Bisnis.com, JAKARTA — Reality Club menceritakan alasan merilis album Presents... dalam format piringan hitam atau vinyl, setelah karya tersebut meluncur pada 2023.
Grup musik indie-rock yang beranggotakan Fathia Izzati (vokalis utama), Faiz Novascotia Saripudin (vokalis dan gitar), Nugi Wicaksono (bassis), dan Era Patigo (drummer) itu menceritakan bahwa rencana membidik segmen kolektor musik fisik telah disusun sejak beberapa tahun lalu.
Faiz mengatakan keinginan memiliki rilisan vinyl sudah muncul sejak penggarapan album pertama Never Get Better (2017). Namun, proses produksinya ternyata membutuhkan waktu dan dukungan yang tepat.
Peluncuran album vinyl bukan keputusan yang diambil secara spontan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang baru dapat direalisasikan tahun ini dengan menggandeng Universal Music Indonesia.
"Ini waktu yang tepat karena memiliki rilisan dalam bentuk vinyl menjadi mimpi kami. Prosesnya enggak segampang itu. Dari album pertama ke album kedua kami sudah memikirkan rencana itu," kata Faiz kepada Bisnis.com, Minggu (28/6/2026).
Nugi menambahkan perilisan tersebut juga menjadi bagian dari rencana bisnis yang telah disusun bersama Universal. Menurutnya, keputusan merilis vinyl bukan sekadar mengikuti tren, tetapi telah masuk dalam pengembangan bisnis.
Fathia, atau yang akrab disapa Chia, mengatakan pemilihan Presents... sebagai album pertama yang dicetak dalam format vinyl karena dinilai paling sesuai dengan konsep pengerjaannya.
"Album ini sangat sinematik, mulai dari tema sampai cara kami memasarkan album. Ini yang paling cocok dirilis dalam bentuk vinyl," kata Chia.
Reality Club diketahui menggandeng penyanyi Bilal Indrajaya hingga Budapest Scoring Orchestra untuk memperkaya instrumen musik dalam album yang memiliki 11 lagu tersebut. Adapun, album vinyl tersebut dirilis pada 11 Juni 2026 dan ludes terjual dalam waktu 2 hari.
Di sisi lain, Faiz menilai meningkatnya minat generasi Milenial dan Gen Z terhadap vinyl didorong keinginan memiliki karya musik dalam bentuk fisik. Selain itu, pengalaman menikmati musik melalui piringan hitam dinilai lebih personal dibandingkan dengan layanan digital.
"Vinyl bisa memberikan wujud yang nyata dan sesuatu yang bisa dimiliki. Pengalaman yang didapat penggemar juga lebih personal, seperti artwork berukuran besar dan kesan suara yang berbeda dibandingkan digital," ujar Faiz.
Chia berharap perilisan vinyl dapat berlanjut untuk album-album lain, termasuk menghadirkan edisi khusus dengan warna piringan yang berbeda.
Bagi para personel, perilisan ulang dalam format vinyl juga memberikan perspektif baru terhadap album tersebut. Selang 3 tahun sejak pertama kali dirilis, sejumlah lagu dalam album tersebut memiliki makna yang berbeda bagi para personel.
Era mencontohkan lagu "Love Epiphany" yang kini dipandang berbeda dibandingkan dengan saat pertama kali dirilis. Lagu tersebut dinilai sebagai rekam jejak perjalanan hidup bersama pasangan.
Usai perilisan vinyl, Reality Club mulai menyiapkan agenda berikutnya. Mereka ingin lebih banyak tampil di panggung internasional sekaligus membawa konser perayaan satu dekade perjalanan musik mereka ke berbagai kota.
Nugi mengatakan Reality Club berencana memperluas konser perayaan 10 tahun berkarya ke sejumlah kota di Indonesia hingga negara lain kawasan Asia.