JAKARTA, KOMPAS.com - Harga Bitcoin (BTC) terkoreksi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, namun analis menilai tren penguatan masih berpeluang berlanjut hingga akhir tahun.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya percaya pada narasi optimisme jangka pendek.
Alih-alih mengejar kenaikan, pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan menunggu perkembangan lebih lanjut dari dinamika geopolitik global, sebelum menentukan arah tren berikutnya.
Kondisi ini terlihat ketika harga Bitcoin turun dari kisaran 68.000 dollar AS ke sekitar 66.000 dollar AS setelah pasar merespons negatif pernyataan Trump yang tidak memberikan kepastian de-eskalasi konflik dengan Iran.
Padahal sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar masih mengantisipasi perang akan segera berakhir sehingga mendorong reli pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lain.
"Pasar sebelumnya sudah mengantisipasi kemungkinan de-eskalasi konflik, sehingga sebagian besar sentimen positif sebenarnya sudah tecermin dalam harga," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, koreksi ini menandai rapuhnya sentimen pasar.
Sebab, data intraday menunjukkan bahwa reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat.
Indikator Cumulative Volume Delta (CVD) menunjukkan dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan, sementara On-Balance Volume (OBV). Hal ini mengindikasikan adanya distribusi aset, di mana pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga untuk keluar dari posisi, bukan menambah eksposur.
Sementara tekanan eksternal turut memperparah kondisi.
Lonjakan harga minyak di atas 5 persen, penguatan dollar AS, dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto.
Di pasar derivatif, sinyal kehati-hatian juga menguat.
Open interest futures Bitcoin menurun cepat, diikuti pelemahan volume transaksi, mencerminkan berkurangnya agresivitas trader di tengah ketidakpastian makro.
Fyqieh menilai, kondisi ini mencerminkan fenomena sell the news, di mana ekspektasi positif telah lebih dulu diantisipasi pasar tapi tidak diikuti oleh realisasi yang sesuai.
"Ketika pidato Trump tidak memberikan kepastian, pelaku pasar memilih untuk mengurangi risiko. Ini terlihat dari dominasi distribusi volume dan penurunan open interest di pasar derivatif," ungkapnya.
Fyqieh memperkirakan, dalam jangka pendek Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil.
"Selama Bitcoin masih berada di bawah area resistance 70.000-75.000 dollar AS, pergerakan harga cenderung sideways dengan risiko koreksi lanjutan, terutama jika tekanan makro seperti kenaikan harga energi dan suku bunga terus berlanjut," jelasnya.
Dalam skenario negatif, Bitcoin berpotensi menguji kembali area support di kisaran 60.000 dollar AS, bahkan hingga 40.000-60.000 dollar AS jika tekanan geopolitik meningkat dan likuiditas pasar menurun.
Namun, jika konflik mulai mereda dan likuiditas global kembali meningkat, Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat secara bertahap.
Dalam jangka menengah hingga akhir 2026, prospek Bitcoin masih relatif positif.
Beberapa proyeksi menunjukkan harga berpotensi berada di kisaran 80.000-100.000 dollar AS sebagai skenario dasar, dengan potensi kenaikan lebih tinggi jika didukung oleh arus masuk institusi dan stabilitas makroekonomi.
"Secara fundamental, Bitcoin masih didukung oleh narasi jangka panjang seperti adopsi institusional dan efek pasca-halving. Namun dalam jangka pendek, pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Artinya, volatilitas masih akan menjadi karakter utama dalam beberapa bulan ke depan," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang