Jakarta (ANTARA) - Uni Eropa (UE) menyatakan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) berpotensi memberikan keunggulan dagang baru bagi Indonesia ketika diberlakukan, terutama melalui penurunan tarif produk ekspor.
Duta Besar UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Denis Chaibi mengatakan beberapa komoditas Indonesia akan memperoleh tarif 0 persen pada hari pertama perjanjian berlaku.
“Kami memperkirakan sejumlah produk Indonesia, seperti alas kaki, pakaian, dan minyak sawit, dapat masuk pasar Uni Eropa dengan tarif nol persen sejak hari pertama CEPA berjalan,” katanya dalam International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan Skema Preferensi Tarif Umum (GSP) yang saat ini dinikmati Indonesia akan berakhir pada 1 Januari 2027.
Menurut dia, penyelesaian perjanjian dagang menjadi penting agar daya saing produk Indonesia tidak menurun akibat kenaikan kembali bea masuk.
Chaibi menambahkan bahwa tarif beberapa komoditas Indonesia saat ini berada di kisaran 12 hingga 17 persen. Melalui IEU-CEPA, tarif tersebut dapat diturunkan menjadi 0 persen apabila perjanjian selesai dan diberlakukan tepat waktu.
Sektor alas kaki disebutnya menjadi salah satu yang paling potensial mendapat manfaat, mengingat Indonesia bersaing dengan Vietnam yang telah menikmati tarif 0 persen karena perjanjian perdagangan bebas dengan UE.
Hal serupa juga berlaku pada minyak sawit, lanjut Chaibi, di mana Indonesia berpeluang memperoleh posisi kompetitif yang lebih kuat dibanding Malaysia.
“Malaysia masih harus membayar bea masuk untuk memasuki pasar Uni Eropa. Jadi Indonesia berpeluang memperoleh posisi lebih kompetitif,” ujarnya.
Ia menyebut pemanfaatan peluang dagang pascaIEU-CEPA apabila disepakati, akan tetap membutuhkan investasi lanjutan di dalam negeri, baik untuk meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, maupun transparansi rantai pasok.
"Indonesia berpotensi mendapatkan keuntungan kompetitif dalam hal tarif, tapi juga penting bagi Indonesia untuk membuat investasi, untuk memastikan bahwa mereka dapat menerima manfaat dari keuntungan kompetitif ini," ungkapnya.
Direktur Eksekutif Preferred by Nature Peter Feilberg menilai peningkatan standar keberlanjutan juga dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar Eropa.
Feilberg menambahkan bahwa praktik budidaya berkelanjutan, seperti produksi beras rendah karbon, dapat menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha Indonesia saat memasuki pasar yang memiliki standar lingkungan tinggi.
“Konsumen Eropa semakin menuntut produk yang efisien dan dapat dilacak, termasuk untuk komoditas pangan,” ucapnya.
Dalam forum yang sama, UE menegaskan komitmen untuk memperluas kemitraan dengan Indonesia, termasuk melalui dukungan bagi proyek pangan berkelanjutan dan penguatan pelaku usaha di daerah sentra produksi.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025