Bisnis.com, JAKARTA - Saham PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) keluar dari daftar indeks LQ45. Meski demikian, keluarnya saham peritel perkakas itu dari kelompok saham elit alias blue chip dinilai bukan mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai faktor utama di balik keluarnya ACES dari indeks unggulan murni disebabkan oleh aspek likuiditas perdagangan saham.
Menurut Wafi, tekanan jual yang terjadi dalam jangka pendek lebih merupakan dampak dari rebalancing portofolio investor institusi. Kondisi tersebut justru menciptakan peluang, karena valuasi saham ACES menjadi lebih menarik di tengah fundamental bisnis yang masih solid.
“Keluarnya ACES murni faktor likuiditas bukan fundamental,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Dari sisi katalis, Wafi menyoroti momentum musiman pada awal tahun yang berpotensi menopang kinerja perusahaan. Perayaan Imlek dan Lebaran yang jaraknya berdekatan secara historis mendorong peningkatan belanja rumah tangga, khususnya untuk kebutuhan renovasi rumah serta aktivitas mudik.
Namun demikian, tantangan tetap membayangi kinerja ACES ke depan. Persaingan dengan peritel barang murah dinilai semakin ketat, terutama di tengah daya beli kelas menengah yang masih relatif rapuh. Selain itu, risiko pelemahan nilai tukar Rupiah juga menjadi perhatian, mengingat sebagian besar produk ACES masih bergantung pada impor dalam penyediaan produk.
Dengan mempertimbangkan faktor peluang dan risiko tersebut, KISI Sekuritas merekomendasikan buy saham ACES dengan target harga di level 470.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) tetap memiliki prospek positif pada 2026, meskipun industri ritel modern masih diwarnai persaingan yang ketat.
Strategi ekspansi agresif dan rebranding dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan dalam jangka menengah.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis, menyebutkan bahwa pembukaan 27 toko baru sepanjang 2025 menjadi pendorong utama perluasan jaringan ACES. Pada saat yang sama, keberhasilan rebranding Azko yang telah menjangkau 15 wilayah lapis kedua dan ketiga memperluas cakupan pasar ke daerah-daerah dengan penetrasi ritel modern yang masih rendah.
“Strategi ini efektif untuk memperbesar addressable market sekaligus mengurangi ketergantungan pada kota-kota besar yang tingkat persaingannya jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Dari sisi makroekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal diharapkan mampu mendorong pemulihan daya beli masyarakat. Jika daya beli membaik, kinerja pendapatan atau top line ACES berpotensi meningkat. Namun, Kiwoom Sekuritas mengingatkan bahwa risiko tetap ada apabila pemulihan konsumsi tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Meski demikian, efisiensi yang dihasilkan dari proses rebranding dinilai dapat menjaga kinerja laba bersih perusahaan. Dengan kata lain, tekanan dari sisi pendapatan masih dapat diimbangi oleh perbaikan struktur biaya sehingga bottom line tetap terjaga.
Untuk 2026, kinerja ACES diproyeksikan tumbuh secara moderat. Tantangan utama diperkirakan masih berasal dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi menekan konsumsi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan trading buy saham ACES dengan target harga di kisaran 422–426, serta area support pada level 388–384.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.