Bisnis.com, CIREBON- Perkembangan harga komoditas di Kabupaten Majalengka sepanjang April 2026 menunjukkan tren kenaikan secara tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka mencatat inflasi tahunan (yoy) sebesar 3,01%, didorong terutama oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga.
Kepala BPS Kabupaten Majalengka, Joni Kasmuri, mengatakan kenaikan tersebut tercermin dari indeks harga konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,46 pada April 2025 menjadi 111,72 pada April 2026.
“Secara umum, inflasi tahunan masih berada dalam rentang terkendali, meski tekanan harga pada beberapa komoditas cukup terasa,” ujar Joni, Selasa (5/5/2026).
Meski demikian, secara bulanan (mtm) Majalengka justru mengalami deflasi sebesar 0,08%. Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender tercatat sebesar 1,29%.
Secara rinci, inflasi yoy terjadi akibat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 4,11%. Disusul kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 4,40% serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 15,94%.
Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami kenaikan 1,91%, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga 1,78%, serta pendidikan 1,37%. Adapun kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,74 persen, diikuti kesehatan 0,62% dan transportasi 0,16%.
“Tekanan inflasi terutama masih bersumber dari komoditas pangan dan kebutuhan sehari-hari yang sensitif terhadap distribusi dan pasokan,” kata Joni.
Sejumlah komoditas tercatat dominan menyumbang inflasi tahunan, antara lain emas perhiasan, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, minyak goreng, serta berbagai jenis rokok seperti sigaret kretek tangan dan mesin. Selain itu, komoditas hortikultura seperti cabai rawit, tomat, kangkung, bayam, dan kubis juga turut mendorong kenaikan harga.
Komoditas lain yang berkontribusi antara lain ikan mas, bahan bakar rumah tangga, nasi dengan lauk, hingga kebutuhan pendidikan seperti tas sekolah.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi secara tahunan. Di antaranya bawang merah, bawang putih, bensin, angkutan antarkota, daging sapi, hingga sejumlah komoditas konsumsi seperti kopi bubuk dan buah-buahan.
Fenomena serupa juga terjadi pada inflasi bulanan. Sejumlah komoditas seperti minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, sayuran, serta layanan seperti tarif dokter umum dan telepon seluler mendorong inflasi m-to-m. Namun, tekanan tersebut tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, hingga ikan konsumsi seperti lele dan mujair.
“Pergerakan harga secara bulanan lebih dinamis karena dipengaruhi siklus panen dan distribusi. Ini yang menyebabkan April mengalami deflasi meski secara tahunan tetap inflasi,” ujarnya.
BPS mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi y-on-y dengan andil 1,48 %. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,91% serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,16 persen.
Sementara kelompok lain memberikan kontribusi relatif kecil, seperti pakaian dan alas kaki 0,11 persen, perumahan 0,08%, perlengkapan rumah tangga 0,08%, serta rekreasi dan budaya 0,09 persen.
Joni menilai, struktur inflasi Majalengka masih sangat bergantung pada pergerakan harga pangan. Oleh karena itu, stabilisasi pasokan dan distribusi menjadi kunci utama dalam mengendalikan inflasi ke depan.
“Upaya pengendalian inflasi perlu difokuskan pada komoditas strategis, terutama bahan pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat,” kata dia.