Bisnis.com, JAKARTA — Konsep pernikahan saat ini semakin menyesuaikan karakter calon pengantin, baik dari pilihan warna, dekorasi, hingga skala acara yang digelar.
Head of Content Hilda by Bridestory, Noel Monique Renzita, mengatakan tren pernikahan pada dasarnya terbentuk dari preferensi pasangan itu sendiri. Jika pengantin memilih busana dengan warna tertentu, dekorasi biasanya akan diarahkan agar tetap selaras tanpa terlihat bertabrakan.
“Kalau mereka bajunya warna biru, kita pasti mengarahkan dekornya jangan warna biru. Tapi tetap trennya ngikutin dari mereka juga sih. Jadi tren itu sendiri dibentuk karena dari pengantin tersebut,” ujarnya kepada Bisnis saat ditemui di Bridestory Market, Tangerang, Kamis (12/2/2026).
Untuk tahun ini, pihaknya mengusung tema Petal Dreamscape, yakni eksplorasi instalasi bunga yang lebih imajinatif dan berani. Konsep tersebut menghadirkan suasana yang lebih dreamy dengan permainan elemen flora yang tidak lagi monoton, termasuk penempatan vertikal dan ukuran instalasi yang lebih besar sehingga memberi kesan artistik.
“Kalau tahun ini kita memperlihatkan tema Petal Dreamscape. Eksplorasi floranya lebih imajinatif dan instalasinya juga lebih berani. Tapi tetap dikembalikan lagi ke kebutuhan dan kepribadian pengantinnya,” katanya.
Terkait pergeseran dari pesta megah ke konsep yang lebih intim, Noel menilai perubahan tersebut bukan hambatan bagi penyelenggara pernikahan. Menurut dia, pasar untuk pernikahan besar maupun intimate tetap ada, hanya preferensinya yang berbeda.
“Sebenernya dari kita nggak masalah. Mau skalanya besar atau intimate tetap bisa kita akomodir. Kebutuhannya saja yang disesuaikan, misalnya undangan digital atau sewa busana,” jelasnya.
Pilihan venue pun semakin beragam, mulai dari hotel hingga chapel atau restoran dengan kapasitas terbatas.
Selain itu, Noel melihat calon pengantin dari generasi Z kini mulai mendominasi perencanaan pernikahan. Meski sempat muncul anggapan minat menikah menurun, dia berharap berbagai inspirasi konsep baru tetap bisa mendorong minat pasar dan menjaga pergerakan industri pernikahan.
Tren anak muda yang memilih menikah sederhana di KUA dan menggelar intimate wedding mempengaruhi pola industri pernikahan pada 2026, meski dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan.
Dilansir dari data.goodstats.id menunjukkan sebanyak 45% responden memilih konsep pernikahan sederhana. Angka tersebut terdiri dari 41% responden Gen Z dan 50% Milenial. Preferensi ini mencerminkan kecenderungan generasi muda yang lebih mengutamakan esensi dan makna acara dibandingkan kemegahan pesta.
Selain itu, 19% responden menyatakan ingin menikah dengan adat tradisional, dengan rincian 23% dari Gen Z dan 15% dari Milenial. Temuan ini menunjukkan masih adanya perhatian terhadap pelestarian budaya dalam prosesi pernikahan.
Sementara itu, 12% responden memilih menikah langsung di Kantor Urusan Agama (KUA), 11% menginginkan konsep modern, 4% memilih tema kasual, 4% mengusung tema unik, dan sisanya menginginkan pesta pernikahan mewah.
Data tersebut bersumber dari survei Jakpat yang melibatkan 907 responden lajang pada 26–30 Juni 2025. Survei dilakukan secara daring melalui aplikasi mobile Jakpat dengan margin of error di bawah 5%.
Khusus untuk pertanyaan mengenai gaya pernikahan impian, sebanyak 798 responden yang sudah memiliki rencana matang untuk menikah dilibatkan dalam analisis.
Menanggapi tren tersebut, Senior Wedding Consultant Hilda by Bridestory, Meyliana Tanoto, mengatakan konsep intimate wedding memang masih diminati pasangan saat ini.
“Kalau dibilang intimate wedding, betul masih jadi tren sampai sekarang,” ujarnya kepada Bisnis saat ditemui di Bridestory Market, Tangerang, Kamis (12/2/2026).
Menurut dia, pernikahan di KUA bukanlah fenomena baru. Bagi pasangan Muslim, pencatatan pernikahan di KUA merupakan kewajiban administratif.
“Semua pernikahan yang beragama Muslim memang harus diurus ke KUA. Jadi sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru,” katanya.
Meski demikian, Meyliana mengakui terdapat penurunan jumlah pesta pernikahan berskala besar dibandingkan sebelumnya, walaupun tidak terlalu tajam.
“Memang ada penurunan, pasti ada. Tapi tidak yang signifikan,” jelasnya.
Dia menyebut, jika sebelumnya sekitar 80% pasangan menggelar resepsi dalam skala lebih besar, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 20% yang memilih konsep lebih sederhana atau terbatas.
Meski begitu, industri pernikahan dinilai masih bergerak cukup baik pada tahun ini. Permintaan disebut tetap stabil, terutama setelah periode Lebaran.
“So far di 2026, setelah Lebaran malah masih oke banget,” tuturnya.
Menurutnya, pasangan saat ini lebih selektif dalam mengatur anggaran dan konsep acara, namun tetap menempatkan momen sakral pernikahan sebagai prioritas utama.