Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan makroekonomi dan perubahan lanskap industri teknologi informasi (TI) mendorong lonjakan kasus kebangkrutan di kalangan perusahaan swasta di Amerika Serikat sepanjang 2025.
Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, terdapat 30 permohonan pailit dari perusahaan TI swasta AS dengan total kewajiban mencapai US$2,46 miliar untuk tahun kedua berturut-turut. Separuh dari total pengajuan tersebut berasal dari perusahaan perangkat lunak aplikasi.
Salah satu kasus terbesar adalah Anthology Inc. yang mengajukan kebangkrutan pada September 2025. Perusahaan penyedia teknologi pendidikan berbasis software-as-a-service (SaaS) itu kemudian merampungkan restrukturisasi dan keluar dari Bab 11 sebelum berganti nama menjadi Blackboard pada Maret 2026.
Memasuki kuartal I/2026, sektor ini masih mencatat pengajuan baru, yakni dari Archblock Inc. dan Gas Pos Inc., yang masing-masing bergerak di bidang solusi blockchain serta sistem point-of-sale.
Sementara itu, sepanjang 2025, hanya dua emiten yang tercatat di bursa mengajukan kebangkrutan dengan total kewajiban US$100,7 juta, tertinggi sejak 2023. Keduanya adalah Wolfspeed Inc. dan DZS Inc.
Analisis ini mencakup perusahaan publik maupun swasta dengan ambang batas aset atau kewajiban tertentu, termasuk pengajuan pailit sukarela.
Senior Managing Director di FTI Consulting, Justin Eisenband, menilai tekanan pailit di antara perusahaan TI AS berasal dari kombinasi faktor makro dan dinamika spesifik industri. Salah satu pemicu terbesar adalah tingginya biaya modal, terutama bagi perusahaan yang melakukan pembiayaan pada periode 2021–2022 dengan skema utang berbunga mengambang.
Kenaikan suku bunga membuat beban bunga melonjak dan mempersempit ruang likuiditas. “Selama ada struktur bunga atau pertumbuhan yang tidak sesuai ekspektasi, bisa banyak struktur modal yang terlalu sarat utang,” ujar Eisenband, dikutip dari S&P Global, Kamis (23/4/2026).
Dari sisi kinerja, perusahaan perangkat lunak swasta juga mengalami perlambatan pertumbuhan yang signifikan. Jika pada awal 2022 pertumbuhan pendapatan bisa mencapai 30%–35%, maka pada akhir 2025 hanya berada di kisaran 10%–15%.
Meski margin EBITDA mulai membaik hingga sekitar 10%, perlambatan tersebut tetap menekan valuasi. Rasio valuasi terhadap pendapatan berulang tahunan turun menjadi 5–6 kali dari sebelumnya sekitar 10 kali. Perusahaan yang sebelumnya dinilai dengan asumsi ekspansi agresif kini dipaksa untuk segera mencapai profitabilitas.
"Profitabilitas meningkat, tetapi laju pertumbuhan melambat. Valuasi turun berdasarkan pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat," tutur Eisenband.
Penurunan valuasi ini juga berdampak pada berkurangnya minat investor atau sponsor untuk menyuntikkan modal tambahan, sehingga perusahaan dengan tingkat utang tinggi makin berisiko menjalani restrukturisasi.
Eisenband memprediksi tantangan sektor TI masih berlanjut. Investasi pada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi kebutuhan sekaligus tekanan baru.
Dia berpandangan perusahaan TI harus mengalokasikan dana untuk mengembangkan produk berbasis AI dan memodernisasi teknologi di tengah perubahan model penetapan harga yang justru menekan pendapatan.
Selain itu, biaya akuisisi pelanggan meningkat, sementara pertumbuhan pelanggan baru melambat. Upaya meningkatkan pendapatan dari pelanggan eksisting pun menghadapi kendala karena banyak perusahaan melakukan konsolidasi platform dan efisiensi belanja teknologi.
Eisenband memperkirakan aktivitas restrukturisasi akan tetap tinggi, meski tidak seluruhnya berujung pada kebangkrutan formal. Transaksi merger dan akuisisi (M&A) dinilai menjadi alternatif bagi perusahaan yang mengalami tekanan keuangan.
“Seiring valuasi dan munculnya penetapan harga yang realistis, lebih banyak perusahaan mungkin akan bertransaksi dengan valuasi lebih rendah daripada melalui proses kepailitan,” katanya.