Bisnis.com, PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengklaim rehabilitasi lahan sawah terdampak bencana telah tuntas dilakukan dan ditargetkan produksi padi meningkat pada tahun 2026.
Gubernur Sumbar mengatakan rehabilitasi lahan sawah yang tuntas dikerjakan itu untuk kategori ringan dan sedang, sementara untuk rusak berat, masih dalam tahap pengerjaan.
"Selanjutnya kami akan mulai bergerak ke tahap lanjutan, termasuk penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026).
Dia menyampaikan percepatan rehabilitasi lahan itu sesuai dengan arahan Menteri Pertanian RI, karena dengan adanya rehabilitasi lahan sawah ini, ditargetkan produksi padi di Sumbar bisa ditingkatkan.
Menurutnya adapun total anggaran yang dikucurkan Kementerian Pertanian untuk rehabilitasi lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar ini berjumlah sebesar Rp32,9 miliar.
“Jadi, tahapan berikutnya, untuk kategori rusak berat dan hilang semoga bisa cepat juga, itu sedang kami koordinasikan,” tegasnya.
Kendati demikian, Mahyeldi juga mengingatkan akan ancaman baru yang juga perlu segera diantisipasi seluruh pihak terkait, yakni potensi musim kering dan dampak El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli mendatang. Menurutnya, mempercepat proses tanam bisa menjadi solusi.
“Belum lama inj Sekjen menekankan kepada kami agar segera melakukan pemetaan dan langkah antisipasi menghadapi musim kering atau El Nino. Penanaman harus dipercepat supaya panen tidak terganggu dan stok pangan tetap aman,” jelasnya.
Guhernur menilai tantangan terbesar saat ini justru pada penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat bencana. Dia menyebut terdapat sekitar 7.000 hektare lahan terdampak berat di Sumbar, termasuk lebih dari 4.000 hektare lahan yang hilang karena berubah menjadi aliran sungai atau tersapu longsor.
“Sebahagian dari lahan yang hilang itu, sekarang berubah menjadi sungai, ada juga yang benar-benar tergerus akibat lonsor. Karena itu, penanganannya perlu melibatkan lintas kementerian, tidak bisa hanya Kementerian Pertanian, tapi juga perlu melibatkan Kementerian PU dan kementerian lain. Inilah yang menjadi tatangan kita saat ini,” tegasnya.
Mahyeldi mengungkap, seluruh data tentang kerugian serta rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana telah dituangkannya dalam dokumen R3P atau Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Menurutnya dokumen tersebut telah diserahkan ke pemerintah pusat melalui BNPB. Saat ini pemerintah daerah masih menunggu teknis penanganan dan besaran dukungan anggarannya dari pemerintah pusat.
“Kamu sudah gerakkan semua simpul, mulai dari kabupaten, provinsi sampai kementerian. Tinggal sekarang kepastian anggaran. Mudah-mudahan Mei ini sudah mulai terlihat titik terang,” jelas Mahyeldi.
Dia juga mengingatkan potensi banjir dan longsor masih mengancam sejumlah daerah. Apalagi, saat ini curah hujan di Sumbar masih tergolong tinggi.
“Di Agam kemarin masih terjadi longsor, jalan putus dan area pertanian terganggu. Karena itu kita harus bergerak cepat sekaligus meminimalisir risiko banjir dan longsor berikutnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah mengapresiasi kecepatan Sumbar dalam memulihkan lahan pertanian terdampak bencana. Bahkan, Sumbar menjadi provinsi dengan progres terbaik dibanding daerah terdampak lainnya Aceh dan Sumatra Utara.
Adapun untuk total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya terbilang tinggi. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14%, tapi Sumbar sudah memenuhi target Mentan.
Dia bilang Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan sejumlah program antisipasi kekeringan, mulai dari irigasi perpompaan hingga pembangunan sumur dalam untuk menghadapi ancaman El Nino.
"Peruntukan program antisipatif tersebut akan disesuaikan dengan usulan yang masuk dari daerah," ucap dia.
“Kami siap memfasilitasi. Silakan segera diusulkan. Ada program irigasi perpompaan, sumur air dalam dan lainnya yang telah disiapkan kementerian untuk menghadapi musim kemarau,” sambungnya.
Menurut Tedy capaian Sumbar tidak hanya sebatas percepatan tanam, tetapi juga sudah berhasil melakukan panen bahkan ekspor hasil pertanian. “Kemarin di Solok kami lihat sudah panen dan hasilnya diekspor. Jadi Sumbar bukan hanya tanam, tapi juga sudah panen. Ini yang menjadi perhatian Kementerian Pertanian,” sebutnya.
Di sisi lain, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis mengungkapkan bencana banjir dan longsor telah memukul sektor pertanian di wilayahnya secara serius.
Dikatakannya, total lahan sawah terdampak di Padang Pariaman mencapai 1.263,4 hektare, terdiri dari 446 hektare rusak ringan, 238,25 hektare rusak sedang, 450,7 hektare rusak berat, dan 100,5 hektare sawah hilang akibat terbawa arus sungai.
Selain itu, lahan jagung terdampak mencapai 570,35 hektare, dengan rincian 382,6 hektare rusak ringan, 71 hektare rusak sedang, 112,5 hektare rusak berat, dan 4,3 hektare lahan hilang.
“Untuk sawah rusak ringan seluruhnya sudah tertangani 100% sedangkan untuk lahan sawah yang rusak berat dan hilang sampai sekarang belum ada alokasi bantuan dari Kementerian Pertanian. Begitu juga lahan jagung yang terdampak. Kami berharap ini bisa segera,” tutupnya.