Bisnis.com, BATAM - Pemerintah Kota (Pemkot) Batam tengah mempercepat langkah penanganan sampah seiring meningkatnya jumlah volume harian yang kini telah mencapai 1.185,94 ton atau setara dengan 432.868,72 ton per tahun.
Menurut Wali Kota Batam Amsakar Achmad, penyebab meningkatnya lonjakan volume sampah di Batam adalah karena sejumlah faktor seperti keterbatasan armada dan minimnya sebaran Tempat Penampungan Sementara (TPS).
"Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Telaga Punggur terus menyusut, dan terus mendapat tekanan karena beroperasi selama 24 jam penuh," kata Amsakar di Batam, Selasa (18/11/2025).
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam mencatat sebagian armada pengangkutan mulai dari compactor hingga dumptruck sudah memasuki usia tidak layak pakai sehingga memperlambat distribusi sampah dari sumber, TPS, hingga ke TPA.
Sementara itu, pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi memperluas wilayah layanan dan volume harian, membuat kebutuhan akan sistem pengelolaan yang lebih efisien menjadi semakin mendesak.
Amsakar menjelaskan salah satu langkah yang disiapkan adalah penguatan struktur teknis melalui pembentukan UPTD Pengelolaan Sampah di 3 wilayah, sebagaimana diatur dalam Perwako Batam Nomor 99 Tahun 2025.
Pembagian wilayah teknis ini ditujukan untuk memperpendek rantai koordinasi, meningkatkan kendali lapangan, dan mempercepat respons di daerah yang mengalami penumpukan.
Di sisi operasional, pemerintah menetapkan sistem pengangkutan dua shift, yakni pengumpulan dari sumber ke TPS pada pukul 06.00–18.00 WIB, serta pemindahan dari TPS ke TPA pada pukul 18.00–06.00 WIB.
"Skema ini dirancang untuk memperlancar aliran sampah, mengurangi antrean kendaraan di TPA, serta memanfaatkan jam operasional malam untuk distribusi yang lebih longgar," ucap dia.
Pemkot Batam juga menyiapkan pembangunan 3 TPS baru yang dilengkapi fasilitas pembakaran sebagai fasilitas pemrosesan awal.
Infrastruktur ini diproyeksikan mengurangi beban angkut, menekan penumpukan di lingkungan padat penduduk, dan memberikan opsi pengolahan alternatif selain penimbunan konvensional.
Untuk kebutuhan anggaran, pemerintah mengalokasikan Belanja Tidak Terduga (BTT) guna mempercepat pengadaan sarana dan prasarana.
"Saya minta para camat memetakan kebutuhan armada, lokasi TPS yang dapat difungsikan segera, serta titik-titik rawan yang membutuhkan intervensi prioritas," ungkapnya.
Selain penanganan teknis, Pemkot Batam mengaktifkan gerakan gotong royong serentak di seluruh kecamatan, termasuk Belakangpadang dan Galang.
Langkah ini diambil untuk mempercepat pembersihan wilayah terdampak penumpukan sambil melibatkan partisipasi masyarakat, komunitas lingkungan, pramuka, mahasiswa, dan Satgas Kebersihan.
Dalam kerangka kebijakan jangka menengah, Batam akan memperkuat edukasi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, menerapkan penegakan aturan berdasarkan perda persampahan, serta mulai mengadopsi teknologi pengolahan modern di TPA Punggur.
Serangkaian langkah tersebut diarahkan untuk menstabilkan kondisi persampahan kota, mengurangi risiko penumpukan berulang, dan memastikan alur pengelolaan lebih terukur di tengah pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat.
"Kami menargetkan sesegera mungkin, seluruh keputusan yang dihasilkan dalam rakor dapat langsung dieksekusi untuk meminimalkan dampak lingkungan maupun gangguan layanan kebersihan di Batam," katanya.