Bisnis.com, JAKARTA — Kratos Communications, perusahaan penyedia infrastruktur antariksa global, memacu pembangunan perangkat satelit di Indonesia dengan fokus pada digitalisasi sistem darat melalui platform virtualisasi OpenSpace dan solusi pemantauan spektrum.
Di tengah disrupsi Starlink, perusahaan menargetkan pertumbuhan organik hingga 15% per tahun melalui dukungan pada proyek-proyek strategis seperti PSN dan Satria, serta perluasan layanan ke sektor pertahanan dan pemantauan cuaca antariksa.
Kratos membaca ada peningkatan kebutuhan akan resiliensi jaringan dan manajemen spektrum di tengah padatnya lalu lintas orbit Bumi.
Director of Sales APAC Kratos Stephen Lu mengatakan fokus perusahaan saat ini mencakup pembangunan antena satelit frekuensi K-band dan Ku-band.
Kratos tercatat aktif menyokong perangkat kepada pemain besar seperti Telkomsat dan Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dalam menyediakan sistem pelacakan, telemetri, perintah, hingga kontrol satelit (Command and Control/C2).
"Selain perangkat keras, kami fokus pada perangkat lunak untuk pemantauan spektrum guna membantu klien memastikan frekuensi dan kekuatannya sudah benar, serta mendeteksi adanya interferensi," ujar Stephen kepada Bisnis, dikutip Jumat (15/5/2026).
Stephen menjelaskan manajemen spektrum menjadi krusial karena kompleksitas lalu lintas di orbit. Kratos menyediakan solusi automasi dan geolokasi untuk melacak sumber interferensi jaringan.
Guna menjawab tantangan digitalisasi, perusahaan memperkenalkan platform virtualisasi ground segment bernama OpenSpace. Teknologi ini memungkinkan operator melihat operasional jaringan secara transparan dan fleksibel, melampaui batas sistem konvensional.
Ekspansi Kratos juga menyasar layanan multiservis yang lebih luas, termasuk pengamatan Bumi (Earth Observation) dan Space Storm Awareness. Hal ini memungkinkan operator memahami dinamika yang terjadi di langit, baik pada orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) maupun orbit geostasioner (GEO).
"Kami tidak hanya bergerak pada bagian VSAT atau Satcom, tetapi juga layanan multiservis seperti Earth Observation. Kami mendukung aplikasi untuk mengerti apa yang terjadi di langit Anda, termasuk berapa banyak LEO dan GEO yang sedang beroperasi," tuturnya.
Mengenai kehadiran Starlink, Stephen memandang inovasi tersebut sebagai katalisator industri, terutama dalam hal kemudahan penerbitan terminal dengan biaya yang tepat. Merespons tantangan tersebut, Kratos memiliki solusi edge remote yang difokuskan pada aplikasi khusus seperti sektor pertahanan, pemerintahan, serta dukungan untuk jaringan satelit ChinaSat (Zhongxing).
Kratos juga bersiap mendukung standar teknologi masa depan seperti 5G, Non-Terrestrial Network (NTN), 3GPP, hingga 6G. Melalui kolaborasi dengan penyedia chipset seperti MediaTek, Qualcomm, dan Samsung, Kratos berupaya menghubungkan perangkat pengguna (UEE) dengan standar yang lebih tinggi guna menekan biaya layanan di masa depan.
Terkait target di pasar domestik, Kratos optimis dapat menjaga tren pertumbuhan positif. Perusahaan terus berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap proyek-proyek satelit baru Indonesia yang akan meluncur di masa depan.
“Perniagaan kami selalu berkembang 10-15% setiap tahun melalui pertumbuhan organik yang terhubung dengan permintaan pasar. Jadi ketika melihat peluncuran proyek seperti PSN N5 dan mungkin Satria-2, kami akan terus mendukung Indonesia pada fase pertumbuhan pasar ini,” pungkas Stephen.