Bisnis.com, JAKARTA — Penyedia indeks global MSCI masih mempertahankan Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang (emerging market/EM) dalam market accessibility review. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami relief rally.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan hasil market accessibility review MSCI menunjukkan kondisi yang lebih baik dari perkiraan. Dia mencatat dari 18 indikator yang dinilai, hanya indikator Information Flow yang mengalami penurunan dari status positif menjadi negatif, sementara 17 indikator lainnya tidak mengalami perubahan.
"Ini lebih baik dari yang dikhawatirkan, tetapi belum bisa disebut sebagai kondisi yang sepenuhnya aman. Penurunan pada indikator Information Flow menunjukkan masih adanya kekhawatiran struktural terkait transparansi kepemilikan dan praktik perdagangan yang terkoordinasi," kata Wafi, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, keputusan MSCI yang tidak menurunkan status Indonesia dari kategori emerging market dapat menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek karena skenario terburuk tidak terjadi.
Namun, kata dia, arus masuk dana asing yang berkelanjutan membutuhkan perbaikan yang nyata. Hal tersebut karena catatan pada indikator Information Flow berpotensi terus memengaruhi persepsi investor asing dalam jangka panjang.
Wafi melanjutkan perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada klasifikasi final MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 24 Juni 2026.
Di sisi lain, dia menilai kombinasi 17 indikator yang tetap positif dengan dua indikator yang masih negatif, yakni Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization, masih cukup untuk menahan rerating pasar modal Indonesia di mata investor global.
"Artinya, Indonesia secara fundamental masih menarik. Namun, celah tata kelola masih menjadi alasan investor asing untuk mengambil posisi underweight. Jadi bukan berarti mereka keluar total, tetapi juga belum cukup kuat untuk meningkatkan eksposur menjadi overweight," ucap Wafi.
Sebelumnya, Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menuturkan perbaikan pasar modal akan terus dilakukan Bursa, baik perbaikan infrastruktur perdagangan hingga pengawasan.
“Kalau perbaikan tentu terus kami lakukan, perbaikan infrastruktur perdagangan itu sudah pasti kami lakukan. Perbaikan dalam sisi peraturan akan kami lakukan, perbaikan dari sisi pengawasan itu juga akan terus kami lakukan,” ujar Jeffrey.
Dengan demikian, ke depannya diharapkan pengawasan pasar modal akan menjadi lebih efektif, sehingga catatan terkait dengan manipulasi, orchestrated trading, ke depan akan lebih baik lagi penanganannya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.