayaan CFS Syariah sebesar 10,4% dan GB Syariah sebesar 10,3%. Pembiayaan ritel Syariah meningkat 12,5%, terutama dari pembiayaan properti, sementara pembiayaan korporasi GB-LLC tumbuh 30,2%. Total pembiayaan Syariah berkontribusi sebesar 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan Bank, sementara aset Syariah menyumbang 24,5% terhadap total aset Bank.
Maybank Indonesia juga meluncurkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di Indonesia. Hingga saat ini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.
Total simpanan Perbankan Syariah tumbuh 7,5% menjadi Rp35,50 triliun. Rasio CASA meningkat menjadi 69,1% dibandingkan 57,6% pada Maret 2025. Kualitas aset juga membaik dengan Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,2% (gross) dan 1,5% (net).
Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) Perbankan Syariah meningkat 20,9%, didukung kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil serta pertumbuhan pendapatan fee. Beban pencadangan turun 69,8%.
PBT Perbankan Syariah tercatat sebesar Rp226 miliar, meningkat 52,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.