Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Iran menyatakan telah memverifikasi sedikitnya 5.000 orang tewas dalam rangkaian protes anti-pemerintah yang melanda negara tersebut sejak akhir Desember. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 korban merupakan personel keamanan.
Dilansir dari Reuters, Selasa (20/1/2026), seorang pejabat Iran di kawasan itu mengatakan bahwa otoritas menyalahkan teroris dan perusuh bersenjata atas kematian warga sipil.
“Jumlah korban akhir diperkirakan tidak akan meningkat tajam,” kata pejabat tersebut, yang juga menuding Israel dan kelompok bersenjata di luar negeri terlibat dalam mendukung dan mempersenjatai para demonstran, Minggu (18/1/2026)
Menurutnya, bentrokan paling sengit dan jumlah korban tertinggi terjadi di wilayah Kurdi Iran di bagian barat laut, daerah yang selama ini dikenal rawan konflik dan aktivitas kelompok separatis.
Tuduhan tersebut sejalan dengan pernyataan resmi otoritas Iran yang secara rutin menyalahkan kekuatan asing atas gelombang kerusuhan domestik.
Saat bersamaan, ribuan orang dilaporkan menggelar aksi solidaritas di sejumlah kota di Eropa untuk mendukung para demonstran Iran.
Di samping itu pula, akses internet di Iran kembali mengalami gangguan. Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa koneksi internet kembali turun setelah sempat pulih secara terbatas.
“Lalu lintas internet kembali menurun setelah pemulihan singkat dan sangat terbatas pada layanan tertentu,” tulis NetBlocks melalui platform X seperti yang dilansir dari France 24.
Selama periode pemulihan singkat tersebut, sebagian warga Iran sempat mengunggah laporan mengenai kondisi krisis di lapangan.
Iran sebelumnya memutus akses internet secara menyeluruh pada 8 Januari, tanpa peringatan, di tengah meningkatnya seruan demonstrasi. Pemulihan terbatas sempat terjadi untuk sejumlah layanan asing seperti Google, namun kembali dibatasi.
Pemerintah Iran juga memecat CEO Irancell, operator seluler terbesar kedua di negara itu, karena dinilai gagal mematuhi perintah pemerintah untuk menutup akses internet. Pemecatan tersebut disebut sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai tindakan yang setara dengan perang besar-besaran. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut perlunya kepemimpinan baru di Iran.
Di luar angka versi pemerintah, kelompok HAM berbasis AS, HRANA, mencatat jumlah korban tewas mencapai 3.308 orang, dengan ribuan kasus lain masih dalam proses verifikasi. Kelompok tersebut juga melaporkan lebih dari 24.000 orang ditangkap selama gelombang protes berlangsung.