Bisnis.com, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengerahkan armada laut ke Timur Tengah yang memicu spekulasi meningkatnya potensi serangan terhadap Iran di tengah penumpasan brutal rezim Teheran atas gelombang protes nasional.
“Kami mengirim armada besar ke arah itu dan kita lihat apa yang terjadi. Saya lebih memilih tidak ada apa-apa yang terjadi, tapi kami mengawasi mereka dengan sangat ketat.," ujar Trump dikutip dari Bloomberg, Sabtu (24/1/2026) di pesawat Air Force One saat kembali dari Davos, Swiss
Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempur pendukungnya melintasi Selat Malaka antara Malaysia dan Indonesia dua hari lalu dan kini berada di Samudra Hindia, menurut dua pejabat AS yang enggan mengungkap tujuan pasti pergerakan tersebut. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena pergerakan kapal belum diumumkan secara resmi.
USS Abraham Lincoln didampingi tiga kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke, USS Spruance, USS Michael Murphy, dan USS Frank E. Petersen Jr., yang mampu membawa rudal Tomahawk. Sayap udara kapal induk itu mencakup jet tempur F-35C.
Aset militer tersebut serupa dengan kapal yang dikerahkan AS ke Laut Karibia beberapa pekan sebelum operasi militer pada 3 Januari untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Mengingat serangan AS terhadap Iran tahun lalu dan operasi Venezuela tersebut, retorika agresif Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dan membuat pasar global kembali waspada terhadap potensi serangan baru.
Meski demikian, Trump sempat menarik kembali janji sebelumnya untuk menyerang Iran setelah mengklaim menerima jaminan bahwa pemerintah Teheran tidak akan melanjutkan eksekusi massal terhadap ratusan demonstran. Iran telah memperingatkan AS, begitu juga Israel yang menyerang fasilitas nuklir Iran tahun lalu agar tidak mencoba mengintervensi untuk mendukung protes.
Protes besar-besaran, yang disebut sebagai ancaman terbesar terhadap rezim Iran dalam beberapa dekade, dipicu kejatuhan nilai mata uang nasional dan menyebar secara nasional dengan seruan pengakhiran kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Para pakar menilai pengerahan perangkat militer AS memberi fleksibilitas bagi Trump, tetapi tidak otomatis berarti serangan terhadap Iran akan terjadi.
Mona Yacoubian, Direktur dan Penasihat Senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan, pengerahan ini menunjukkan tekad presiden untuk menjaga semua opsi tetap terbuka, termasuk serangan militer terhadap rezim Iran.
“Ini bisa menjadi pendahuluan serangan, atau taktik tekanan untuk memperoleh konsesi dari Teheran dalam negosiasi," jelasnya.
Konsultan risiko Eurasia Group memperkirakan peluang serangan AS dan Israel terhadap Iran sebelum 30 April sebesar 65%, dengan alasan upaya diplomasi kemungkinan gagal. Sementara Rapidan Energy Group memperkirakan peluang serangan AS dalam beberapa hari atau pekan ke depan sebesar 70%.
Namun, aksi militer terhadap Iran membawa risiko besar, dan belum jelas apakah Washington hanya ingin mencegah kematian demonstran lebih lanjut atau mendorong perubahan rezim melalui serangan udara.
Jika tujuan AS adalah membantu demonstran, akses internet melalui terminal Starlink dapat diperluas. Jika tujuan mencegah rezim membunuh demonstran, AS bisa mengganggu sistem komando dan kontrol Iran atau menyerang Khamenei serta lingkaran dekatnya, termasuk fasilitas pemerintahan utama.
Di sisi lain, rezim Iran tampaknya telah meredam protes melalui represi kekerasan, sementara kelompok tempur kapal induk AS masih membutuhkan beberapa hari untuk mencapai kawasan operasi.
“Sulit membayangkan penggunaan kekuatan tanpa adanya pemberontakan yang masih berlangsung,” ujar Mara Karlin, mantan pejabat senior Departemen Pertahanan AS, seraya menambahkan bahwa militer AS memiliki opsi kinetik dan non-kinetik.
Trump mengklaim Iran menghentikan eksekusi lawan politik atas desakannya. Seorang pelapor khusus PBB menyebut korban tewas dalam protes bisa lebih dari 20.000 orang, sementara pemerintah Iran mengklaim sekitar 3.000 korban.
Komentar Trump sebelumnya dinilai sebagai upaya membeli waktu bagi militer AS untuk memposisikan aset yang diperlukan sekaligus melindungi kepentingan AS dan sekutunya dari potensi balasan, menurut Becca Wasser, analis pertahanan Bloomberg Economics.
Pangkalan udara terbesar AS di Timur Tengah, Al Udeid Air Base di Qatar, sebelumnya menjadi sasaran serangan rudal Iran setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Teheran. Retaliasi dapat lebih keras jika rezim Iran merasa menghadapi ancaman eksistensial.
“Jika AS melancarkan serangan, mereka punya lebih banyak opsi. Sebelumnya mereka terbatas pada serangan simbolis atau kampanye terbatas dari luar kawasan. Sekarang ada kemampuan tambahan untuk menjalankan operasi tempur," kata Wasser.
Lembaga think tank Soufan Center dalam catatan riset menyebut pergerakan berkelanjutan aset militer AS mengindikasikan serangan masih mungkin terjadi, meski Teheran menyatakan protes telah berakhir.
“Ancaman Trump didasarkan pada penilaian bahwa rezim telah cukup melemah akibat kekalahan sekutu regionalnya, kemerosotan ekonomi, serta serangan AS dan Israel terhadap fasilitas strategis pada Juni lalu,” tulis laporan tersebut.
Laporan itu juga menambahkan bahwa penggunaan kekuatan AS dalam skala terbatas dapat mendorong rezim keluar dari kekuasaan.