Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, merelokasi puluhan pedagang ikan di Bintaro ke pasar ikan higienis agar lebih representatif dan menjadi satu kawasan terintegrasi dengan Kampung Nelayan Kampung Nelayan Merah Putih.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram H Bachtiar Yulianto di Mataram, Rabu, mengatakan, jumlah pedagang ikan yang direlokasi sebanyak 36 pedagang.
"Alhamdulillah pantauan kami hari pertama tadi pagi, di lokasi baru pedagang ikan sudah langsung bisa beradaptasi begitu juga para pembeli langsung mencari langganan masing-masing," katanya.
Relokasi pedagang ikan tersebut dilakukan lebih awal dari rencana semula, yang direncanakan setelah lapak pedagang dipasangkan atap atau akhir tahun ini. Proyek pemasangan lapak di pasar ikan itu sudah masuk tender dengan nilai Rp900 juta.
Relokasi dilakukan karena ahan yang ditempati pedagang ikan di Bintaro akan menjadi lokasi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, yang direncanakan mulai dibangun paling lambat akhir Juni 2026.
"Jadi saat ini pedagang masih menempati lapak tanpa atap. Kalau pun ada yang pakai atap, itu dibawa pedagang menggunakan atap di pasar lama," katanya.
Setelah ada pemenang tender, lanjutnya, proyek pemasangan atap untuk los pasar akan langsung dikerjakan agar pedagang bisa lebih aman dan nyaman selama beraktivitas di pasar ikan tersebut.
Pasar Ikan Bintaro ini merupakan pasar ikan seperti tempat pelelangan ikan, karena para pengusaha yang berjualan di sana tidak hanya nelayan Kota Mataram melainkan juga dari kabupaten penyangga di daerah ini.
Berdasarkan data pada tahun 2014, volume transaksi di pasar tersebut mampu mencapai 24 ton dalam sehari. Saat ini, perputaran ikan diprediksi telah meningkat tajam hingga melampaui 50 ton per hari.
Aktivitas di pasar ikan itu, dimulai sekitar pukul 05.00 Wita sampai sekitar 07.00 Wita, setelah itu pasar sudah sepi karena barang mereka diambil oleh para pengepul.
"Dengan demikian, ketika proyek pemasangan atap dikerjakan tidak mengganggu aktivitas pedagang. Saat pekerja bekerja, pedagang sudah selesai beraktivitas," katanya.
Selain pemasangan atap, katanya, pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan untuk melengkapi fasilitas di pasar ikan tersebut adalah pembuatan sanitasi yang lebih baik.
Saat ini, karena kondisi relokasi dinilai mendadak, pedagang baru disiapkan fasilitas sanitasi biasa dan listrik.
"Setelah proyek pemasangan atap, kami segera usulkan untuk pembangunan fasilitas sanitasi," katanya.
Pewarta: Nirkomala
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026