#30 tag 24jam
Penumpang Whoosh Dapat Takjil Gratis Selama Ramadhan
KCIC menyiapkan lebih dari 13 ribu paket takjil bagi penumpang kereta cepat. [257] url asal
#kcic #whoosh #takjil-gratis #bulan-ramadhan #penumpang #stasiun #buka-puasa #mobilitas #angkutan-lebaran #layanan-operasional #ramadhan-2026
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- KCIC menghadirkan program pembagian takjil gratis bagi para penumpang Whoosh selama bulan Ramadhan. General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan program ini berlangsung hingga hari terakhir Ramadhan di seluruh stasiun Whoosh, yaitu Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar Summarecon.
"Secara keseluruhan KCIC menyiapkan lebih dari 13 ribu paket takjil gratis bagi penumpang Whoosh selama periode tersebut," ujar Eva dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Eva menyampaikan setiap paket takjil berisi air mineral, kurma, serta makanan dan minuman ringan yang dapat dikonsumsi penumpang saat berbuka puasa. Sebanyak lebih dari 10 ribu paket takjil dibagikan di area stasiun kepada penumpang yang melakukan perjalanan pada jadwal keberangkatan sore hari di setiap stasiun.
"Sementara itu, 3.000 paket lainnya disediakan di VIP Lounge khusus bagi penumpang dengan tiket First Class dan Business Class," ucap Eva.
Eva mengatakan program ini dihadirkan untuk memudahkan penumpang yang menjalankan ibadah puasa agar tetap dapat berbuka dengan nyaman meskipun sedang melakukan perjalanan menggunakan Whoosh. Melalui program ini, KCIC ingin memastikan penumpang Whoosh tetap dapat menikmati perjalanan yang nyaman selama bulan Ramadhan.
"Dengan waktu perjalanan Whoosh yang singkat, penumpang tetap dapat melakukan mobilitas sekaligus menjalankan ibadah puasa dengan baik,” lanjut Eva.
Seiring memasuki pekan terakhir Ramadhan, sambung Eva, KCIC mulai melihat adanya peningkatan jumlah keberangkatan penumpang di sejumlah stasiun Whoosh. Kondisi ini menunjukkan mulai meningkatnya mobilitas masyarakat memasuki periode Angkutan Lebaran.
“KCIC memastikan kesiapan layanan operasional, fasilitas stasiun, serta pelayanan penumpang agar perjalanan tetap berjalan aman, nyaman, dan lancar di tengah meningkatnya volume perjalanan masyarakat pada periode tersebut,” kata Eva.
BI sediakan layanan penukaran uang baru di dua stasiun di Semarang
Bank Indonesia menyediakan layanan penukaran uang baru khusus bagi penumpang kereta api di dua stasiun di Kota Semarang, Jawa Tengah.Manajer Humas PT KAI Daop ... [208] url asal
#ilustrasi-penukaran-uang-baru #penukaran-uang-baeu-bi #ramadhan #ramadhan-2023 #tradisi-ramadhan #bulan-ramadhan
Berlokasi di zona 2 stasiun, dibuka mulai pukul 09.00 sampai 11.30 WIB
Semarang (ANTARA) - Bank Indonesia menyediakan layanan penukaran uang baru khusus bagi penumpang kereta api di dua stasiun di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif di Semarang, Kamis, mengatakan layanan penukaran uang akan dilaksanakan pada 13 Maret 2026 di Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Poncol.
"Berlokasi di zona 2 stasiun, dibuka mulai pukul 09.00 sampai 11.30 WIB," katanya.
Ia menyebutkan layanan penukaran uang baru tersebut dikhususkan bagi penumpang kereta api jarak jauh yang sudah memiliki tiket perjalanan sesuai identitas yang berlaku.
Ia mengatakan satu nomor induk kependudukan hanya bisa satu kali melakukan penukaran serta tidak boleh diwakilkan.
Ia menambahkan penukaran uang hanya dapat dilakukan selama kuota masih tersedia.
"Maksimal penukaran Rp5,3 juta dengan nominal pecahan yang telah disediakan oleh BI," katanya.
Ia mengharapkan layanan penukaran uang baru tersebut dapat memberikan kemudahan dan manfaat bagi para pelanggan kereta api yang akan mudik, sehingga persiapan menyambut Lebaran dapat dilakukan dengan lebih baik.
Selain itu, menurut dia, kemudahan untuk pelanggan tersebut diharapkan juga dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan KA sebagai pilihan transportasi yang aman, nyaman dan tepat waktu.
Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Bulog Kediri sebut stok beras untuk Lebaran 2026 aman
Perusahaan Umum (Perum) Bulog Kantor Cabang Kediri, Jawa Timur, mengungkapkan stok beras yang ada di gudang aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ... [363] url asal
#bulog-kediri #stok-beras-di-bulog #ramadhan #ramadhan-2023 #tradisi-ramadhan #bulan-ramadhan
Stok kami banyak dan cukup berlimpah, apalagi saat ini kami masih melakukan penyerapan gabah beras
Kediri (ANTARA) - Perusahaan Umum (Perum) Bulog Kantor Cabang Kediri, Jawa Timur, mengungkapkan stok beras yang ada di gudang aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Lebaran 2026.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Kediri Harisun menjelaskan saat ini stok beras di gudang mencapai 70 ribu ton. Jumlah itu masih cukup untuk 23 bulan ke depan, sehingga untuk kebutuhan Lebaran pun juga aman.
"Stok kami banyak dan cukup berlimpah, apalagi saat ini kami masih melakukan penyerapan gabah beras. Jadi, secara akumulasi pasti nanti bertambah," katanya di Kediri, Kamis.
Ia menambahkan Bulog Kediri secara masif melakukan penyerapan gabah petani. Sesuai dengan aturan, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram.
Ia menyebutkan penyerapan gabah saat ini sudah sekitar 23 persen dari total target pada 2026 yakni 73 ribu ton. Dengan 23 persen, Bulog sudah mendapatkan sekitar 17 ribu ton gabah petani.
Ia juga mengatakan stok itu juga akan berkurang seiring dengan program pemerintah seperti adanya pasar murah serta pendistribusian ke mitra Bulog. Bulog bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah dalam kegiatan pasar murah.
Sementara itu, pada musim panen 2026 ini, Harisun menjelaskan bahwa petani juga sudah memahami terkait dengan aturan serta standardisasi gabah yang bisa terserap.
Petani lebih teredukasi tentang kualitas gabah yang bisa masuk ke Bulog di antaranya terkait dengan kotoran.
Bulog, kata dia, juga siap untuk menyerap gabah petani. Mereka juga bisa lapor jika hendak panen sehingga gabah bisa diserap.
"Kami siap menyerap berapapun yang petani panen. Dan alhamdulillah sudah jalan. Skema dan sistem sudah jalan. Yang penting mereka mengurus ke PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), Insya Allah kami serap seluruhnya," kata dia.
Bulog, kata dia, juga bermitra dengan 27 mitra yang tersebar di wilayah Bulog Kediri, yakni Kota/Kabupaten Kediri serta Kabupaten Nganjuk.
Para mitra juga sudah melengkapi diri dengan berbagai fasilitas seperti pengering dan sebagainya.
Hal ini mengantisipasi jika cuaca hujan, sehingga gabah tidak kunjung kering, sebab jika dibiarkan kualitas gabah menjadi tidak bagus.
Pihaknya berharap penyerapan gabah pada musim 2026 ini bisa lancar sehingga stok yang ada juga mencukupi.
Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
4 Kelompok yang Tidak Bisa Mendapat Kemuliaan Lailatul Qadar, Siapa Mereka?
Ada beberapa kelompok manusia yang tidak akan atau tidak bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar. Siapakah mereka? Dan apa saja yang diperbuatnya? Simak penjelasannya... | Halaman Lengkap [202] url asal
#malam-lailatul-qadar #keistimewaan-lailatul-qadar #golongan-orang-yang-rugi-di-bulan-ramadhan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/03/26 20:45
v/159647/
Ada beberapa kelompok manusia yang tidak akan atau tidak bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar. Siapakah mereka? Dan apa saja yang diperbuatnya? Simak penjelasannya berikut ini:Semua mukmin di bulan suci Ramadanpasti menginginkan malam Lailatul Qadar karena keutamaan dan keistimewaan malam tersebut. Namun ternyata ada golongan orang yang tidak mendapatkan Lailatul Qadar tersebut.
Perhatikan penjelasan berikut yang dinukil dari Kitab Al-targhib wat Tarhib:
Maka ketika fajar telah meyingsing, Malaikat Jibril menyeru: Wahai para Malaikat, silakan pergi! silahkan pergi! maka mereka bertanya: Wahai Malaikat Jibril, apa yang akan diperbuat Allah terhadap kepentingan-kepantingan orang-orang mukmin dari Umat Muhammad?
Jibril menjawab: Allah memperhatikan mereka maka Dia akan mengampuni mereka, kecuali empat orang. Kemudian para sahabat bertanya: Siapakah mereka Ya Rasul? Rasulullah menjawab:
"Mereka adalah:
(1) Orang yang selalu meminum minuman keras
(2) Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya
(3) Orang yang memutus tali silaturrahim,
(4) Orang yang bermusuhan (tidak tegur sapa) dengan saudaranya melebihi tiga hari." (Al-targhib wat Tarhib juz 2 Halaman 61)
Demikian agungnya Lailatul Qadar dan Allah yang Maha Pengasih memberi ampunan kepada orang-orang mukmin, kecuali mereka yang termasuk ke dalam empat golongan di atas. Semoga Allah menjauhkan kita dari empat perkara di atas. Wallahu A'lam
Pendapat Ulama Tentang Perbedaan Waktu Terjadinya Nuzulul Quran, Simak Jangan Sampai Keliru!
Ada perbedaan pendapat terkait tanggal pasti turunnya Al Quran, terutama surat Al-Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam.... | Halaman Lengkap [158] url asal
#turunnya-alquran #nuzulul-quran #turunnya-alquran-di-bulan-ramadhan #sejarah-nuzulul-quran #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/03/26 12:11
v/154550/
Ada perbedaan pendapat terkait tanggal pasti turunnya Al Quran, terutama surat Al-Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam. Hanya saja, sebagian besar ulama berpendapat, turunnya ayat suci Al Quran populer ditetapkan pada 17 Ramadan atau disebut Nuzulul Quran.Selain 17 Ramadan beberapa ulama memiliki pendapat lain tentang waktu Nuzulul Qurantersebut. Jika dibagi, ada sekitar lima pendapat terkait kapan waktu turunnya Al-Quran.
Pertama, pada tanggal 17 Ramadan. Pendapat ini didasarkan pada Surat Al-Anfal ayat 41:
Artinya, “Dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Menurut para ulama, yang dimaksud dengan Yaumul Furqān adalah waktu bertemunya dua pasukan, yaitu pasukan kaum muslimin dan kafir quraisy di Badar, atau biasa kita sebut dengan Perang Badar.
Imam At-Thabari misalnya mengutip pendapat Al-Hasan bin Ali terkait maksud dari yaumul taqāl jamʽān.
[arabopen]قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة "الفرقان يوم التقى الجمعان"، لسبع عشرة من شهر رمضان
Apakah Peristiwa Nuzulul Quran Terjadi pada 17 Ramadan?
Apakah peristiwa turunnya Al Quran atau Nuzulul Quran terjadi pada tanggal 17 Ramadan? Pertanyaan ini menarik, karena pada surat Al-Qadar disebutkan Al-Quran turun... | Halaman Lengkap [905] url asal
#turunnya-alquran #nuzulul-quran #al-quran #turunnya-alquran-di-bulan-ramadhan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/03/26 05:15
v/154098/
Apakah peristiwa turunnya Al Quranatau Nuzulul Quran terjadi pada tanggal 17 Ramadan? Pertanyaan ini menarik untuk disimak, karena pada surat Al-Qadar disebutkan Al-Quran turun pada malam Lailatul Qodar. Berikut ulasan dan penjelasannya.Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mengatakan bahwa Lailatul Qadar ada di sepuluh akhir bulan Ramadan . Di sisi lain, Nuzulul Quranselalu diperingati pada tanggal 17 Ramadan.
Ahmad Zarkasih, Lc, dalam buku berjudul "Meraih Lailatul Qadar, Haruskah I’tikaf?" menjelaskan tentang Nuzulul Quran yang diambil dari beberapa kitab yang menerangkan tentang masalah ini.
Sejumlah ulama menyebut metode turunnya Al-Qur’andalam kitab-kitab mereka dengan istilah kaifiyah alTanzil. Dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Imam Badruddin al-Zarkasyi menyebut setidaknya ada 3 pendapat soal kaifiya Tanzil ini. Dan ketiganya adalah pendapat yang terekam dalam banyak kitab-kitab ulama tentang ilmu Qur’an.
Pertama, Al-Quran turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam Lailatul-Qadr ke bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh alMahfudz. Kemudian turun secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama 20 atau 23 tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.
Kedua, Al-Quran turun secara berangsur ke langit dunia (bait al-Izzah) di 20 atau 23 malam Lailatul Qadr selama 20 atau 23 tahun tersebut. Barulah setelah semuanya lengkap di langit dunia, Jibril menurunkannya berangsuran kepada Nabi Muhammad saw, selama 20 atau 23 tahun.
Ketiga, Al-Quran turun langsung kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsuran selama lebih dari 20 tahun dan dimulai di malam Lailatul-Qadr.
Dari tiga pendapat tersebut, pendapat yang banyak dipegang oleh jumhur Ulama, yaitu pendapat pertama, bahwa Al-Quran diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qadr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi SAW setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekkah dan Madinah sampai wafat beliau.
"Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat inilah yang setidaknya bisa diterima dengan bantahan yang minim," ujar Ahmad Zarkasih.
Pendapat ini karena berdasar kepada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya dengan sanad yang sahih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma.
Beliau mengatakan bahwasanya Al-Qur'an itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qadr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudian ia mambaca ayat.
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik .” ( QS Al Furqan : 33)
“Dan Al-Qur'an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( QS Al Isra : 106)
Imam An-Nasa’i juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “……dan Al-Qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad SAW.”
Pendapat tentang Turunnya Ayat Al Qur'an Sekaligus
Ada beberapa ayat yang dijadikan alasan dan argumen oleh ulama tentang pendapat ini; yakni bahwa Al-Qur’an turun sekaligus lebih dahulu ke baiytul-‘izzah, sebelum akhirnya disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Beberapa ayat tersebut adalah:“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” ( QS Al-Baqarah : 185)
“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” ( QS Al-Qodr : 1)
“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi.” ( QS Ad-Dukhon : 3)
Dalam 3 ayat tersebut, semua menjelaskan tentang turunnya Al-Qur'an pertama kali, yaitu pada bulan Ramadan tepatnya malam Lailatul Qadr; malam kemuliaan.
Selanjutnya pada surat Ad-Dukhon, yang dimaksud malam mubarak alias malam yang diberkahi ialah malam Lailatul Qadr pada bulan Ramadan sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama tafsir, salah satunya adalah Imam al-Alusiy dalam kitab tafsirnya.
Nah, dalam ayat-ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kalimat anzala, yang secara bahasa artinya itu adalah menurunkan. Dan itu dimaksudkan menurunkan secara sekaligus. Karena dalam ayat lain, Allah SWT menjelaskan proses turunnya ayat kepada Nabi Muhammad tidak menggunakan kalimat anzala, tapi menggunakan kalimat Nazzala; yang berarti adalah menurunkan secara berangsuran.
Tafsir Jalalayn juga menafsirkan Surat Ad-Dukhon itu "pada suatu malam yang diberkati" yaitu Lailatul qadar. Hanya saja, Jalalayn menyebut lailatul qadar adalah malam pertengahan bulan Sya'ban. Pada malam tersebut diturunkanlah Al-Qur'an dari Umul Kitab atau Lohmahfuz yaitu dari langit yang ketujuh hingga ke langit dunia.
Diturunkan Secara Berangsur
Setelah diturunkan secara lengkap (keseluruhan) dari Lauh Mahfudz ke langit Dunia (Baitul-Izzah), Al-Qur’an turun secara berangsuran selama 23 tahun.Ini menurut salah satu pendapat yang banyak dipegang ulama; 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Dan turunnya Al-Qur’an secara berangsuran telah dijelaskan dalam firman Allah SWT
“Dan Al-Qur'an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( QS Al Isra : 106)
Menurut Ahmad Zarkasih, inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an, bahwa kitab suci ummat Nabi Muhammad ini turun secara berangsuran setelah sebelumnya diturunkan secara lengkap/sekaligus.
Ini berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan secara sekaligus, yaitu Injil, Taurat dan Zabur, tanpa ada angsurannya. Allah SWT berfirman:
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). ( QS Al-Furqan : 32)
Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. ( QS Al-Furqan : 33)
Kisah Teladan di Bulan Ramadan: Abu Bakar Ash Shiddiq Setia Mendampingi Rasulullah di Perang Badar
Kisah teladan di bulan Ramadan ini datang dari sahabat Nabi SAW yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat perang Badar terjadi, Abu Bakar tidak pernah jauh dan selalu mendampingi... | Halaman Lengkap [571] url asal
#kisah-sahabat-nabi #perang-badar #kisah-abu-bakar-ashshiddiq #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 15:45
v/152131/
Kisah teladan di bulan Ramadanini datang dari sahabat Nabi SAW yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat perang Badarterjadi, Abu Bakar tidak pernah jauh dan selalu mendampingi Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam. Peperangan yang terlihat mustahil itu, akhirnya dimenangkan umat Muslim dengan pertolongan Allah dan doa-doa Rasulullah SAW.Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati" mengisahkan kala itu pihak Muslimin membangun sebuah dangau di barisan belakang, sehingga jika nanti kemenangan berada di pihak mereka, Rasulullah dapat kembali ke Madinah . Hal itu seperti diusulkan oleh Sa'd bin Mu'az.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Nabi tinggal dalam dangau itu sambil mengawasi jalannya pertempuran. Pada saat pertempurah berkecamuk, Rasulullah melihat jumlah pihak musuh yang begitu besar sedang pasukan muslimin hanya sedikit. Beliau berpaling ke arah kiblat, menghadapkan diri dengan seluruh hati sanubarinya kepada Allah.
Beliau berdoa membisikkan permohonan dalam hatinya agar Allah memberikan pertolongan, sambil katanya:
"Allahumma ya Allah! Inilah Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepada-Mu."
Sementara Rasulullah masih hanyut dalam doa, sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh. Dalam keadaan serupa itu ia terangguk sejenak terbawa kantuk, dan ketika itu juga tampak olehnya pertolongan Allah itu datang. Beliau sadar kembali, kemudian beliau bangun dengan penuh rasa gembira. Beliau keluar menemui sahabat-sahabatnya sambil berkata kepada mereka:
"Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap seorang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia gugur, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga."
Abu Bakar di Perang Badar
Demikianlah keadaan Rasulullah. Tidak yakin akan kemenangan pasukan muslim yang hanya sedikit itu dalam menghadapi lawan yang jauh lebih banyak, dengan diam-diam jiwanya mengadakan hubungan dengan Allah memohon pertolongan. Kemudian terbuka di hadapannya tabir hari yang amat menentukan itu dalam sejarah Islam.Abu Bakar tetap di samping Rasulullah. Dengan penuh iman ia percaya bahwa Allah pasti akan menolong agama-Nya. Dengan hati penuh kepercayaan akan datangnya pertolongan itu. Dengan penuh kekaguman akan Rasulullah dalam doanya kepada Allah, dengan perasaan terharu kepada Rasulullah karena kekhawatiran yang begitu besar menghadapi nasib yang akan terjadi hari itu, ketika itulah Rasulullah berdoa mengimbau, bermohon dan meminta kepada Allah akan memenuhi janji-Nya.
Itulah yang diulangnya, diulang sekali lagi, hingga mantelnya terjatuh, itulah yang membuatnya berdoa sambil ia mengembalikan mantel itu ke bahu Nabi: "Rasulullah, dengan doamu Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu."
Haekal mengatakan banyak orang yang sudah biasa dengan, suatu kepercayaan sudah tak ragu lagi, sampai-sampai ia jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi melihat muka orang yang berbeda kepercayaan.
Mereka menganggap bahwa iman yang sebenarnya harus fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakar, dengan keimanannya yang begitu agung dan begitu teguh, tak pernah goyah dan ragu, jauh dari sikap kasar.
Sikapnya lebih lunak, penuh pemaaf, penuh kasih bila iman itu sudah mendapat kemenangan. Dengan begitu, dalam hatinya terpadu dua prinsip kemanusiaan yang paling mendasari: mencintai kebenaran, dan penuh kasih sayang.
Demi kebenaran itu segalanya bukan apa-apa baginya, terutama masalah hidup duniawi. Apabila kebenaran itu sudah dijunjung tinggi, maka lahir pula rasa kasih sayang, dan ia akan berpegang teguh pada prinsip ini seperti pada yang pertama. Terasa lemah ia menghadapi semua itu sehingga matanya basah oleh air mata yang deras mengalir.
Perang Badar, Bukti Kekuatan Doa dan Keyakinan
Dalam sejarah Islam, perang Badar adalah pertempuran terbesar pertama melawan kaum kafir Quraish ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Dalam sejarah Islam,... | Halaman Lengkap [2,145] url asal
#perang-badar #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #sejarah-peperangan-islam #perang-as-vs-iran #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 12:35
v/151814/
Dalam sejarah Islam, perang Badar adalah pertempuran terbesar pertama melawan kaum kafir Quraish ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).Dinukil dari buku "Sejarah Hidup Muhammad" karya Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah, berikut penjelasan lengkapnya tentang perang Badartersebut.
Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Kafir Quraisydari Makkah yang berjumlah 1.000 orang. Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu merekapun segera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun.
Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah SAW berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab b. Mundhir b. Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Nabi turun di tempat tersebut, ia bertanya: "Rasulullah, bagaimana pendapat tuan berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekadar pendapat tuan sendiri, suatu taktik perang belaka?"
"Sekadar pendapat saya dan sebagai taktik perang," jawab Rasulullah SAW.
"Rasulullah," katanya lagi. "Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dan mereka, lalu sumur-sumur kering yang di belakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak."
Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Rasulullah SAW dan rombongannya segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat temannya itu, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa dia juga manusia seperti mereka, dan bahwa sesuatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan dia tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar mereka. Dia perlu sekali mendapat konsultasi yang baik dari sesama mereka sendiri.
Selesai kolam itu dibuat, Sa'd b. Mu'adh mengusulkan: "Rasulullah," katanya, "kami akan membuatkan sebuah dangau buat tempat Tuan tinggal, kendaraan Tuan kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh. Kalau Tuhan memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi; dengan kendaraan itu Tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepada tuan tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Sekiranya mereka dapat menduga bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Dengan mereka Tuhan menjaga tuan. Mereka benar-benar ikhlas kepada tuan, berjuang bersama tuan."
Rasulullah SAW sangat menghargai dan menerima baik saran Sa'd itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangun. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Yathrib.
Di sini orang perlu berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah SAW, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya. Semua mereka mengetahui, bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar dari kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Tetapi, sungguhpun begitu, mereka berani menghadapi, mereka melawan.
Sekarang pihak Quraisy sudah turun ke medan perang. Mereka mengutus orang yang akan memberikan laporan tentang keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui, bahwa jumlah kaum Muslimin lebih kurang 300 orang, tanpa pasukan pengintai, tanpa bala bantuan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka sendiri.
Mengingat bahwa banyak pemimpin Quraisy ikut serta dalam angkatan perang ini,beberapa orang memncemaskan kalau-kalau banyak dari mereka itu yang akan terbunuh, sehingga Makkah sendiri nanti akan kehilangan arti. Sungguhpun begitu mereka masih takut kepada Abu Jahal yang begitu keras, juga mereka takut dituduh pengecut dan penakut. Tetapi tiba-tiba tampil 'Utba bin Rabi'a ke hadapan mereka itu sambil berkata:
"Saudara-saudara kaum Quraisy, apa yang tuan-tuan lakukan hendak memerangi Muhammad dan kawan-kawannya itu, sebenarnya tak ada gunanya. Kalau dia sampai binasa karena tuan-tuan, masih ada orang lain dari kalangan tuan-tuan sendin yang akan melihat, bahwa yang terbunuh itu adalah saudara sepupunya, dari pihak bapa atau pihak ibu, atau siapa saja dari keluarganya. Kembali sajalah dan biarkan Muhammad dengan teman-temannya itu. Kalau dia binasa karena pihak lain, maka itu yang tuan-tuan kehendaki. Tetapi kalau bukan itu yang terjadi, kita tidak perlu melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak kita inginkan."
Mendengar kata-kata 'Utba itu, Abu Jahal naik darah. Ia segera memanggil 'Amir bin'l-Hadzrami dengan mengatakan:
"Sekutumu ini ingin supaya orang pulang. Kau sudah melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang harus dituntut balas. Sekarang, tuntutlah pembunuhan terhadap saudaramu!"
'Amir segera bangkit dan berteriak: "O saudaraku! Tak ada jalan lain mesti perang!"
Dengan dipercepatnya pertempuran itu Aswad bin 'Abd'l-Asad (Makhzum) keluar dari barisan Quraisy langsung menyerbu ke tengah-tengah barisan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah selesai dibuat. Tetapi ketika itu juga Hamzah bin Abd'l-Muttalib segera menyambutnya dengansatu pukulan yang mengenai kakinya, sehingga ia tersungkur dengan kaki yang sudah berlumuran darah. Sekali lagi Hamzah memberikan pukulan, sehingga ia tewas di belakang kolam itu.
Begitu melihat Aswad jatuh, maka tampillah 'Utba bin Rabi'a didampingi oleh Syaiba saudaranya dan Walid bin 'Utba anaknya, sambil menyerukan mengajak duel. Seruannya itu disambut oleh pemuda-pemuda dari Medinah. Tetapi setelah melihat mereka ini ia berkata lagi:
"Kami tidak memerlukan kamu. Yang kami maksudkan ialah golongan kami."
Lalu dari mereka ada yang memanggil-manggil: "Hai Muhammad! Suruh mereka yang berwibawa dari asal golongan kami itu tampil!"
Ketika itu juga yang tampil menghadapi mereka adalah Hamzah bin Abd'l-Muttalib, Ali bin Abi Thalib dan 'Ubaida bin'l-Harith.
Hamzah tidak lagi memberi kesempatan kepada Syaiba, juga Ali tidak memberi kesempatan kepada Walid. Keduanya dibunuh. Lalu Hamzah dan Ali segera membantu 'Ubaida yang kini sedang diterkam oleh 'Utba. Begitu menyaksikan kenyataan itu, pasukan Quraisy maju menyerbu.
Pada pagi Jum'at 17 Ramadan itulah kedua pasukan itu berhadap-hadapan muka.
Sekarang Rasulullah SAW sendiri yang tampil memimpin Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, di samping perlengkapan yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, ia kembali ke pondoknya ditemani oleh Abu Bakar.
Sungguh cemas ia akan peristiwa yang akan terjadi hari itu, sungguh pilu hatinya melihat nasib yang akan menimpa Islam sekiranya Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.
Rasulullah SAW kini menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan, ia mengimbau Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan kepadanya, ia membisikkan permohonan dalam hatinya agar Tuhan memberikan pertolongan. Begitu dalam ia hanyut dalam doa, dalam permohonan, sambil berkata:
"Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan RasulMu. Ya Allah, pertolonganMu juga yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepadaMu."
Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakr lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahunya, sambil ia bermohon:
"Rasulullah, dengan doamu itu Tuhan akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu."
Tetapi sungguhpun begitu, Rasulullah SAW makin dalam terbawa dalam doa, dalam tawajuh kepada Allah; dengan penuh khusyu' dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan isyarat dan pertolongan Tuhan dalam menghadapi peristiwa, yang oleh kaum Muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk itu
tidak pula mereka punya persiapan. Karena yang demikian inilah akhirnya ia sampai terangguk dalam keadaan mengantuk. Dalam pada itu tampak olehnya pertolongan Tuhan itu ada. Ia sadar kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira.
Sekarang ia keluar menemui sahabat-sahabatnya; dikerahkannya mereka sambil berkata:
"Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga."
Jiwanya yang begitu kuat, yang telah diberikan Tuhan begitu tinggi melampaui segala kekuatan, telah tertanam pula dengan ajarannya ke dalam jiwa orang-orang beriman. Dan kekuatan mereka itu sudah melampaui semangat mereka sendiri, sehingga setiap orang dari mereka sama dengan dua orang, bahkan sama dengan sepuluh orang.
Apabila secara integral kemampuan moril ini belum lagi mencapai tujuannya disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat di kalangan Muslimin sebelum terjadi perang, belum dicapainya kekuatan materi sebagaimana yang diharapkan, maka dengan daya iman itu justru ia mempunyai kelebihannya.
Hal ini bertambah kuat lagi tatkala Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya dapat mengerahkan mereka. Maka dengan demikian, jumlah manusia dan perlengkapan yang sangat sedikit itu telah rnendapat kompensasi. Dalam keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya yang demikian inilah kedua ayat ini turun:
"O Nabi! Bangunkanlah semangat orang-orang beriman itu dalam menghadapi perang. Bila kamu berjumlah duapuluh orang yang tabah, mereka ini akan mengalahkan duaratus orang. Bila kamu berjumlah seratus orang, niscaya akan mengalahkan seribu orang kafir; sebab mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.
Sekarang Tuhan meringankan kamu, karena Ia mengetahui, bahwa pada kamu masih ada kelemahan. Maka, jika kamu berjumlah seratus orang yang tabah, akan dapat mengalahkan duaratus orang, dan jika kamu seribu orang, akan dapat mengalahkan duaribu dengan ijin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang berhati tabah." (Qur'an, 8:55-56.)
Keadaan pasukam Muslimin bertambah kuat setelah Rasulullah SAW membangkitkan semangat mereka, turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh.
Ia menyerukan kepada mereka, bahwa surga bagi mereka yang telah teruji baik dan langsung terjun ke tengah-tengah musuh.
Dalam hal ini kaum Muslimin mengarahkan perhatiannya pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Mereka hendak dikikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala mereka disiksa di Mekah dulu, dirintangi memasuki Mesjid Suci dan berjuang untuk Allah.
Bilal melihat Umayya b. Khalaf dan anaknya, begitu juga beberapa orang Islam melihat mereka yang dikenalnya di Mekah dulu. Umayya ini adalah orang yang pernah menyiksa Bilal dulu, ketika ia dibawanya ketengah-tengah padang pasir yang paling panas di Mekah. Ditelentangkannya ia di tempat itu lalu ditindihkannya batu besar di dadanya, dengan maksud supaya ia meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanya berkata: "Ahad, Ahad. Yang Satu, Yang Satu."
Ketika dilihatnya Umayya, Bilal berkata: "Umayya, moyang kafir. Takkan selamat aku, kalau kau lolos!"
Beberapa orang dari pasukan Muslimin mengelilingi Umayya dengan tujuan jangan sampai ia terbunuh dan akan dibawanya sebagai tawanan.
Tetapi Bilal di tengah-tengah orang banyak itu berteriak sekeras-kerasnya: "Sekalian tentara Tuhan! Ini Umayya b. Khalaf kepala kafir. Takkan selamat aku kalau ia lolos."
Orang banyak berkumpul. Tetapi Bilal tak dapat diredakan lagi, dan Umayya dibunuhnya. Ketika itu Mu'adh b. 'Amr b. Jamuh juga dapat menewaskan Abu Jahal b. Hisyam. Kemudian Hamzah, Ali dan pahlawan-pahlawan Islam yang lain menyerbu ke tengah-tengah pertempuran sengit itu. Mereka sudah lupa akan dirinya masing-masing dan lupa pula akan jumlah kawan-kawannya yang hanya sedikit berhadapan dengan musuh yang begitu besar.
Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara. Kepala-kepala ketika itu sudah lepas berjatuhan dari tubuh Quraisy. Berkat iman yang teguh keadaan Muslimin bertambah kuat juga. Dengan gembira mereka berseru: Ahad, Ahad.
Di hadapan mereka kini terbuka tabir ruang dan waktu, sebagai bantuan Tuhan kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkannya ke leher musuh, seolah-olah tangan mereka digerakkan dengan tenaga Tuhan.
Di tengah-tengah medan pertempuran yang sedang sibuk dikunjungi malaikat maut memunguti leher orang-orang kafir itu, Rasulullah SAW berdiri. Diambilnya segenggam pasir, dihadapkannya kepada Quraisy. "Celakalah wajah-wajah mereka itu!" katanya sambil menaburkan pasir itu kearah mereka. Sahabat-sahabatnya lalu diberi komando.
Serentak pihak Muslimin menyerbu ke depan, masih dalam jumlah yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudah penuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagi yang membunuh musuh, sudah bukan mereka lagi yang menawan tawanan perang. Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yang tertanam dalam jiwa mereka itu kekuatan moril mereka bertambah, sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula. Dalam hal ini firman Allah turun:
"Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Aku bersama kamu.' Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu. Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang kafir itu. Pukullah bagian atas leher mereka dan pukul pula setiap ujung jari mereka." (Qur'an, 8: 12)
"Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga." (Qur'an, 8: 17)
Tatkala Rasul melihat bahwa Tuhan telah melaksanakan janjiNya dan setelah ternyata pula kemenangan berada di pihak orang-orang Islam, ia kembali ke pondoknya. Orang-orang Quraisy kabur. Oleh Muslimin mereka dikejar terus. Yang tidak terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.
Inilah perang Badar, yang kemudian telah memberikan tempat yang stabil kepada umat Islam di seluruh tanah Arab, dan yang merupakan suatu pendahuluan lahirnya persatuan seluruh semenanjung di bawah naungan Islam, juga sebagai suatu pendahuluan adanya persekemakmuran Islam yang terbentang luas sekali. Ia telah menanamkan sebuah peradaban besar di dunia, yang sampai sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruh yang dalam di dalam jantung kehidupan dunia.
Perang Badar, Pertempuran Pertama Umat Islam Lawan Kafir Quraish
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan kaum kafir Quraish. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Perang Badar... | Halaman Lengkap [1,666] url asal
#perang-badar #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #sejarah-peperangan-islam #ramadan-2026 #perang-as-vs-iran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 11:18
v/151709/
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan kaum kafir Qurais y. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang.Berikut penjelasan kisahnya yang Dinukil dari buku "Sejarah Hidup Muhammad" karya Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah.
Pada hari kedelapan bulan suci Ramadantahun kedua Hijrah, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) berangkat dengan sahabat-sahabatnya meninggalkan Medinah. Imam salat diserahkan kepada 'Amr b. Umm Maktum, sedangkan pimpinan Medinah kepada Abu Lubaba dari Rauha'. Dalam perjalanan ini pasukan muslim didahului oleh dua bendera hitam. Mereka membawa tujuhpuluh ekor unta, yang dinaiki dengan cara silih berganti. Setiap dua orang, setiap tiga orang dan setiap empat orang bergantian naik seekor unta.
Dalam hal ini Rasulullah SAW juga mendapat bagian sama seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Dia, Ali b. Abi Thalib dan Marthad b. Marthad al-Ghanawi bergantian naik seekor unta. Abu Bakar, Umar dan Abdur-Rahman b. 'Auf bergantian juga dengan seekor unta. Jumlah mereka yang berangkat bersama Rasulullah SAW dalam ekspedisi ini terdiri dari 305 orang, 83 di antaranya Muhajirin, 41 orang Aus dan yang selebihnya dari Khazraj.
Karena dikuatirkan Abu Sufyan akan menghilang lagi, cepat-cepat mereka berangkat sambil terus berusaha mengikuti berita-berita tentang orang ini di mana saja mereka berada.Tatkala sampai di 'Irq'z-Zubya mereka bertemu dengan seorang orang Arab gunung yang ketika ditanyai tentang rombongan itu, ternyata ia tidak mendapat berita apa-apa.
Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di sebuah wadi bernama Dhafiran; di tempat itu mereka turun. Di tempat inilah mereka mendapat berita, bahwa pihak Quraisy sudah berangkat dari Mekah, akan melindungi kafilah mereka.
Ketika itu suasananya sudah berubah. Kini kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar bukan lagi berhadapan dengan Abu Sufyan dengan kalifahnya serta 30 atau 40 orang rombongannya itu saja, yang takkan dapat melawan Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, melainkan Makkah dengan seluruh isinya sekarang keluar dipimpin oleh pemuka-pemuka mereka sendiri guna membela perdagangan mereka itu.
Andaikata pihak Muslimin sudah dapat mengejar Abu Sufyan, dan beberapa orang dari rombongan itu sudah dapat ditawan, unta beserta muatannya sudah dapat dikuasai, pihak Quraisypun tentu akan segera pula dapat menyusul mereka. Soalnya karena terdorong oleh rasa cintanya kepada harta dan ingin mempertahankannya. Mereka merasa sudah didukung oleh sejumlah orang dan perlengkapan yang cukup besar. Mereka bertekad akan bertempur dan mengambil kembali harta mereka, atau bersedia mati untuk itu.
Tetapi sebaliknya, apabila Rasulullah SAW kembali ke tempat semula, pihak Quraisy dan Yahudi Medinah tentu merasa mendapat angin. Dia sendiri terpaksa akan berada dalam situasi yang serba dibuat-buat, sahabat-sahabatnya pun terpaksa akan memikul segala tekanan dan gangguan Yahudi Medinah, seperti gangguan yang pernah mereka alami dari pihak Quraisy di Mekah dahulu.
Ya, apabila ia menyerah kepada situasi semacam itu, mustahil sekali kebenaran akan dapat ditegakkan dan Tuhan akan memberikan pertolongan dalam menegakkan agama itu.
Sekarang ia bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Diberitahukannya kepada mereka tentang keadaan Quraisy menurut berita yang sudah diterimanya. Abu Bakar dan Umar juga lalu memberikan pendapat.Kemudian Miqdad bin 'Amr tampil mengatakan:
"Rasulullah, teruskanlah apa yang sudah ditunjukkan Allah. Kami akan bersama tuan. Kami tidak akan mengatakan seperti Banu Israil yang berkata kepada Musa: "Pergilahkamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah. Kami di sini akan tinggal menunggu. Tetapi, pergilah engkau dan Tuhanmu, dan berperanglah, kami bersamamu akan juga turut berjuang."
Semua orang diam. "Berikan pendapat kamu sekalian kepadaku," kata Rasul lagi.
Kata-kata ini sebenarnya ditujukan kepada pihak Anshar yang telah menyatakan Ikrar 'Aqaba, bahwa mereka akan melindunginya seperti terhadap sanak keluarganya sendiri, tapi mereka tidak mengadakan ikrar itu untuk mengadakan serangan keluar Medinah.
Tatkala pihak Anshar merasa bahwa memang mereka yang dimaksud, maka Sa'd bin Musadh yang memegang pimpinan mereka menoleh kepada Rasulullah SAW.
"Agaknya yang dimaksud Rasulullah adalah kami," katanya.
"Ya," jawab Rasul.
"Kami telah percaya kepada Rasul dan membenarkan," kata Sa'd pula, "Kamipun telah menyaksikan bahwa apa yang kaubawa itu adalah benar. Kami telah memberikan janji kami dan jaminan kami, bahwa kami akan tetap taat setia. Laksanakanlah kehendakmu, kami di sampingmu. Demi yang telah mengutus kamu, sekiranya kau bentangkan lautan di hadapan kami, lalu kau terjun menyeberanginya, kamipun akan terjun bersamamu, dan tak seorangpun dari kami akan tinggal di belakang. Kami takkan segan-segan menghadapi musuh kita besok. Kami cukup tabah dalam perang, cukup setia bertempur. Semoga Tuhan membuktikan segalanya dari kami yang akan menyenangkan hatimu. Ajaklah kami bersama, dengan berkah Tuhan."
Begitu Sa'd selesai bicara, wajah Rasulullah SAW tampak berseri. Tampaknya beliau puas sekali; seraya katanya: "Berangkatlah, dan gembirakan! Allah sudah menjanjikan kepadaku atas salah satunya dari dua kelompok itu. Seolah-olah kini kehancuran mereka itu tampak di hadapanku."
Merekapun lalu berangkat semua. Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah SAW pergi lagi dengan untanya sendiri. Beliau menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini ia menanyakan gerombolan Quraisy, yang kemudian daripadanya diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.
Lalu kembali lagi ia ke tempat sahabat-sahabatnya. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin'l-Awwam, Sa'd bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya segera ditugaskan mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Kurir ini segera kembali dengan membawa dua orang anak. Dari kedua orang ini Rasulullah SAW mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi. Ketika mereka menjawab, bahwa mereka tidak mengetahui berapa jumlah pihak Quraisy, ditanya lagi oleh Rasulullah SAW:
"Berapa ekor ternak yang mereka potong tiap hari?"
"Kadang sehari sembilan, kadang sehari sepuluh ekor," jawab mereka.
Dengan demikian Nabi dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka terdiri dari antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua anak itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy ikut serta memperkuat diri
Lalu katanya kepada sahabat-sahabatnya: "Lihat. Sekarang Makkah sudah menghadapkan semua bunga bangsanya kepada kita."
Mau tidak mau, sekarang ia dan sahabat-sahabatnya harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.
Bilamana Ali sudah kembali dengan kedua orang anak yang membawa berita tentang Quraisy itu, dua orang Muslimin lainnya lalu berangkat lagi menuju lembah Badar. Mereka berhenti di atas sebuah bukit tidak jauh dari tempat air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya, dan di sini mereka mengisi air itu.
Sementara mereka berada di tempat air, terdengar ada suara seorang budak perempuan, yang agaknya sedang menagih utang kepada seorang wanita lainnya, yang lalu dijawab:
"Kafilah dagang besok atau lusa akan datang. Pekerjaan akan kuselesaikan dengan mereka dan utang segera akan kubayar."
Kedua laki-laki itu kembali. Disampaikannya apa yang telah mereka dengar itu kepada Rasulullah SAW.
Tetapi, dalam pada itu Abu Sufyan sudah mendahului kafilahnya mencari-cari berita. Ia khawatir Rasulullah SAW sudah lebih dulu ada di jalan itu. Sesampainya di tempat air ia bertemu dengan Majdi bin 'Amr.
"Ada kau melihat orang tadi?" tanyanya.
Majdi menjawab bahwa ia melihat ada dua orang berhenti di bukit itu sambil ia menunjuk ke tempat dua orang laki-laki Muslim itu tadi berhenti. Abu Sufyanpun pergi mendatangi tempat perhentian tersebut. Dilihatnya ada kotoran dua ekor unta dan setelah diperiksanya, diketahuinya, bahwa biji kotoran itu berasal dari makanan ternak Yathrib.
Cepat-cepat ia kembali menemui teman-temannya dan membatalkan perjalanannya melalui jalan semula. Dengan tergesa-gesa sekali sekarang ia memutar haluan melalui jalan pantai laut. Jaraknya dengan Rasulullah SAW sudah jauh, dan dia dapat meloloskan diri.
Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi setelah ada berita-berita bahwa ia sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang yang tadinya mempunyai harapan penuh akan beroleh harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang bertukar pikiran dengan Nabi dengan maksud supaya kembali saja ke Medinah, tidak perlu berhadapan dengan mereka yang datang dari Mekah hendak berperang. Ketika itu datang firman Tuhan:
"Ingat! Tuhan menjanjikan kamu salah satu dari dua kelompok (musuh) itu untuk kamu. Sedang kamu menginginkan, bahwa yang tidak bersenjata itulah yang untuk kamu. Tetapi Allah mau membuktikan kebenaran itu sesuai dengan ayat-ayatNya, dan akan merabut akar orang-orang yang tak beriman itu."
Pada pihak Quraisy juga begitu. Perlu apa mereka berperang, perdagangan mereka sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga berpikir begitu.
Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy mengatakan: Kamu telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Tuhan. Kembalilah. Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.
Tetapi Abu Jahal ketika mendengar kata-kata ini, tiba-tiba berteriak: "Kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi. Biar orang-orang Arab itu mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita."
Soalnya pada waktu itu Badar merupakan tempat pesta tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, bisa jadi akan ditafsirkan oleh orang-orang Arab - menurut pendapat Abu Jahal - bahwa mereka takut kepada Rasulullah SAW dan teman-temannya. Dan ini berarti kekuasaan Rasulullah SAW akan makin terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya satuan Abdullah bin Jahsy, terbunuhnya Ibn'l-Hadzrami, dirampasnya dan ditawannya orang-orang Quraisy.
Mereka jadi ragu-ragu: antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi yang ternyata kemudian kembali pulang hanya Banu Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas b. Syariq, orang yang cukup ditaati mereka.
Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir. (Bersambung)
Peristiwa Penting Bulan Ramadan, Salah Satunya Perang Badar
Ada sejumlah peristiwa sejarah penting bagi umat Islam, terjadi di bulan Ramadan . Apa sajakah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan suci tersebut? Ada sejumlah... | Halaman Lengkap [1,243] url asal
#perang-badar #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #peristiwa-sejarah-di-bulan-ramadhan #sejarah-peperangan-islam #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 09:42
v/151560/
Ada sejumlah peristiwa sejarahpenting bagi umat Islam, terjadi di bulan Ramadan . Apa sajakah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan suci tersebut?Dirangkum dari berbagai sumber, inilah 9 peristiwa penting yang terjadi di bulan suci Ramadanyang perlu diketahui umat muslim.
Peristiwa Penting di Bulan Ramadan
1. Bulan Diturunkan Al-Quran
Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadan. Bulan yang diturunkan di dalamnya (permulaan) Al- Qur'an sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pemisah antara yang benar dan salah.Allah Ta'ala berfirman:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (QS. Al Baqarah: 185)
Para pakar tafsir dan hadis mencatat, Allah juga menurunkan kitab-kitab dan suhuf yaitu kitab-kitab kecil selain Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur'an kepada para rasul sebelumnya pada bulan Ramadan.
Ibnu Katsir Rahmatullah, berkata mengenai ayat ini dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim (I/460-461 –Darul Hadits), “Allah menyanjung bulan Ramadan dibanding bulan-bulan lain dengan dipilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Azhim. Karena itu, Allah mengistimewakannya. Hal ini juga memperjelas surah al-Qadr ayat 1yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. “ Sedang malam kemuliaan yang dimaksud merupakan malam Lailatul Qadr yang jatuh pada bulan Ramadan.
2.Pembebasan Kota Makkah
Fathul Makkah atau pembebasan Makkah merupakan peristiwa yang terjadi pada 630 M tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, yaitu saat Rasulullah beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Kabbah.Pada 628 M, Kaum Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Dalam perjanjian tersebut terdapat kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata selama sepuluh tahun. Hubungan antara kaum Quraisy dan Muslim pun membaik. Hingga kemudian kesepakatan 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, yang menyerang Bani Khuzzah yang merupakan sekutu Muslim. Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Rasulullah menolak.
Kemudian sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Kaum Quraisy ketakutan, banyak suku-suku (kafir) yang meletakan senjata. Abu Sufyan akhirnya masuk Islam. Sebagai penghormatan atasnya, Nabi mendoakannya. Kemudian beliau berseru, ”Barang siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, ia akan aman; barang siapa yang menutup pintu ruahnya, ia akan aman; dan barang siapa yang memasuki masjidil Harrom dia juga aman”. Penduduk Makkah pun kemudian berbondong-bondong menyatakan masuk Islam. Pada saat kemenangan itu, Nabi tidak pernah merasa dendam atas derita yang dialami dulu di Makkah. Setiap kejahatan yang pernah beliau derita telah ia lupakan. Bahkan kemenangan itu terjadii tanpa ada pertumpahan darah.
3.Perang Badar
Peristiwa ini merupakan pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, dalam keadaan sedang berpuasa dan kurang dalam segi perlengkapan, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”. (QS Al-Imran:123)
4. Peristiwa Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Tabuk
Ketika pengaruh Nabi Muhammad SAW tersebar ke pelosok Semenanjung tanah arab, ia memberikan pukulan kepada rom yang menjadi kekuatan besar di masa itu. Lantas herkules, kaisar rom timur (bizantin) memutuskan untuk memblokir pengaruh umat islam dengan utara tanah arab.Bila berita itu sampai ke pengetahuan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, beliau mengarahkan umat islam berkumpul untuk menghadapi Rom dan mengutip zakat. Pada waktu itu tanah arab dilanda panas dan kesusahan. Iman umat islam saat itu benar-benar teruji. Namun, mereka tetap taat kepada perintah Nabi Muhammad SAW. Beliau sendiri memimpin tentara sebanyak 30.000 anggota ke utara Madinah.
Bila tentara islam tiba di tabuk, tentara rom tidak berada di situ. Sebaliknya rom menarik diri saat mengetahui serangan pasukan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam yang banyak. Tentara islam terus mengasak rom sehingga Termeterai perjanjian antara islam dan rom. Sebagai persetujuan, rom tunduk dan bernaung di bawah pemerintahan Nabi Muhammad dan dikenakan pajak sebesar 3.000 dinar setiap tahun.
5. Islam Sampai ke Yaman
Yaman terletak di selatan semenanjung Tanah Arab. Nabi muhammad mengutus Ali bin Abi Thalib dengan membawa surat beliau untuk penduduk yaman khususnya suku Hamdan. Dalam periode satu hari, semua mereka memeluk agama islam secara aman. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun ke-10 hijrah.6. Khalid bin Walid Meruntuhkan Berhala Al ‘uzza
Setelah umat islam membebaskan kota Makkah, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyucikannya dengan memusnahkan 360 patung di sekeliling Ka'bah. Lima hari sebelum berakhirnya ramadhan tahun ke-9 hijrah, ia mengirim khalid al walid untuk memusnahkan patung al 'Uzza di nakhla.Menurut kepercayaan arab jahiliyah, al 'Uzza adalah patung dewi terbesar di situ. Ia sering disebut oleh masyarakat arab saat melafalkan sumpah. Khalid al Walid melaksanakan tugas itu dengan bergerak menuju ke nakhla lalu menghancurkan patung al 'Uzza. Setelah itu, penyembahan patung pun berakhir.
7. Penyerahan Kota Ta'if
Kota Ta'if pernah mencatat sejarah ketika penduduknya mengusir Nabi Muhammad SAW saat berdakwah di sana. Setelah beliau dan umat islam berhasil membebaskan Makkah, kaum Bani Thaqif bersikeras tidak mau tunduk kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Nabi Muhammad SAW dan tentara islam mara ke Taif lalu mengepungnya dalam waktu lama. Akhirnya rombongan mereka datang ke Makkah di bulan Ramadan tahun ke-9 hijrah dengan menyerahkan kota Ta'if sebagai tanda menyerah. Patung al laata yang dipuja sebelum ini dimusnahkan.8. Pembebasan Andalusia (Spanyol)
Andalus adalah nama Arab yang diberikan kepada wilayah-wilayah bagian semenanjung Siberia yang diperintah oleh orang islam selama beberapa waktu mulai tahun 711 sampai 1492 Masehi. Pada 28 Ramadhan tahun ke-92 hijrah, panglima islam bernama Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah untuk menawan andalus. Tariq memimpin armada Islam menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa.Setelah pasukan islam mendarat, tariq membakar kapal-kapal tentara islam agar mereka tidak berpikir untuk mundur. Akhirnya andalus ditawan dan menyelamatkan rakyatnya yang dizalimi. Islam bertapak di andalus selama delapan abad dan merusak peradaban yang tinggi nilainya kepada dunia barat.
9. Tentara Islam Mengalahkan Tentara Mongol
Pada tahun 126 sampai 1405 Masehi, kaum mongol melebarkan penaklukannya hampir semua benua Asia. Menurut catatan, kekaisaran penaklukan mereka meliputi seluas 33 juta kilometer persegi. Jenderal tentara Mongol dikenal sebagai Genghis Khan. Dalam misi penaklukan itu, mereka membunuh lebih sejuta rakyat negara yang dikalahkan. Penaklukan mereka menjangkau sampai ke Moscow dan Kiev.Pada tahun 1258, tentara pimpinan jenderal Hulagu Khan merebut Kota Baghdad yang menjadi kemegahan dinasti Abbasiah. Dalam serangan itu, banyak umat islam terbunuh dan banyak buku karangan sarjana islam dibuang ke dalam Sungai Furat dan Dajlah sehingga airnya menjadi hitam karena tinta.Pada 15 Ramadan 658 hijrah bersamaan 1260 Masehi, tentara islam bangkit membuat serangan balas. Tentara islam dan para ulama pimpinan sultan qutuz dari dinasti Mamluk, Mesir mara ke Palestina setelah Mongol menguasainya. Kedua pihak bertemu di 'ain jalut.
Dalam pertempuran itu, tentara islam meraih kemenangan dan berhasil menawan Kitbuqa Noyen, seorang letnan kristen yang memberi nasihat kepada Hulagu Khan untuk menyerang Baghdad. Kitbuqa akhirnya dieksekusi. Kemenangan itu adalah suatu yang luar biasa saat Mongol yang terkenal dengan kekerasan akhirnya kalah pada tentara islam.
Kisah Hikmah : Menghormati Bulan Ramadan, Pemuda Gemar Maksiat Malah Mendapat Ampunan dan Masuk Surga
Kisah seorang pemuda yang selama hidupnya gemar bermaksiat, tetapi saat Ramadan tiba, ia menjauhi dosa dan menghidupkan ibadah. Tak disangka, setelah meninggal,... | Halaman Lengkap [352] url asal
#kisah-inspiratif #kisah-hikmah #ampunan-allah-di-bulan-ramadhan #puasa-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/02/26 17:10
v/150498/
Kisah hikmah ini datang dari seorang pemuda yang selama hidupnya gemar bermaksiat, tetapi saat Ramadan tiba, ia menjauhi dosa dan menghidupkan ibadah. Tak disangka, setelah meninggal, ia justru mendapatkanampunan Allahdan masuk surga.Teks kisah ini diambil dari kitab Irsyadul ‘Ibad karangan Syekh Zainudin Al Malibari. Beliau mengisahkan pemuda maksiat yang menghormati bulan suci Ramadandengan mengutip perkataan ulama.
Alkisah pada zaman dulu, di suatu daerah, ada seorang pemuda bernama Muhammad. Ia jarang mendirikan salat kecuali hanya sekali. Namun ketika memasuki bulan Ramadan, tiba tiba ia berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, ia memperindah dirinya dengan pakaian yang bagus dan wewangian, lalu berpuasa, salat, serta mengganti ibadah yang pernah ia tinggalkan.
Masyarakat sekitar pun lantas penasaran dengan sikap pemuda ini dan bertanya kepadanya tentang sikapnya yang berubah menjadi pribadi yang baik, ia pun menjawab: “Ini adalah bulan tobat, rahmat, dan keberkahan. Semoga Allah mengampuni dosaku dengan karunia-Nya."
Setelah berlalunya waktu, pemuda itu pun meninggal dunia. Ada seseorang yang bermimpi bertemu dengannya lantas orang itu pun bertanya perihal keadaannya sekarang: "Apa yang telah Allah lakukan kepadamu?" Pemuda itu pun lantas menjawab: "Allah telah mengampuniku karena kemuliaan bulan Ramadan."
Hikmah Kisah
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran untuk menambah motivasi agar kita menghormati bulan Ramadan dengan memperbanyak amal ibadah pun juga menahan agar tidak bermaksiat. Harapannya tentu agar mendapat ampunan Allah seperti kisah pemuda dalam kisah tersebut.Sejatinya ketika kita menghormati bulan Ramadan, itu adalah sebuah tanda bahwa Allah SWT peduli dan sayang kepada hambaNya. Buktinya Allah menakdirkan kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadan dengan memaksimalkan amal ibadah.
Namun jika kita tambah brutal dan lalai di bulan Ramadan ini, itu artinya Allah sedang marah dan benci kepada kita. Syekh Nawawi Al Bantani pernah menjelaskan;
Artinya: ”Sesungguhnya Allah Ta’ala, jika mencintai seorang hamba, Allah akan menakdirkan hamba tersebut di waktu-waktu yang mulia dengan amalan-amalan yang mulia. Namun jika Allah murka, Allah akan menggerakkanya di waktu-waktu yang mulia dengan amalan-amalan yang buruk, agar azab-Nya lebih pedih dan murka-Nya lebih besar karena telah kehilangan keberkahan waktu dan melanggar kehormatannya.” (Muraqil Ubudiyyah Syarh Bidayatul Hidayah, halaman 58).
Memasuki 10 Hari Kedua Ramadan : Fase Ampunan dan Perbanyak Amalan Terbaik
Tak terasa umat Islam sudah akan memasuki 10 hari kedua bulan Ramadan, atau hari-hari pertengahan yang merupakan fase ampunan. Karena itu, kaum Muslim harus meningkatkan... | Halaman Lengkap [687] url asal
#amalan #ampunan-allah-di-bulan-ramadhan #panduan-puasa-ramadan #bulan-suci-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/02/26 05:15
v/148908/
Tak terasa umat Islam sudah akan memasuki 10 hari kedua bulan suci Ramadan, atau hari-hari pertengahan yang merupakan fase ampunan. Karena itu, kaum Muslim harus meningkatkan amalan-amalan terbaiknya di bulan suci ini.Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman dan Ibnu Khuzaimah menerangkan: "Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan (maghfirah), sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka."
Sebagian ulama mengatakan hadis dhaif (statusnya lemah), tetapi jika dimaksudkan untuk fadhoil 'amal (keutamaan beramal) tidak apa-apa. Yang pasti, semua hari-hari Ramadan adalah ampunan dan keberkahan.
Apa yang kita lakukan pada fase 10 hari pertama Ramadan sebaiknya jadi bahan evaluasi dan muhasabah agar ibadah di hari-hari berikutnya bernilai di sisi Allah.
Dalam Kitab Ihya' Ulumuddin Juz I Hal 235, Imam Al-Ghazali menerangkan orang yang merugi di bulan Ramadan: "Banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus. Ada yang mengatakan ia adalah orang yang berbuka dengan sesuatu yang haram. Ada yang mengatakan, ia adalah orang yang menahan diri dari makanan yang halal dan berbuka dengan (memakan) daging orang lain sebab gibah (menggunjing) dan gibah itu adalah haram. Dan ada yang mengatakan, ia adalah orang yang tidak menjaga anggota badannya dari macam-macam dosa".
Fase 10 Hari Pertengahan Ramadan
Pada 10 Hari kedua Ramadan nanti, umat muslim hendaknya menjauhi perkara-perkara yang merusak ibadah puasa. Kelima perkara ini jangan dianggap remeh karena dapat merontokkan pahala puasa.Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam satu sabda beliau:
Artinya: "Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja." (HR Ath-Thabrani)
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa, yaitu: berbohong (dusta), menggunjing (ghibah), mengadu orang (namimah), bersumpah palsu dan memandang lawan jenis dengan syahwat".
5 Perkara yang Harus Dijauhi
1. Berbohong2. Ghibah (menggunjing)
3. Namimah (mengadu domba)
4. Bersumpah palsu
5. Melihat lawan jenis dengan syahwat.
Amalan 10 Hari Kedua Ramadan:
1. Memperbanyak Sedekah
Dalam Hadis disebutkan, siapa memberi makan untuk berbuka puasa maka dia memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana ganjaran yang diberikan atas orang yang berpuasa tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.Ada seorang sahabat mengeluh dan bertanya kepada Baginda Nabi. "Wahai Rasulullah! Tidak semua di antara kami memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang sedang berpuasa untuk berbuka." Maka Nabi menguatkan hati sahabatnya itu: "Allah akan mengaruniakan pahala dan ganjaran ini kepada seseorang yang memberi buka puasa walau hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air atau seisap susu." Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadan." (HR. at-Tirmidzi).
Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan dan sifat dermawannya semakin bertambah pada bulan Ramadan.
Pada fase kedua ini hendaknya umat Islam memperbanyak sedekah, menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Keutamaan bersedekah disampaikan oleh Baginda Nabi, beliau bersabda: "Sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR At-Tirmidzi)
2. Menghidupkan Salat Sunnah dan Qiyam Ramadan
Pada 10 hari kedua bulan Ramadan ini umat muslim harus lebih bersemangat mengerjakan salat-salat sunnah termasuk Qiyam Ramadan.Diriwayatkan bahwa siapa yang mengerjakan amalan sunnah di bulan Ramadan maka pahalanya diganjar pahala amalan fardhu (wajib). Sedangkan amalan fardhu di bulan Ramadan sama dengan pahala 70 amalan fardhu di bulan lainnya.Selain menghidupkan salat Tarawih berjamaah, kita harus lebih bersemangat lagi mengerjakan ibadah sunnah. Rasulullah SAW bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit." (HR Muslim)
3. Memperbanyak Tilawah Qur'an
Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah. Sedangkan saat yang paling pemurah bagi Beliau pada bulan Ramadhan adalah pada saat Malaikat Jibril mengunjungi beliau setiap malam bulan Ramadhan, lalu melakukan mudarasah Al-Qur'an bersama Nabi. Rasulullah ketika dikunjungi Malaikat Jibril lebih dermawan dari angin yang berhembus.Termasuk Tadarus Al-Qur'an (pada bulan Ramadan) adalah mudarasah yang sering disebut pula dengan idarah yaitu seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang lain itu membaca pada dirinya (yang seperti ini tetap sunnah) sekalipun apa yang dibaca (orang tersebut) tidak seperti yang dibaca orang pertama. (Kitab Nihayah Al Zain Hal 194)
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)