Bisnis.com, JAKARTA – Implementasi strategi Next Gen Siloam dengan transisi menuju operating archetype yang lebih fokus pada segmen pasien yang dituju menjadi salah satu pendongkrak kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) sepanjang 2025.
Presiden Direktur Siloam Davidi Utama mengatakan tahun lalu perseroan sudah memulai implementasi strategi Next Gen Siloam, dengan transisi menuju operating archetype yang lebih terfokus pada segmen pasien yang dituju.
"Hal ini memungkinkan penyelarasan yang lebih baik atas kapabilitas klinis, alokasi modal, dan sumber daya operasional untuk mendukung ekspansi yang berkelanjutan," kata Davidi dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (31/3/2026).
Dia menegaskan perbaikan kinerja secara bertahap serta momentum positif hingga awal 2026 semakin memperkuat keyakinan manajemen bahwa transisi archetype tersebut berjalan sesuai rencana dan mulai memberikan hasil secara terukur.
Hal itu diharapkan bisa menempatkan Siloam di posisi yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang lebih terfokus dan berkelanjutan ke depan.
Adapun, Next Gen Siloam mencakup konsep rumah sakit masa depan atau hospital of the future, dengan Siloam berkembang menjadi ekosistem layanan kesehatan yang berbasis AI dan data, serta fokus pada pasien.
Tujuannya adalah untuk menghadirkan keunggulan operasional, hasil klinis berstandar global, serta pertumbuhan yang berkelanjutan.
Salah satu bagian dari Next Gen Siloam juga adalah MRCCC (Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center) telah meluncurkan integrated CT-LINAC pertama di Asia Tenggara, yang menandai kemajuan signifikan dalam kapabilitas radioterapi.
"Sebagai LINAC (linear accelerator) ketiga di rumah sakit tersebut, teknologi ini mengintegrasikan pencitraan CT dengan terapi radiasi dalam satu alur kerja, didukung oleh perencanaan berbasis AI, sehingga memungkinkan penyesuaian secara real-time terhadap kondisi pasien, meningkatkan presisi, mempercepat waktu perawatan, serta meminimalkan paparan terhadap jaringan sehat," kata Davidi.
Tahun lalu, SILO juga membuka Siloam Hospitals Surabaya berkapasitas bangunan dua kali lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Rumah sakit ini didukung oleh lebih dari 200 dokter spesialis dan dilengkapi dengan teknologi mutakhir, termasuk pengembangan Mochtar Riady Center for Advanced Care (MRCAC), yang semakin memperkuat layanan perawatan lanjutan bagi masyarakat Jawa Timur.
Secara operasional, SILO mencatat jumlah rawat inap sebesar 317.900, hari perawatan 1,01 juta hari, dan kunjungan rawat jalan sebanyak 4,35 juta kunjungan. Saat ini, kapasitas tempat tidur SILO mencapai 4.310 tempat tidur dengan tingkat hunian 64,2%.
Berdasarkan Laporan Keuangan, total pendapatan SILO tumbuh 5,24% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp12,84 triliun pada 2025.
Perinciannya, pendapatan spesialis senilai Rp2,90 triliun dan pendapatan non-spesialis senilai Rp9,94 triliun.
Selanjutnya, EBITDA tumbuh 18,3% yoy menjadi Rp2,89 triliun pada 2025 dari posisi pada tahun sebelumnya Rp2,44 triliun. Marjin EBITDA turut membaik dengan kenaikan 3,2% yoy menjadi 29,1% pada 2025 dari sebelumnya 25,9%.
SILO membukukan beban pokok pendapatan senilai Rp7,9 triliun pada 2025. Beban usaha tercatat Rp3,02 triliun dan beban lain-lain mencapai Rp245,23 miliar. Laba usaha SILO tercatat Rp1,67 triliun atau naik dari posisi pada tahun 2024 yang senilai Rp1,42 triliun.
Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat 23,47% yoy menjadi Rp1,11 triliun pada 2025 dari tahun sebelumnya Rp902,15 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.