Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat pada Kamis (16/10/2025) seiring dengan sikap investor menimbang kembali ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix Jepang ditutup naik 0,62% ke level 3.203,42. Indeks S&P/ASX 200 Australia terpantau menguat 0,86% pada level 9.068,40. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan terpantau naik 2,49% ke level 3.748,37.
Selanjutnya, indeks komposit Shanghai China juga naik 0,10% ke level 3.916,23. Indeks Hang Seng Hong Kong tercatat turun tipis 0,09% pada level 25.888,51. Adapun, indeks Straits Times STI Singapura juga melemah 0,37% pada level 4.352,19.
Indeks MSCI Asia naik 0,9%, didorong oleh kenaikan kuat saham ZTE Corp. dari China dan SK Hynix Inc. dari Korea Selatan.
Kenaikan di pasar saham menunjukkan optimisme investor terhadap prospek korporasi, meskipun ketegangan dagang AS–China kembali membayangi sentimen.
Setelah beberapa bulan relatif tenang, gesekan antara Washington dan Beijing kembali meningkat, memicu volatilitas di pasar saham ketika investor memanfaatkan pelemahan untuk melakukan pembelian.
“Investor semakin terbiasa dengan dinamika politik yang naik turun. Selama hal itu tidak memengaruhi laba perusahaan, yang menjadi penggerak utama pasar berisiko, maka dampaknya terhadap pasar saham tidak akan besar,” ujar Fabiana Fedeli, Chief Investment Officer untuk ekuitas, multi-aset, dan keberlanjutan di M&G Investments.
Ketegangan Dagang Kembali Meningkat
Pasar saham Amerika sempat berfluktuasi tajam pada Rabu (15/10/2025) setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut negaranya terkunci dalam perang dagang dengan China, disusul komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang membuka kemungkinan gencatan dagang jangka panjang.
Trump berbicara beberapa jam setelah Bessent mengisyaratkan potensi perpanjangan jeda tarif impor produk China lebih dari tiga bulan, asalkan Beijing membatalkan rencana pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth).
Sejak awal tahun, AS dan China telah menyepakati serangkaian gencatan dagang 90 hari, dengan batas waktu berikutnya jatuh pada November mendatang.
Sementara itu, pelaku pasar juga mulai meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan The Federal Reserve akan memangkas suku bunga secara lebih agresif sebelum akhir tahun, dibandingkan proyeksi kebanyakan analis.
Pasar saham global saat ini tengah memasuki fase koreksi ringan setelah mengalami salah satu periode reli enam bulan terbaik sejak 1950-an.
Namun, koreksi tersebut sejauh ini belum berlangsung lama, didukung optimisme bahwa pemangkasan suku bunga The Fed akan terus menjaga momentum positif bagi kinerja korporasi AS.