Bisnis.com, SURABAYA – United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia menunjuk Kota Surabaya sebagai satu dari sekian wilayah yang dijadikan sebagai pilot project program penanganan sampah plastik sungai, yang berfokus pada pengurangan sampah yang masuk ke sungai sebelum bermuara ke laut sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Project Manager UNDP Indonesia Ahmad Bahri Rambe menjelaskan bahwa program yang dirancang sebelumnya bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan Kementerian Lingkungan Hidup itu diinisiasi karena tingginya kebocoran sampah plastik ke sungai yang berdampak pada banyak hal. Di antaranya pencemaran lingkungan, penurunan kualitas air, meningkatnya risiko banjir, gangguan kesehatan masyarakat, serta pencemaran laut akibat aliran sampah dari sungai.
"Karena kita melihat isu sampah di sungai ini masih menjadi pekerjaan rumah yang berat ketika kita dapati di daerah-daerah ini antar dinas-dinas juga masih belum jelas siapa penanggung jawab untuk pengelolaan sampah di sungai," tutur Bahri dalam peluncuran "Partnership for Preventing the Riverine Plastic Pollution" di Gedung Bappeda Kota Surabaya, Jumat (5/6/2026).
Bahri menjelaskan pada April 2024, Pemerintah RI dan Uni Emirat Arab (UEA) kemudian bersepakat dan menandatangani kerja sama pendanaan, di mana UNDP ditunjuk sebagai pelaksana program tersebut di Indonesia. Menurutnya, dukungan tersebut sangat krusial bagi upaya penanganan sampah di sungai yang terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya.
"Jadi, kita di-support oleh Uni Arab Emirates, dan ini baru pertama kali Uni Arab Emirates membantu untuk bidang pengelolaan sampah ini," tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, UNDP bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian LH menetapkan delapan titik kabupaten/kota sebagai lokasi percontohan, seperti Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Surakarta, hingga Badung. Bahri menjelaskan alasan Kota Pahlawan terpilih menjadi kota pertama pelaksanaan program tersebut karena memiliki komitmen kuat dalam upaya pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Usai melalui kajian dan diskusi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, program tersebut akan fokus untuk diimplementasikan di kawasan Kali Tebu yang terletak di wilayah Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran serta Kali Mrutu, Wonokusumo, Kecamatan Semampir.
"Saat kita lihat Surabaya sebenarnya relatif bersih. Pertama kali yang kita usulkan itu Kalimas. Ternyata Kalimas sudah bersih. Setelah kita diskusi, kita menemukan ternyata Kali Tebu ini yang masih menjadi pekerjaan rumah di Surabaya. Kemudian diusulkan satu lagi yaitu Kali Mrutu. Nah, dua sungai ini yang akan menjadi wilayah kerja program pengelolaan sampah dengan dua mitra yang telah kami tunjuk, yakni Ecoton dan Lohjinawi," paparnya.
Program yang akan berlangsung hingga Juli 2027 itu selain fokus melakukan pengelolaan sampah, tetapi juga melakukan pendampingan masyarakat, pengurangan sampah, serta penguatan sistem pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan sungai.
Menurut Bahri, pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada pembersihan sungai semata, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan lewat kolaborasi yang terbangun antara masyarakat dan pemerintah.
"Jadi, saya pikir semuanya berharap supaya sungai kita menjadi bersih dan kalau sampah sudah masuk ke sungai terus berakhir ke lautan, ini yang berat. Mari kita secara bersama-sama menjaga lingkungan kita Surabaya yang sudah hebat ini mari kita buat jadi lebih hebat lagi, lebih bersih lagi," jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya M Fikser menjelaskan bahwa program tersebut relevan dan sejalan dengan upaya dari Pemkot Surabaya dalam memutus mata rantai pencemaran sampah plastik yang mengancam ekosistem air darat wilayah urban.
Menurutnya, sampah yang berhasil diangkat dari sungai tidak langsung dibuang ke TPS. Namun, dipilah dan dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai ekonomi yang berarti bagi warga sekitar.
"Dari hasil sampah yang diambil itu ternyata dilakukan pemilahan dan dimanfaatkan warga lokal. Sampah-sampah itu disortir, kemudian dipilah lagi, di-packing, dan kemudian dijual," tambahnya.
Guna mengurangi timbulan sampah, Pemkot Surabaya saat ini telah melakukan implementasi program-program pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Kampung Zero Waste dan Program Kampung Iklim (Proklim).
"Kita akan memperkuat di hulu, kita harus tekan untuk sampah dari rumah tangga. Sekarang sudah mulai jalan ya di Surabaya Kampung Zero Waste, Kampung Proklim. Jadi Pak Wali Kota menginginkan kepada kami Dinas Lingkungan Hidup, sampah harus berkurang 40%," terangnya.
Fikser mengungkapkan produksi sampah di Surabaya saat ini mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari catatan tersebut, sekitar 200 ton di antaranya dikelola melalui TPS 3R maupun sektor informal. Sementara kurang lebih 1.000 ton sampah dikirim ke TPA Benowo untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan energi listrik melalui gasifikasi.
“Masih ada sekitar 600 ton yang masuk ke landfill. Karena itu kami mendukung pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik agar volume sampah yang dibuang ke TPA bisa semakin berkurang,” jelasnya.
Sejauh ini, lanjut Fikser, hasil pemantauan di Kali Tebu menunjukkan volume sampah yang berhasil ditangkap tercatat mencapai satu ton per hari. Namun, angka tersebut diharapkan dapat semakin menurun seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan kelestarian lingkungan.
"Karena sampah itu kotor, ada trash boom yang membikin bau, memang sengaja kita teror di sana. Supaya orang rasa bau, melihat kotor, kalau kotor itu begini, yang bersih ini. Kita kasih bersih, mereka kan tahu kalau buang sampah kotor di situ kan menimbulkan persoalan baru. Ini membuat kami punya pikiran sederhana nanti kita pasang trash boom di setiap kelurahan. Jadi akan ketahuan warga mana yang buang sampah sembarangan di sungai," pungkasnya.