Bisnis.com, JAKARTA — Prinsip meritokrasi dinilai perlu menjadi fokus utama dalam penunjukan Luke Thomas Mahony menjadi Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) alih-alih status kewarganegaraannya.
Pakar manajemen sumber daya manusia (SDM), Yodhia Antariksa menilai pengisian jabatan strategis seharusnya berlandaskan prinsip meritokrasi. Integritas, kompetensi, rekam jejak, dan kapasitas kepemimpinan menjadi pertimbangan yang lebih penting dibandingkan kewarganegaraan seseorang.
Menurutnya, apabila Luke Thomas memiliki pengalaman panjang di sektor sumber daya alam serta memahami rantai pasok ekspor komoditas, penunjukan tersebut dapat dipandang sebagai langkah menghadirkan kepemimpinan yang profesional di DSI.
"Jika Luke Thomas memang memiliki pengalaman panjang di sektor sumber daya alam dan memahami rantai pasok ekspor komoditas, maka penunjukan tersebut dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan kepemimpinan yang profesional," kata Yodhia dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Dia menjelaskan DSI akan mengelola aktivitas ekonomi bernilai sangat besar yang berkaitan langsung dengan penerimaan negara. Pengelolaannya harus ditopang sistem yang kuat, tata kelola yang baik, pengambilan keputusan berbasis data, serta akuntabilitas yang tinggi.
Menurutnya, profesionalisme menjadi fondasi penting agar keputusan bisnis tidak dipengaruhi kepentingan jangka pendek maupun kepentingan kelompok tertentu. Praktik penggunaan talenta global juga telah menjadi hal yang lazim diterapkan berbagai perusahaan milik negara maupun sovereign wealth fund di sejumlah negara.
Meski demikian, Yodhia mengingatkan kualitas pemimpin hanya menjadi salah satu faktor keberhasilan DSI. Jika pembentukan DSI ditujukan memperkuat pengawasan ekspor dan menutup kebocoran penerimaan negara, faktor penentu utamanya tetap berada pada tata kelola dan sistem yang dibangun sejak awal.
Dia menilai desain SDM DSI harus mengedepankan meritokrasi melalui rekrutmen berbasis kompetensi dan integritas, target kinerja yang terukur, sistem remunerasi yang kompetitif, serta budaya organisasi yang menjunjung transparansi dan profesionalisme.
"Keberhasilan DSI nantinya tidak akan ditentukan oleh satu orang pemimpin, tetapi oleh kualitas tim, tata kelola, dan sistem yang dibangun sejak awal," katanya.
Sebelumnya, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan pemilihan Luke Thomas dilakukan setelah mempertimbangkan rekam jejaknya di industri pertambangan dan perdagangan komoditas global.
Sebelum ditunjuk memimpin DSI, Luke menjabat sebagai SEVP Business Performance & Optimization Danantara Indonesia sejak September 2025 serta pernah menjadi Direktur sekaligus Chief Strategy and Technical Officer PT Vale Indonesia Tbk. pada 2024–2025.