ASUS Business raih marketshare 17% di Q1/2026, fokus pada segmen B2B dan flagship meski ada kelangkaan cip. Penjualan tumbuh 117% YoY di Indonesia. [467] url asal
Bisnis.com, SEMARANG - ASUS melaporkan peningkatan pangsa pasar pada Kuartal I/2026. Aldi Ramadiansyah, Commercial Product Marketing Asus Indonesia, mengklaim bahwa sepanjang tahun 2025 perusahaan teknologi asal Taiwan itu mencatat pertumbuhan penjualan di Indonesia sebesar 117% (year-on-year/YoY).
Kondisi itu berbanding terbalik dengan iklim industri yang masih terguncang oleh kelangkaan cip dan kenaikan harga komponen komputer di tingkat global.
Aldi menyebut kehadiran ASUS Business sebagai lini penjualan produk business-to-business (B2B) dan komersial menjadi salah satu alasan kenaikan penjualan ASUS.
Lini penjualan itu pertama diperkenalkan pada 2019 dan terus mencatatkan peningkatan pangsa pasar. Dari peringkat 6 di tahun 2024, ke peringkat 4 di tahun 2025.
"Kami men-track performance-nya, pada Kuartal I/2026, kami mencatat peningkatan marketshare. Sekarang sudah di 17% dan secara ranking sudah menduduki peringkat 3. Semoga kita bisa mengamankan posisi nomor 1 di 2027 pada pasar laptop bisnis di Indonesia," tutur Aldi dalam acara yang digelar di Kota Semarang pada Rabu (24/6/2026).
Muhammad Firman, Head of Corporate Communications ASUS Indonesia, menjelaskan bahwa keberadaan ASUS Business merupakan strategi perusahaan untuk menjangkau lebih banyak konsumen di tengah disrupsi pada sektor teknologi informasi.
Perkembangan Akal Imitasi (AI) atau kecerdasan buatan telah mengubah peta rantai pasok di tingkat dunia.
"Di saat kita sedang gencar-gencarnya menerapkan teknologi AI di laptop dan juga PC, sementara di sisi produsen semikonduktor, semuanya lebih fokus untuk memasok kebutuhan data center. Jadi shortage untuk komponen itu berpengaruh terhadap ketersediaan produk," jelas Firman.
Imbasnya, Firman menyebut terjadi kenaikan harga produk sebesar 50% (yoy) akibat kelangkaan komponen, khususnya chip. Kondisi tersebut diprediksi masih akan berlanjut dan diproyeksikan bisa semakin mengerek harga produk hingga 170% dibanding harga normal.
Konsumen di entry level menjadi segmen yang paling berdampak dari kenaikan harga tersebut. Firman menyebut, sepanjang tahun 2025, ada penurunan penjualan sebesar 20-30% pada segmen entry level. Sebaliknya, pada segmen flagship dan B2B, dampak tersebut justru tidak banyak terasa.
Prospek pada segmen konsumen flagship dan B2B itulah yang coba digarap oleh ASUS Business. Firman menyampaikan bahwa meskipun terjadi kenaikan harga, namun segmen tersebut relatif resilien karena sudah memiliki anggaran yang ditetapkan sejak tahun sebelumnya. "Kita tidak bisa melawan kondisi yang terjadi, jadi yang kami ubah adalah fokusnya. Kalau sebelumnya kita fokus ke entry yang sensitif tadi, maka sekarang kita lebih fokus ke B2B, segmen komersial, atau mereka yang punya kebutuhan untuk ekspansi bisnisnya. Kami coba perkenalkan dengan Asus Business Series," jelas Firman.
Firman mengaku optimistis ASUS ExpertBook Ultra yang menjadi produk flagship pada kelas B2B bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40% serta beragam fitur dan teknologi mutakhir yang dibenamkan, Firman menyebut ASUS Indonesia siap untuk mempertahankan kinerja positif yang berhasil diraih pada tahun sebelumnya.
"Kami ingin membuktikan apakah produk ini sesuai dengan tagline yang kami bawa, yaitu Flagship of the Industry. period," imbuhnya.
Harga iPhone dan Samsung Galaxy naik Juni 2026 akibat pelemahan rupiah dan kelangkaan cip. Kenaikan signifikan pada model premium seperti iPhone 17 dan Galaxy S26. [1,576] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Harga SmartphoneSamsung dan Apple mengalami kenaikan pada Juni 2026 dibandingkan dengan Mei 2026. Peningkatan harga terjadi signifikan untuk kelas premium seperti lini iPhone 17 dan Galaxy S26. Pengamat telah memprediksi kenaikan ini yang salah satu faktornya diduga imbas pelemahan rupiah di tengah kelangkaan cip.
Berdasarkan data tradingview, rupiah ditutup melemah sebesar 0,53% ke level Rp17.879 pada 29 Mei 2026. Adapun jika dibandingkan dengan 1 Mei 2026 yang saat itu masih berada pada level 17.228, rupiah konsisten mengalami kenaikan.
Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan, industri smartphone global saat ini tengah tertekan akibat perebutan pasokan chip dengan sektor pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, lonjakan pembangunan data center membuat produsen semikonduktor lebih memprioritaskan pasokan untuk server AI dibanding perangkat konsumen seperti smartphone, laptop, maupun komputer pribadi.
"Pasokan chip di dunia sedang bermasalah karena berebutan dengan data center, sehingga ini kan mempengaruhi bisnis smartphone dan ada potensi, bahkan sudah terjadi kenaikan harga karena kelangkaan chip," tutur Heru kepada Bisnis, dikutip Senin (1/6/2026).
Dia menjelaskan, kenaikan biaya komponen global diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang kini bergerak di atas Rp17.000 per dolar AS. Padahal, sebagian besar bahan baku dan komponen smartphone masih menggunakan denominasi dolar AS.
“Kalau dulu rata-rata ponsel dihitung dengan kurs Rp15.000 per dolar AS, sekarang sudah Rp17.000 lebih. Banyak komponen dalam dollar AS sehingga mau tidak mau akan ada penyesuaian harga,” katanya.
Heru menilai, kombinasi tekanan biaya produksi dan depresiasi rupiah membuat kenaikan harga smartphone di Indonesia sulit dihindari pada kuartal II/2026. Di sisi lain, masyarakat juga cenderung menahan pembelian perangkat baru di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dia menyebut, konsumen kini lebih selektif dan memilih bersikap wait and see sebelum mengganti perangkat lama.
"Kalau memang mereka [konsumen] membutuhkan ponsel baru, dia akan beli. kalau misalnya panel nya masih berfungsi dengan baik mereka akan melihat perkembangan ke depan," jelas Heru.
Jajaran iPhone 17
iPhone dan Samsung Galaxy Naik Harga 1 Juni 2026
Ramalan tersebut benar terjadi. Pada 1 Juni 2026 sejumlah produsen smartphone menaikkan harga perangkat mereka untuk sejumlah produk kelas atas. Adapun untuk produk segmen mid dan entry level, harga relatif terjangkau.
Merujuk data iBox, Senin (1/6/2026), kenaikan harga yang cukup signifikan melanda lini reguler jadul hingga generasi terbaru. Pada seri iPhone 15, varian 128GB kini dibanderol Rp12.999.000 naik dari bulan sebelumnya Rp11.999.000, diikuti varian 256GB yang naik menjadi Rp15.249.000, dan varian 512GB menyentuh Rp18.499.000.
Tren serupa terjadi pada iPhone 16 reguler yang mengalami lonjakan merata sebesar Rp500.000 hingga Rp1.000.000 pada seluruh kapasitas penyimpanan, serta iPhone 17 varian 256GB yang ikut merangkak naik menjadi Rp17.999.000.
Kontras dengan model reguler, konsumen yang mengincar layar lebih besar dapat memanfaatkan koreksi harga pada lini iPhone 16 Plus. Varian terendah iPhone 16 Plus 128GB kini turun menjadi Rp16.499.000 dari bulan lalu yang mencapai Rp16.999.000. Penurunan paling tajam terjadi pada kapasitas 512GB yang merosot hingga Rp2,5 juta, menetap di angka Rp20.499.000 dari harga sebelumnya Rp22.999.000.
Sementara itu jika ditarik kebelakang, iPhone konsisten naik selama periode Januari-Mei 2026.
Lonjakan harga paling signifikan terlihat pada generasi yang lebih tua, sementara lini terbaru mengalami kenaikan harga yang moderat namun konsisten di seluruh varian kapasitas penyimpanan.
Sebagai contoh, varian standar generasi teranyar, iPhone 17 berkapasitas 256 GB, dibanderol Rp17.999.000 pada Mei 2026. Angka ini mencatatkan pertumbuhan harga positif alias naik sebesar 4,34% dari banderol akhir Januari 2026 yang berada di level Rp17.249.000. Tren serupa diikuti oleh iPhone 17 varian 512 GB yang naik 3,40% menjadi Rp22.749.000 dari harga sebelumnya Rp21.999.000.
Kenaikan harga yang cukup tajam justru melanda lini iPhone 15. Untuk varian iPhone 15 128 GB, harganya melonjak dari Rp11.249.000 pada awal tahun menjadi Rp12.999.000 pada akhir Mei ini. Penyesuaian tersebut mencerminkan pertumbuhan harga yang melesat hingga 15,55%, menjadi persentase kenaikan tertinggi di antara seluruh model yang ada.
Tidak ketinggalan, portofolio iPhone 16 ikut merangkak naik dalam 4 bulan terakhir. Varian dasar iPhone 16 128 GB saat ini dipasarkan seharga Rp15.499.000, tumbuh sebesar 10,71% dari posisi Januari 2026 yang senilai Rp13.999.000. Untuk kasta tertinggi, iPhone 17 Pro Max dengan kapasitas penyimpanan 2 TB, per Mei 2026 dipatok seharga Rp45.249.000, atau mengalami kenaikan 2,84% dari harga awal tahun sebesar Rp43.999.000.
Di sisi lain, iBox memberikan pemotongan harga untuk model yang lebih lawas seiring dengan berjalannya siklus produk. Efek ini paling terasa pada iPhone 14 kapasitas 128 GB yang kini dilepas ke pasar dengan harga Rp8.749.000. Angka tersebut menyusut atau minus 10,25% jika disandingkan dengan harga Januari 2026 yang bertengger di angka Rp9.749.000. Penurunan harga juga dialami oleh lini iPhone 15 Plus 128 GB yang terkoreksi sebesar 7,40% menjadi Rp12.499.000 dari semula Rp13.499.000.
Salah satu lini produk smartphone Samsung
Sementara itu Samsung mengerek varian tertinggi Galaxy S26 Ultra dengan kapasitas penyimpanan 12/512GB menembus angka Rp27.499.000 pada Mei 2026, mengalami kenaikan tajam dari harga April yang berada di posisi Rp22.999.000. Langkah penyesuaian serupa juga diikuti oleh varian reguler Galaxy S26 12/512GB yang merangkak naik ke level Rp19.499.000 dari harga sebelumnya Rp14.999.000.
Tren kenaikan ini tidak hanya mengunci seri paling gres, melainkan turut mengerek harga generasi pendahulunya, Galaxy S25 Series. Model Galaxy S25 Ultra 12/512GB kini dipatok Rp25.999.000 atau naik tipis Rp1.000.000 dari bulan April. Untuk varian Galaxy S25 reguler 12/256GB warna Navy, harga pasar saat ini bertengger di angka Rp14.999.000, naik dari posisi April senilai Rp13.329.900. Adapun untuk model Fan Edition, varian Galaxy S25 FE kapasitas 512GB dan 256GB terpantau stabil masing-masing pada level Rp15.499.000 dan Rp12.499.000.
Daftar Harga iPhone dan Samsung Galaxy yang mengalami kenaikkan
Update Harga iPhone dan Samsung Galaxy
Berikut adalah daftar harga smartphone Samsung seri A, S, dan Z pada Juni 2026:
Samsung Galaxy S Series
Samsung Galaxy S26 Ultra 12/512GB — Rp27.499.000 naik dari April Rp22.999.000
Samsung Galaxy S26 12/512GB —Rp19.499.000 naik dari April Rp14.999.000
Samsung Galaxy S25 Ultra 12/512GB — Rp25.999.000 naik ari April Rp24.999.000
Samsung Galaxy S25 12/256GB - Navy —Rp14.999.000 naik dari April Rp13.329.900
Samsung Galaxy S25 FE /512GB— Rp15.499.000
Samsung Galaxy S25 FE /256GB - Navy — Rp12.499.000
Samsung Galaxy Z Series
Samsung Galaxy Z Fold7 12/256GB - Silver — Rp28.499.000
Samsung Galaxy Z Fold7 12/512GB - Silver — Rp27.999.000
Pasar elektronik tertekan akibat kelangkaan cip dan pelemahan rupiah, memicu kenaikan harga dan potensi PHK. Produsen fokus pada produk premium dan efisiensi. [785] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Konflik geopolitik global, kelangkaan komponen, hingga pelemahan nilai tukar rupiah disinyalir menekan pasar elektronik. Kondisi tersebut memicu kenaikan biaya impor, mengganggu rantai pasok global, hingga menahan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Tekanan tersebut tercermin dari proyeksi sejumlah pelaku industri teknologi global. Samsung Display Corporation (SDC), misalnya, mengakui permintaan pasar untuk televisi layar kecil dan menengah masih lemah di tengah kenaikan harga memori dan ketidakpastian pasar yang berlanjut hingga semester II/2026.
Pada kuartal I/2026, SDC membukukan pendapatan konsolidasi sebesar KRW6,7 triliun dengan laba operasional KRW0,4 triliun. Bisnis layar kecil dan menengah mengalami penurunan pendapatan akibat faktor musiman serta kenaikan harga memori, sedangkan bisnis layar besar masih ditopang permintaan monitor gaming OLED.
SDC memperkirakan, visibilitas pasar layar kecil dan menengah masih rendah hingga akhir tahun, sehingga perusahaan akan fokus pada produk premium dan ekspansi OLED untuk menjaga pertumbuhan pendapatan.
“Pada kuartal kedua tahun 2026, bisnis layar kecil dan menengah SDC akan fokus pada penjualan di segmen kelas atas yang relatif tangguh meskipun permintaan pasar secara keseluruhan lemah,” bunyi laporan Samsung Electronics, beberapa waktu lalu.
Tekanan serupa juga terlihat pada industri perangkat komputer dan tablet global. International Data Corporation (IDC) memangkas proyeksi pengiriman PC global 2026 menjadi minus 11,3%, jauh lebih dalam dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar minus 2,4%.
IDC juga memperkirakan pengiriman tablet turun 7,6% tahun ini akibat kekurangan memori, kenaikan harga komponen, dan gangguan rantai pasok global yang diperkirakan berlanjut hingga 2027. Eskalasi konflik di Timur Tengah turut memperbesar tekanan terhadap industri, termasuk teknologi dan perangkat keras global.
“Industri teknologi secara keseluruhan, serta banyak industri lainnya, terus menghadapi hambatan yang tak terkendali, jika digabungkan, mengakibatkan gangguan besar,” ujar Wakil Presiden Grup, Perangkat, dan Konsumen IDC, Ryan Reith.
Harga Diprediksi Naik
Di Indonesia, tekanan global hingga lemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, berpotensi memicu Imported inflation, terutama untuk produk yang masih bergantung pada bahan baku, penolong, maupun konsumsi.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut, biaya distribusi akan meningkat, kelangkaan barang tertentu, serta pelemahan rupiah akan mulai mendorong kenaikan harga barang dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Salah satu yang mulai terdampak ialah plastik dan bahan kemasan yang banyak digunakan pada industri elektronik.
“Barang elektronik juga akan terdampak karena sebagian besar komponennya masih impor. Pasti akan membuat harga dari elektronik buatan dalam negeri akan lebih mahal,” jelasnya.
Nailul menilai, produsen elektronik kini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, biaya produksi meningkat akibat kurs rupiah yang melemah. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat belum cukup kuat untuk menerima kenaikan harga secara agresif.
Kondisi itu membuat banyak produsen atau vendor memilih menahan harga jual dengan konsekuensi margin usaha semakin tertekan. Jika tekanan berlanjut, pelaku industri diperkirakan akan melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.
“Ketika permintaan turun, potensi PHK sangat tinggi. Saya khawatir PHK akan memburuk dua hingga tiga bulan ke depan,” katanya.
Dia menambahkan, strategi substitusi impor untuk produk elektronik terutama lokal belum efektif dalam jangka pendek lantaran industri domestik masih belum mampu memasok komponen utama seperti chip dan semikonduktor.
“Seharusnya ini jadi alarm bagi pemerintah. Pemerinta harus benahi faktor dasar pelemahan rupiah, yaitu sisi fiskal yang buruk pengelolaannya. Tanpa itu, insentif apapun tidak akan efektif,” tegas Nailul.
Di pasar smartphone, tekanan rupiah juga mulai memengaruhi strategi vendor. Analis Pasar Smartphone Indonesia Aryo Meidianto Aji mengatakan, hampir seluruh komponen smartphone masih menggunakan denominasi dolar AS, mulai dari chipset, memori, layar, hingga baterai.
Menurutnya, vendor yang masih mengandalkan impor utuh atau completely built up (CBU) berpotensi menaikkan harga jual antara 5% hingga 15%, tergantung segmen produk.
“Biaya produksi naik karena kurs, sementara daya beli masyarakat belum pulih 100%. Vendor terpaksa akan menaikkan harga atau mengurangi bonus penjualan. Akibatnya, permintaan pasar pasti akan tertahan,” sebut Aryo..
Dia juga mengatakan, konsumen kini cenderung menunda pergantian smartphone. Jika sebelumnya siklus pergantian perangkat berada di kisaran 12–18 bulan, kini dapat mundur hingga lebih dari 24 bulan.
Sementara itu, Aryo menyampaikan bahwa segmen entry-level hingga low-mid dengan rentang harga Rp1,5 juta hingga Rp3 juta menjadi yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah karena sangat sensitif terhadap kenaikan harga. “Naik Rp100.000 sampai Rp200.000 saja bisa membuat konsumen batal membeli,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, tren pergeseran konsumen ke smartphone entry-level dan perangkat second diperkirakan semakin kuat. Konsumen dinilai mulai mencari alternatif yang lebih terjangkau di tengah keterbatasan daya beli.
Aryo juga menilai vendor dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih tinggi memiliki daya tahan lebih baik terhadap fluktuasi kurs dibandingkan merek yang masih bergantung besar pada impor. Menurutnya, produsen dengan fasilitas manufaktur lokal memiliki bantalan biaya lebih kuat karena sebagian proses produksi menggunakan rupiah, sehingga memiliki ruang lebih luas untuk menjaga stabilitas harga jual di pasar domestik.
Nvidia menunda produksi massal GPU GeForce RTX 60 hingga 2028 akibat kelangkaan cip dan prioritas pada chip AI yang lebih menguntungkan. [492] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Nvidia dilaporkan menunda peluncuran kartu grafis baru bagi segmen gaming. Penundaan tersebut mencakup pembatalan lini produk "Super" untuk seri RTX 50 serta pengunduran jadwal produksi massal generasi penerus, seri RTX 60.
Pergeseran prioritas ini berakar pada krisis rantai pasokan global, khususnya pada komponen memori. Kapasitas DRAM yang tersedia di pasar saat ini diserap secara agresif oleh infrastruktur kecerdasan artifisial (AI), menyebabkan pasokan untuk pasar konsumen menjadi sangat terbatas.
Laporan tersebut menyoroti bahwa prioritas Nvidia kini bergeser drastis seiring dengan tingginya profitabilitas sektor AI.
Melansir dari Gizmodo, Senin (9/2/2026), meskipun Nvidia menyalahkan pasokan memori sebagai penyebab utama hambatan distribusi, perusahaan secara implisit mengalokasikan kapasitas produksi yang ada untuk chip pelatihan AI yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Keterbatasan kapasitas manufaktur di Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) turut memperburuk situasi. Dengan slot produksi yang terbatas, Nvidia memilih mengalokasikan sumber daya silikon untuk GPU AI dibandingkan kartu grafis gaming.
Laporan yang beredar akhir tahun lalu, yang kini dikonfirmasi oleh sumber industri, menyebutkan bahwa Nvidia berencana memangkas produksi GPU gaming hingga 40% pada 2026.
Sebelumnya, pelaku pasar menaruh harapan pada penyegaran lini produk "Super" untuk seri RTX 50, seperti RTX 5070 Ti atau RTX 5080 Super. Rumor pasar sempat menyebutkan varian RTX 5070 Super akan hadir dengan VRAM 18 GB dan RTX 5080 dengan 24 GB.
Namun, realitas ekonomi pasar memori membuat eksekusi rencana tersebut menjadi tidak layak. Meningkatkan kapasitas VRAM pada kartu grafis konsumen di tengah harga modul yang melambung dinilai tidak efisien dari sisi biaya produksi.
Kenaikan biaya komponen tersebut dikhawatirkan akan membuat harga jual produk menjadi tidak kompetitif di pasar ritel. Selain itu, seri RTX 50 yang ada saat ini dinilai sudah memiliki performa overclocking yang andal, sehingga varian "Super" dianggap tidak akan memberikan nilai tambah signifikan untuk mendorong volume penjualan.
Absennya pengumuman produk konsumen dari Nvidia pada ajang CES 2026 menjadi indikator kuat perubahan strategi tersebut. Siklus ini berbeda dengan pola sebelumnya, di mana Nvidia meluncurkan seri RTX 40 pada Oktober 2022 dan merilis versi Super pada Januari 2024.
Penundaan ini juga berdampak pada peta jalan jangka panjang perusahaan. Seri RTX 60, yang awalnya dijadwalkan memulai produksi massal pada akhir 2027, kini diperkirakan baru akan terealisasi paling cepat pada 2028.
Posisi Nvidia di segmen high-end yang belum tergoyahkan memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk menahan peluncuran produk baru. Hingga kini, pesaing utama mereka, AMD, belum memberikan tekanan signifikan terhadap model flagship Nvidia seperti GeForce RTX 5090.
AMD sendiri juga menghadapi tantangan serupa terkait kenaikan harga komponen dan masalah memori pada lini produk RX 9070 dan RX 9060 XT. Minimnya informasi mengenai generasi GPU AMD berikutnya, RDNA5 atau UDNA, mengindikasikan bahwa seluruh industri sedang mengalami tekanan rantai pasokan yang sama.
Analis memprediksi bahwa tahun 2026 dan sebagian besar 2027 akan menjadi periode yang menantang untuk mendapatkan pasokan DRAM dengan harga wajar. Tiga produsen utama DRAM seperti SK Hynix, Samsung, dan Micron, sedang berupaya mengoperasikan pabrik baru, namun output tersebut diprediksi akan tetap didominasi oleh permintaan pasar server AI.
Polytron menunda rilis laptop baru akibat kelangkaan cip dan RAM. Penundaan ini memengaruhi jadwal peluncuran dan harga jual, meski permintaan pasar positif. [462] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Kelangkaan pasokan komponen utama seperti cip dan Random Access Memory (RAM) berdampak pada peluncuran laptop terbaru Polytron. Kondisi tersebut memaksa produsen elektronik nasional ini menyesuaikan ulang jadwal rilis produk, meskipun permintaan pasar dinilai cukup positif.
Commercial Director Polytron Tekno Wibowo menyampaikan bahwa keterbatasan suplai memori saat ini menjadi hambatan paling signifikan. Sebagai pemain baru di segmen laptop, Polytron belum memiliki keleluasaan untuk memperoleh alokasi pasokan besar dari prinsipal komponen global.
“Tantangannya hari ini kan supply memory terbatas, sehingga kita cukup kesulitan juga karena kita kan baru mulai nih. Baru mulai mau minta berapa (komponen) kan nggak dikasi," ujar Tekno saat berbincang dengan Bisnis di kawasan Melawai, Selasa (20/1/2025).
Tekno menjelaskan, keterbatasan cip dan RAM membuat perusahaan tidak dapat merealisasikan rencana peluncuran produk baru sesuai jadwal awal. Polytron semula menargetkan peluncuran laptop terbaru pada kuartal pertama tahun ini, namun rencana tersebut terpaksa ditunda.
“Masalah chip mungkin akan menunda lah, tapi kita tetap kejar. Cuma waktunya mungkin kita harus nge-plan agak mundur dikit," tuturnya.
Penundaan ini terjadi di tengah upaya Polytron membangun pijakan di pasar laptop nasional. Meski penjualan laptop yang sudah diluncurkan sebelumnya dinilai cukup baik, kesinambungan pasokan komponen menjadi faktor penentu ekspansi ke depan.
Selain memengaruhi waktu peluncuran, tekanan pada sisi pasokan juga berpotensi berdampak pada harga jual. Tekno mengungkapkan adanya kemungkinan penyesuaian harga laptop Polytron di kisaran 5% hingga 10% sebagai konsekuensi dari naiknya biaya dan terbatasnya ketersediaan komponen.
Sementara itu, perusahaan juga menargetkan pertumbuhan penjualan laptop hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan catatan rantai pasok global mulai membaik.
“Laptop kita sebetulnya sudah targetin untuk bisa menjadi tiga kali lipat dari tahun 2025, tapi ya baik lagi kita nanti tergantung pada supply-nya," sebut Tekno.
Sebelumnya, Polytron resmi memperluas portofolio produk teknologi konsumen dengan meluncurkan lini laptop pertamanya, Polytron Luxia, pada Agustus 2025. Luxia hadir alam tiga model dengan fokus segmen berbeda.
Pertama, Luxia i3 yang diposisikan sebagai model entry-level untuk pelajar dan pengguna umum, varian ini menggunakan prosesor Intel Core i3 generasi terbaru dan menawarkan performa yang memadai untuk aktivitas produktif sehari-hari dengan layar 14 inci beresolusi WUXGA dan RAM yang bisa di-upgrade. Harganya dibanderol Rp5,4 jutaan guna menarik first-time buyer.
Model kedua yakno Luxia Pro i5. Menargetkan kreator konten dan profesional muda, model ini dibekali prosesor Intel Core i5, unit grafis terintegrasi yang lebih kuat, serta RAM 16GB untuk kebutuhan multitasking dan pengolahan grafis ringan. Bobotnya di bawah 1 kg memperkuat daya tarik mobilitasnya, dengan harga sekitar Rp7,5-7,9 jutaan tergantung konfigurasi penyimpanan.
Terakhir, Luxia Pro Ultra 5. Seri tertinggi ini dibekali prosesor kelas atas, dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan grafis yang lebih mumpuni. Dirancang untuk profesional yang memerlukan performa tinggi sekaligus mobilitas, perangkat ini dipasarkan dengan harga Rp10,9 jutaan saat peluncurannya.
Pedagang HP di mal menghadapi penurunan penjualan akibat harga naik karena kelangkaan cip dan ekonomi melemah, mempengaruhi daya beli konsumen. [477] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar smartphone Indonesia memasuki 2026 dengan harga perangkat yang makin mahal imbas kelangkaan cip. Para pedagang HP ritel di pusat-pusat perbelanjaan elektronik melaporkan adanya penurunan penjualan sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan pengakuan pedagang di lapangan, penjualan ponsel secara keseluruhan pada 2025 tercatat menurun jika dibandingkan dengan capaian penjualan pada 2024.
Penurunan ini dirasakan cukup tajam, di mana tahun 2025 dianggap lebih berat bagi pelaku usaha dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada pendapatan yang makin ramping.
Tekanan terhadap pasar ritel ini tidak datang secara tiba-tiba di awal tahun baru. Para pedagang mengungkapkan bahwa harga ponsel sebenarnya sudah mulai merangkak naik sejak akhir tahun lalu.
“Dari sebelum pergantian tahun sebetulnya harga HP sudah mulai naik,” kata Lili pedagang HP di Supermall Karawaci Tangerang ke Bisnis Senin (05/01/2026).
Dia mengungkapkan fenomena ini terlihat pada berbagai merek besar seperti Oppo dan Vivo yang telah menaikkan harga jual produk mereka sebelum Desember.
Pedagang ponsel juga mengakui tidak memiliki pilihan selain mengikuti arus kenaikan harga tersebut.
"Mau tidak mau harus ngikut (harga). Kalau dia naik ya naik," tambahnya.
Kenaikan harga di tingkat ritel lokal ini merupakan dampak langsung dari gejolak rantai pasok dunia. Melansir dari Bisnis, International Data Corporation (IDC) memperkirakan lonjakan harga smartphone tahun ini akibat kekurangan Random Access Memory (RAM) karena fokusnya pabrikan besar terhadap kecerdasan artifisial (AI).
Pasokan RAM yang biasanya dialokasikan untuk perangkat konsumen seperti ponsel, kini bergeser secara besar untuk mendukung pusat data AI yang membutuhkan daya pemrosesan tinggi.
Lili menilai penyebab lesunya penjualan di pasar juga terpengaruh karena kondisi ekonomi Indonesia yang sedang melemah.
Hal ini secara langsung menggerus daya beli masyarakat terhadap barang mewah seperti smartphone. Menurutnya, pembelian kini lebih didasarkan pada kebutuhan mendesak, bukan lagi gaya hidup.
Selain itu, dalam keterbatasan anggaran dan harga HP yang kian mahal, preferensi konsumen terbagi menjadi dua segmen yang jelas berdasarkan tingkat pemahaman teknologi mereka.
Bagi masyarakat awam atau mereka yang membutuhkan ponsel untuk berdagang, spesifikasi utama yang dicari adalah kualitas kamera dan kapasitas RAM.
“Kebanyakan sih orang-orang intinya kamera sama RAM yang dibutuhkan mereka,”
Kelompok itu cenderung mengabaikan detail teknis lainnya seperti chipset, asalkan kapasitas memori besar dan hasil foto yang bagus untuk disebarkan di sosial media.
Sebaliknya, konsumen yang lebih mengerti teknologi, seperti pelajar atau gamers, memiliki prioritas yang berbeda. Mereka lebih fokus mencari prosesor yang mumpuni untuk mendukung kinerja berat dan bermain game, di samping kapasitas RAM yang memadai.
Namun, bagi pasar low entry, loyalitas terhadap merek atau brand masih mendominasi keputusan pembelian. Merek-merek ternama masih menjadi pilihan utama meskipun spesifikasinya standar.
Menghadapi tahun 2026, industri smartphone dunia diprediksi akan mengalami penurunan pengiriman sebesar 2,1%. Bagi pasar Indonesia, kombinasi antara harga komponen yang meroket akibat AI dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya. Tentunya hal ini menuntut ketahanan ekstra dari para pelaku ritel untuk tetap bertahan di tengah badai ekonomi teknologi ini. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)