Bisnis.com, JAKARTA - Pasca-pandemi, kebiasaan bepergian mengalami transformasi signifikan. Banyak orang kini lebih memilih perjalanan yang ringkas, terencana, dan minim kerepotan.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kebutuhan akan perlengkapan yang multifungsi, mudah dibawa, dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi penggunaan.
Di tengah perubahan tersebut, isu keberlanjutan juga mulai masuk dalam pertimbangan publik. Kesadaran untuk mengurangi konsumsi berlebihan dan memilih produk yang tahan lama perlahan tumbuh, terutama di kalangan masyarakat urban. Pola ini memengaruhi cara industri kreatif merespons kebutuhan pasar yang semakin rasional dan sadar nilai.
Perubahan sosial tersebut turut ditangkap oleh pelaku usaha lokal di sektor fesyen dan ritel. Salah satunya adalah Taylor Fine Goods (TFG), brand tas yang mulai beroperasi sejak 2012 dan resmi berbadan hukum pada 2017 di bawah nama PT TFG TravelingAsia.
Berbasis di Surabaya, TFG bergerak di bidang ritel tas dengan pendekatan desain yang menitikberatkan pada fungsi, kualitas, dan karakter modern.
TFG awalnya didirikan oleh Edwin Yani Widjaja. Namun, seiring dengan perkembangannya, brand ini memasuki babak baru setelah diakuisisi pada tahun 2025. Saat ini, TFG beroperasi di bawah naungan PT Terang Fajar Gemilang dengan Dwi Hanni Yunianto Purwanto Putro sebagai Direktur/CEO. Ia merupakan seorang pengusaha kelahiran Bangkalan, 19 Juni 1985.
“Asal TFG dari produk camera strap yang di jual di toko-toko kamera menambah koleksi tas kamera dan berjalannya waktu mulai banyak yang tahu TFG kemudian coba untuk launching produk lain serta mengikuti bazar dan sampai saat ini mencapai hingga 100 sku yang di jual di ecommerce maupun store,” ungkapnya.
Dalam 3–5 tahun terakhir, penjualan produk TFG mencatat peningkatan rata-rata sekitar 15–25% per tahun, termasuk pertumbuhan signifikan setelah periode pasca-pandemi. Kategori produk yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah varian totebag, backpack, dan pouch.
Saat ini TFG memiliki 120 SKU aktif dengan 30 karyawan yang terlibat dalam proses produksi, serta kontribusi penjualan yang didominasi kanal online sebesar 60% dan offline/store sebesar 40%. Serta Permintaan tas multifungsi tercatat mengalami peningkatan sekitar 10–20% per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Akuisisi TFG pada 2025 merupakan langkah strategis berbasis fundamental yang kuat, didukung brand equity yang sudah terbangun, traction bisnis yang nyata, serta tren pertumbuhan positif di segmen travel dan utility pasca-pandemi. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat ekspansi, memperkuat struktur bisnis, dan memaksimalkan value creation dalam jangka menengah hingga panjang.
Seiring berkembangnya brand, TFG membaca perubahan perilaku masyarakat Indonesia dalam bepergian. “TFG melihat perubahan perilaku pasca pandemi sebagai pergeseran menuju perjalanan yang lebih praktis dan fungsional,” jelasnya.
Pergeseran ini menjadi dasar pengembangan produk yang menyesuaikan kebutuhan mobilitas modern.
Dalam proses produksinya, TFG menekankan penggunaan material dan tenaga kerja dalam negeri. Dwi menyebutkan bahwa dampak yang ingin dihadirkan bukan hanya pada produk, tetapi juga ekosistem kreatif lokal.
Narasi ketahanan produk juga menjadi bagian penting dari pendekatan TFG. Brand ini memperkenalkan komitmen 100 years warranty yang mencakup cacat produksi non-material dalam penggunaan normal.
Dalam perjalanannya, TFG juga terlibat dalam berbagai kolaborasi dengan pihak lain. Menurut Dwi, kolaborasi diposisikan sebagai proses saling memperkaya.