Bisnis.com, JAKARTA – Persaingan industri rumah sakit yang dipenuhi oleh nama-nama besar konglomerat Tanah Air, semakin meningkatkan persaingan antarbisnis. Pelaku industri tanpa berbekal nama besar, kini harus memutar otak dan memanaskan nyali untuk bertaruh di ketatnya persaingan industri ini.
Penerima manfaat akhir sekaligus Komisaris Utama Bundamedik Ivan Rizal Sini, menjadi orang yang kini menanggung legacy tersebut. Bundamedik telah berkembang selama setengah dekade terakhir untuk mencengkeram pangsa pasar kesehatan Ibu dan Anak. Menanggung legacy itu, Ivan tidak punya pilihan mundur.
”Dan memang sebagai keluarga yang mempunyai tanggung jawab untuk bisa meneruskan legacy itu menjadi penting. Saya merasa bahwa that’s the nature dari bisnis seperti ini adalah memang harus mempunyai nyawa dari kami, keluarga. So, we’re not going anywhere,” tegasnya saat diwawancara Bisnis, Jumat (6/3/2026).
Melansir laman resminya, RS Bundamedik semula adalah sebuah klinik bersalin yang didirikan oleh Rizal Sini pada 1961. Baru pada 27 Maret 1973, BMHS bertransformasi menjadi rumah sakit bersalin. Nama besar Bundamedik kini diemban oleh generasi kedua keturunan Rizal Sini.
Kini persaingan industri rumah sakit kian dipadati nama-nama grup atau konglomerat besar Tanah Air. Sebut saja PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) yang merupakan entitas dari Grup Lippo. Begitu juga dengan Grup Eka Hospital yang berada di bawah Grup Sinarmas.
Meskipun begitu, Ivan tampak tidak gentar. Tidak ada pilihan lain baginya selain mengembangkan Bundamedik baik dari sisi pelayanan maupun komersial, untuk dapat bertarung di tengah kondisi ini.
”Jadi kita juga mempunyai tanggung jawab untuk bisa bagaimana well-competed di dalam industri yang tentu udah mulai sesak dengan heavy investment. Jadi, kami mesti smart dalam hal ini dan saya pikir kami siap kok untuk itu [bersaing dengan rumah sakit grup besar],” katanya.
Beberapa langkah strategis yang akan dijalankan Bundamedik dalam peta persaingan ini antara lain mempertahankan brand image pelayanan Ibu dan Anak serta selalu melakukan pemutakhiran teknologi.
Hanya saja, Ivan menegaskan bahwa dia tidak menginginkan customer-nya masih memandang Bundamedik hanya sebagai rumah sakit bersalin. Namun, Bundamedik kini berupaya kian mencengkeram pangsa pasar tanpa kehilangan akarnya.
”Bundamedik sekarang adalah Bundamedik yang agresif, yang very competitive, dan kami juga siap untuk bersaing secara head to head dengan kompetitor yang lain, tapi dengan diferensiasi karakter kami yang tentu itu menjadi ciri khas kami,” tegasnya.
Menjawab tantangan tersebut, segenap langkah akan diambil Bundamedik. Salah satunya, memboyong sistem robotik baru dalam waktu dekat. BMHS yang semula baru mengoperasikan satu sistem robotik sejak 2013, kini berencana menambah satu sistem lainnya.
Rencana pembelian robot baru ini juga didasarkan pada telah maksimalnya penggunaan robot BMHS yang telah beroperasi selama sedikitnya 13 tahun. Robot tersebut telah melakukan 100 tindakan selama satu tahun.
Selama satu tahun, tindakan laparoskopi atau bedah minimal invasif yang dilakukan BMHS tercatat sebanyak 300 kali. Dengan begitu, penggunaan robot BMHS telah mencerminkan 20—30% dari tindakan yang biasanya diambil secara manual.
Selain memboyong robot, sederet rencana pembangunan hingga akuisisi rumah sakit baru juga muncul dalam benak perseroan. Hanya saja, Ivan tidak menerangkan kapan aksi itu akan dijalankan.
”Kami punya capacity leverage dari funding masih cukup. Cuma nanti aksi selanjutnya adalah how aggressive do we want? Dan saya rasa being conservative dalam setahun—dua tahun terakhir, buat kami cukup sih. Kami akan lebih agresif,” tegasnya.