Banjarbaru (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyebut sektor kehutanan menjadi penopang ketahanan pangan nasional karena menentukan stabilitas tata air, kesuburan tanah, dan keseimbangan iklim di tengah ancaman perubahan lingkungan global.
“Saat ini pemerintah menempatkan program FOLU Net Sink 2030 tidak hanya sebagai agenda pengendalian emisi karbon, tetapi juga strategi memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional melalui pengelolaan hutan yang lestari dan produktif,” kata dia saat menyampaikan kuliah umum di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin.
Ia menjelaskan hutan tidak dapat dipandang sekadar kumpulan vegetasi, melainkan infrastruktur ekologis yang menjaga siklus tata air, melindungi keanekaragaman hayati, mempertahankan kesuburan lahan, dan menopang stabilitas iklim yang berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan sistem pangan nasional.
“Ancaman triple planetary crisis berupa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi tantangan serius bagi sektor pangan karena kerusakan hutan dapat meningkatkan risiko banjir, kekeringan, hingga penurunan produktivitas pertanian di berbagai wilayah Indonesia,” ujarnya.
Hanif menegaskan pemerintah terus memperkuat implementasi FOLU Net Sink 2030 melalui rehabilitasi hutan dan lahan, restorasi gambut dan mangrove, pengembangan perhutanan sosial, serta multiusaha kehutanan berbasis pangan yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan sebagai bagian pembangunan ekonomi hijau nasional.
Ia juga mendorong generasi muda kehutanan memperkuat inovasi dan riset pengelolaan hutan lestari agar mampu menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan sumber daya alam pada masa mendatang.
Rektor ULM Prof Ahmad Alim Bachri mengatakan isu ketahanan pangan dan keberlanjutan kehutanan menjadi tantangan strategis yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat melalui penguatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Menurut dia, Fakultas Kehutanan ULM memiliki peran penting menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan agar mampu menjawab tantangan pembangunan sektor kehutanan dan pangan di masa depan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Fathimatuzzahra mengatakan materi yang disampaikan Wamenko Pangan RI dalam kuliah umum itu sejalan dengan implementasi program FOLU Net Sink 2030 yang dijalankan pemerintah provinsi setempat melalui berbagai kegiatan pengelolaan hutan pada sejumlah wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan di Kalimantan Selatan.
“Program tersebut meliputi rehabilitasi hutan dan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, fasilitasi Kelompok Tani Hutan, hingga meninjau dan evaluasi kegiatan FOLU untuk menjaga fungsi ekologis kawasan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan,” ujar dia.
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026