Pelajar di SMAN 72 Jakarta terlibat ledakan bom rakitan yang membuat heboh masyarakat. Simak fakta-fakta ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta. [1,307] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku insiden peledakan di masjid SMAN 72 Jakarta akhirnya terkuak. Polisi mengatakan pelaku peledakan ternyata pelajar yang saat ini sudah ditetapkan sebagai anak berkonflik hukum (ABH).
Pelaku ditetapkan sebagai ABH setelah kepolisian melakukan pemeriksaan hingga penyitaan barang bukti. Di samping itu, penggeledahan juga sempat dilakukan penyelidik ke rumah pelaku.
Dalam hal ini, pelaku dipersangkakan melanggar dua pasal yakni dari Pasal 80 Ayat 2 Juncto 76C UU Perlindungan Anak jo Pasal 355 KUHP dan Pasal 187 KUHP serta Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat RI.
Lantas, bagaimana fakta-fakta terkait dengan peristiwa ledakan yang menghebohkan masyarakat tersebut?
Simak 6 Fakta Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta
1. Detik-detik Ledakan di Masjid SMAN 72
Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading Jakarta Utara terjadi pada Jumat pekan lalu (7/11/2025). Berdasarkan CCTV yang telah diamankan, mulanya pelaku terlihat sudah berada di sekolah sejak pukul 06.28 WIB.
Nampak, pelaku yang juga siswa itu mengenakan seragam sekolah. Dia juga terlihat menggendong tas punggung berwarna merah, menenteng tas warna biru pada tangan kirinya dan mengenakan sepatu hitam.
Selanjutnya, dia melintas ke koridor ruangan kepala sekolah dan sempat berpapasan dengan seorang wanita berbaju merah, rok hitam, dan berjilbab. Terlihat, tas biru yang dijinjing dengan tangan kiri jadi berpindah ke tangan kanan.
"Ini yang kami duga adalah guru dari sekolah tersebut. Masih bertegur sapa," kata Direktur Ressiber Polda Metro Jaya, Kombes Roberto GM di Polda Metro Jaya pada Selasa (11/11/2025).
Selanjutnya, sekitar 11.43 WIB, CCTV memperlihatkan pelaku menuju ke masjid. Usai masuk masjid, pelaku mulai melakukan pemantauan kondisi baik itu di luar dan di dalam.
Pada 12.02 WIB, pelaku kemudian nampak sudah mengganti baju seragamnya dengan memakai celana hitam, kaos putih dan menenteng senjata mainan.
Sementara itu, di tangan kirinya nampak pelaku sudah membawa remote kecil untuk meledakkan bom rakitan di dalam masjid.
"Sudah melepas baju seragamnya dan terlihat menuju ke arah lorong, arah ke arah masjid dengan memakai celana hitam, kaos putih, dan menggendong senjata mainan," tutur Roberto.
Tak lama dari pergantian baju itu, dari arah masjid kemudian terlihat cahaya warna merah disertai ledakan dan asap berwarna putih. Pelaku pun nampak berlari keluar dari dalam masjid usai terjadi ledakan itu.
"Terakhir bahwa pada pukul 12.03 WIB, para siswa berlari berhamburan meninggalkan masjid ke arah kamera. Ter-cover dengan channel 30 lorong lantai satu timur dua," pungkasnya.
Adapun, khusus ledakan di TKP Taman Baca dan Bank Sampah, ledakan bom rakitan itu sempat mengenai pelaku sendiri. Hanya saja, kepolisian masih mendalami apakah hal tersebut memang disengaja atau tidak disengaja.
2. Bom Rakitan dan Mekanisme Peledakan
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Pol Henik Maryanto mengatakan secara total ada tujuh bom rakitan yang ditemukan dalam peristiwa ini.
Dari tujuh bom rakitan itu, tiga diantaranya belum meledak. Adapun, total ada TKP ledakan dalam perkara ini, pertama di Masjid dan kedua di area taman baca sekolah atau bank sampah.
"Jadi dari tujuh, empat yang meledak, tiga yang masih aktif sudah kita kembalikan di Markas Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya," ujar Henik di Polda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).
Dia menjelaskan, bom rakitan itu memiliki inisiator elektrik, receiver dengan daya enam volt, bahan peledak yang mengandung potasium klorat. Bom rakitan ini memiliki bungkus yang berbeda.
Perinciannya, TKP 1 bom rakitan ini dibungkus dengan jerigen plastik. Total ada dua bom dalam TKP masjid ini. Pelaku meledakan bom dari tempat bank sampah menggunakan remote kontrol.
"Dapat disimpulkan untuk di TKP pertama di masjid, bahwa berdasarkan material yang ditemukan, rangkaian tersebut adalah rangkaian bom aktif dengan menggunakan remote," tutur Henik.
Selanjutnya, di TKP 2 terdapat lima bom. Empat bom di bank sampah yang dibungkus dengan kaleng minuman. Sementara itu, satu bom lagi dibungkus dengan pipa besi.
Adapun, untuk bom di TKP Bank Sampah dan Taman Baca memakai mekanisme sumbu api memakai pemantik langsung oleh pelaku.
"Jadi kalau tidak dibakar ya bom itu tidak meledak. Namun yang dua itu dibakar oleh terduga pelaku. Kemudian explosifnya sama, menggunakan potassium chloride," pungkasnya.
3. Motif Pelaku Peledakan
Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri mengemukakan berdasarkan hasil penyelidikannya, pelaku dikenal sebagai orang yang tertutup dan menyukai hal-hal ekstrem.
"ABH yang terlibat dalam kasus ledakan ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup, jarang bergaul, dan dia juga memiliki ketertarikan pada konten kekerasan serta hal-hal yang ekstrem," ujar Asep di Polda Metro Jaya, Rabu (12/11/2025).
Tercatat, pelaku sudah merasa tertekan, memiliki perasaan tertindas sejak awal tahun. Menurut Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin, hal itu menjadi persoalan karena tidak memiliki tempat berkeluh kesah di lingkungannya.
"Yang bersangkutan merasa sendiri, kemudian merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesah. Baik itu di lingkungan keluarga, kemudian di lingkungannya sendiri, kemudian lingkungan sekolah," ujar Iman.
Di lain sisi, pelaku pun tertarik dengan konten kekerasan ekstrem dan bergabung dalam komunitasnya di media sosial. Dalam forum itu, konten kekerasan ekstrem bakal diapresiasi karena dianggap sebagai tindakan heroik.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025)/Bisnis-Anshary Madya Sukma
4. Terinspirasi dari 6 Tokoh
Selain dorongan emosi itu, pelaku juga melakukan tindakannya karena terinspirasi dari enam tokoh yang dikenal dengan aksi kekerasan ekstrem hingga pembunuhan.
Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana mengatakan hal tersebut diketahui setelah pihaknya melakukan penyelidikan serta mendapat temuan tulisan tokoh itu pada senjata mainan pelaku.
"Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat," ujar Mayndra di Polda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).
Enam tokoh itu, yakni Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan massal di Columbine High School, AS, 1999, penganut neo-Nazi.
Kemudian, Dylann Storm Roof, pelaku penyerangan gereja di Charleston, AS, 2015, penganut supremasi kulit putih. Selanjutnya, Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid di Quebec, Kanada, 2017, dikenal karena Islamofobia ekstrem.
Selanjutnya, Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan massal Politeknik Kerch, Crimea, 2018; Brenton Tarrant, pelaku serangan masjid Christchurch, Selandia Baru, 2019; dan Natalie Lynn 'Samantha' Rupnow, pelaku penembakan sekolah di Madison, AS, 2024.
5. Bukan Jaringan Teroris
Mayndra menambahkan pihaknya telah melakukan gelar perkara dengan Polda Metro Jaya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) hingga Kejaksaan RI untuk mengungkap peristiwa ini.
Hasilnya, dari gelar itu telah menyimpulkan bahwa kejadian ini tidak berkaitan dengan jaringan teroris apapun.
"Sampai saat ini tidak ditemukan aktivitas terorisme yang dilakukan ABH, jadi murni tindakan yang dilakukan adalah tindakan kriminal umum," ujar Mayndra.
Dia juga mengungkapkan fenomena peniruan kekerenan ini dikenal dengan istilah memetic violence daring. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan seseorang karena meniru atau terinspirasi oleh konten, ideologi, atau tokoh tertentu yang ditemui, secara online.
Pada intinya, Polisi menilai pelaku meniru tindakan dari tokoh inspirasinya untuk melakukan tindakan kekerasan ekstrem.
"Yang bersangkutan hanya mempelajari kemudian mengikuti beberapa tindakan ekstremisme yang dilakukan bahkan posenya kemudian beberapa simbol yang ditemukan itu sekedar menginspirasi," pungkasnya.
6. KPAI Turun Tangan
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah menyatakan bakal secara langsung melakukan pendampingan terkait penanganan medis dan psikis untuk siswa yang telah menjadi korban ledakan.
Selain itu, KPAI juga bakal melakukan pengawasan terhadap seluruh proses hukum pelaku yang kini berstatus anak berkonflik hukum.
"Tentu yang tidak boleh ditinggalkan adalah pendampingan hukum dalam seluruh tahap atau proses pemeriksaan persidangan nanti," ujar Maryati di Polda Metro Jaya.
Di samping itu, KPAI juga akan mendorong untuk proses hukum pelaku dengan mengutamakan keadilan secara restoratif.
Sebab, kata Maryati, bagaimanapun proses hukum pelaku ini tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Adapun, proses hukum ABH juga harus mengacu pada UU No.11/2012 tentang sistem peradilan pidana anak.
"Undang-undang perlindungan anak dimana lebih mengutamakan proses diversi dan keadilan restoratif," pungkasnya.
Sekadar informasi, secara total peristiwa ini telah menyebabkan 96 korban luka. Dari jumlah itu, 68 orang diantaranya telah diperbolehkan pulang. Sementara itu, 28 orang lainnya masih menjalani perawatan. Perinciannya, 13 orang di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih; satu orang di Rumah Sakit Polri, dan 14 orang di Rumah Sakit Yarsi